Membaui Aroma Karsa



Lanjut membaca, oke, jadi saya sedang membaca buku yang judulnya adalah “Aroma Karsa” karya Dee Lestari. Inget banget deh dulu sepertinya saya suka baca-baca novel begini jaman SMA. Sekian lama tidak membaca novel ternyata selera saya juga sudah mulai bergeser. Awalnya excited dan merasa tertarik banget saat membacanya. Mulai dari gaya penulisan, lalu banyaknya informasi-informasi baru yang bisa di dapat dari membaca buku ini, kekayaan bahasa yang dimiliki si penulis mampu menyenangkan hati pembacanya.

Hanya saja yaa, namanya juga novel pasti ada bumbu nya. Nah ternyata selera saya sudah tidak begitu senang mengecap rasa dari bumbu ini. Yang saya maksud di sini adalah bagian dari cerita bahwa.. bahwa ada tokoh wanita sebagai tokoh utamanya, Tanaya Suma. Tokoh wanita ini sudah punya kekasih, kemudian baru bertemu dengan tokoh utama laki-laki, Jati Wesi.

Huftt, mulai lah ada percikan-percikan api asmara diantara Suma dan Jati. Kenapa sih harus begitu, kenapa tidak membiarkan sepasang kekasih yang sudah bersama agar adem tenteram. Bahkan biarpun ini sebuah novel, apakah tidak bisa mempertimbangkan unsur keharmonisan sebuah jalinan kasih mereka?

Eiitss tapi secara keseluruhan ceritasaya suka buku ini. Ide ceritanya menarik, memadukan berbagai unsur petualangan, sejarah, cerita rakyat, keluarga dan cinta. Misteri tentang sebuah wangi tunggal dari sebuah bunga yang dikatakan memiliki kekuatan dahsyat dan mampu mengubah dunia, serta tercatat dalam sejarah Kerajaan Majapahit dengan sukses menjadi daya tarik yang memikat. Puspa Karsa, begitu nama bunga itu disebutkan berulang-ulang dalam buku ini. Merupakan perwujudan semacam dewa-dewi yang menampakkan dirinya dalam bentuk bunga.

Kepentingan seorang wanita bernama Raras Prayagung membulatkan tekat memberangkatkan sebuah tim ekspedisi dengan jumlah orang yang sedikit. Berangkat menuju suatu lokasi yang tertuliskan dalam sebuah lontar dan prasasti sejarah, menuju satu lokasi yang sering kita dengar, Gunung Lawu. Gunung yang walaupun sudah ramai dikunjungi oleh para pendaki, namun dikenal masih memiliki seribu misteri di dalamnya.

Berangkat dari rasa penasaran terkait misteri yang berada di Gunung Lawu dan didukung kemampuan si penulis dalam penuturannya yang runtut dan begitu jelas. Mengantarkan sekaligus mengikat saya untuk terus meneruskan membaca hingga pada halaman terakhir cerita ini dituliskan. Misteri yang tertuang dan secara perlahan mulai terlihat membuat hati pembaca merasakan sensasi gemas. Hahaha. Apakah hanya saya atau pembaca yang lain juga merasakan hal yang sama?

Sesuai dengan judulnya, cerita dalam buku ini sendiri mengangkat ide cerita mengenai aroma, kemampuan membaui. Seperti demikianlah yang disampaikan sang penulis di bagian belakang buku ini. Anyway dari pada penasaran seperti apa sih ceritanya, langsung cari buku nya dan bacalah. Selamat membaca, love.

Thankyou Aroma Karsa.



Menunggangi Ombak bersama Ocean Melody



Hari ini tgl 14 desember 2018 aku baru saja menyelesaikan (membaca) bukunya kak Gemala, Ocean Melody judulnya. Bercerita tentang pengalaman-pengalaman, cara dia melakukan surfing dan menunggangi ombak-ombak. Beberapa hal sederhana yang mungkin cerita seperti ini mudah membuat bosan. Sempat berfikir ending seperti apa yang akan disuguhkan buku ini, akan kah menjemukan dan datar. Nyatanya, aku menyukai bagian akhirnya, bagaimana ia menutup cerita yang dia suguhkan. Sederhana namun menginspirasi.

Cover book, gemes yaa.

Loh kok tau-tau jadi cerita endingnya doang ya? Hehehe.. jadi nih ceritanya menarik buat aku yang memang cinta air laut. Tuh kan, jadi kangen banget main slulup-slulup di air laut, panas matahari yang terik menjadi tak apalah, nikmati saja! Perpaduan pasir pantai yang putih, air laut yang masyaAllah alangkah jernihnya, panas matahari yang walaupun menyengat tapi sukses bikin happy, belum lagi pemandangan bawah lautnya yang aduhai. Aku bersyukur banget, pakai banget.

Hemm, tapi di buku ini yang dibahas adalah surfing, bukan diving seperti yang ku lakukan, hehe. Menarik banget sih, bagaimana kak Gemala menyampaikan mulai dari proses belajar, konsisten latihan, mulai memasuki dunia pekerjaan dan surfing menjadi bagian dari hembusan nafas dan hidupnya. Belum lagi, cara dia menggambarkan berbagai macam jenis ombak yang dia temui dan tunggangi. Sebenarnya saya yang penyelam dan menyukai air tenang, jelas saja takut mendengar betapa bergejolak nya tempat dia bermain. Tapi anehnya mampu membuat saya penasaran, walaupun sepertinya masih lebih besar rasa takut nya, hanya saja jika memang datang kesempatan itu di depan mata, yaa akan tetap dicoba juga. Apa yang salah dari mencoba, yakan?

Doi juga cerita-cerita tentang tempat-tempat surfing paling jempolan di Indonesia. Diantaranya, Cimaja di Jawa Barat, lalu Nembrala, Pulau Rote, Nias, Bali, Lombok, dan pantai Srau di daerah Pacitan. Wah sempat juga katanya ikut kompetisi di dalam kondisi ombak yang pecah gila-gilaan.

Mengikuti cerita dan baca jengkal demi jengkal, seperti apa perasaan yang dirasakan ketika kak Gemala. Yang seorang profesional surfer saja sebenarnya selalu mengalami ketakutan. Disetiap ombak dan tempat-tempat baru yang dia kunjungi, pada setiap kompetisi yang dia ikuti, pada tekanan-tekanan pekerjaan yang mengharuskannya mengambil ombak dengan proporsi yang tepat. Ternyata masih dan selalu diikuti perasaan takut. Perasaan yang menyelinap perlahan tetapi pasti. Aku mendadak jadi teringat kalau selalu nervous juga ketika menunggu waktu diving. Entah kenapa ada seperti perasaan takut, mual, ter-intimidasi. Apaan ya, kenapa ada perasaan ter-intimidasi segala coba? Hahaha.

Hal paling menarik dari membaca buku seperti ini tuh, kita jadi menemukan atau bisa dibilang mendapati diri kita mulai merasa berapi-api. Perasaan berapi-api, walau kecil namun muncul terus. karena terpacu untuk mampu melakukan dan memiliki semangat juang serupa seperti apa yang dikisahkan di dalam buku tersebut. Yasudah begitu dulu deh ceritanya, monggo dibaca sendiri. Menarik dan menginspirasi. Love.



Cerita dari Negeri Atap Dunia – Alaya



Okay then, i want to write about “Alaya” a book that told me a story about traveling to the roof of the world, Tibet.

IMG_20181115_142945
cover buku

Jadi hari itu saya lagi senggang dan otaknya lagi abstrak banget tidak tahu mau ngapain. Kluyuran naik motor siang hari, pamit mau ke kostan teman di Tembalang yang hanya berjarak beberapa menit dari rumah di Banyumanik. Eh tapi si teman saya malah entah kemana susah pula di hubungi, padahal panas sekali hari itu. Saya juga hanya pakai celana rumah-an dan kaos biasa tidak pakai jaket. Akhirnya memutuskan untuk mengarahkan stank motor menuju Gramedia di tengah kota Semarang. Yang perjalanannya membutuhkan waktu hingga 20 menit ditemani keramaian kendaraan lainnya.

Berputar-putar lah saya di toko buku mencari yang mana ingin saya bawa pulang sebagai teman sebelum tidur. Alaya – cerita dari negeri atap dunia karangan Daniel Mahendra menjadi satu dari dua buku yang saya timang menuju kasir dan akhirnya saya bawa pulang. Buku ini menceritakan tentang perjalanan seseorang menuju dataran tinggi di China bernama Tibet. Banyak buku dengan cerita-cerita menarik berderet di barisan yang sama dengan Alaya ini.

Tanpa sadar saya teringat bahwa saya pernah membuat daftar keinginan, dan di dalam catatan hal-hal yang ingin saya lakukan itu ternyata ada nama daerah bernama Tibet yang ingin saya kunjungi. Tidak perlu banyak pertimbangan saya langsung mengambil, membaca keterangan yang tertera di cover belakangnya sebentar dan kemudian melanjutkan mencari calon bacaan lain sambil tetap menimang si Alaya.

Judul : Alaya – cerita dari negeri atap dunia

Pengarang : Daniel Mahendra

Penerbit Epigraf, tebal 413 halaman, harga di pulau jawa Rp 99.000

Butuh waktu delapan belas hari untuk saya membaca habis 413 halaman buku ini. Menarik. Awalnya saya pikir hanya akan seperti cerita perjalanan biasa. Perjalanan yang mudah dan selalu menggembirakan, di bumbuhi dengan beberapa kejadian biasa yang diangkat sedikit lebih atraktif agar terasa menarik. Ternyata isinya lebih kepada catatan perjalanan dan beberapa renungan hidup sang penulis yang bergejolak dalam dirinya secara pribadi. Selain cerita perjalanan juga ada sedikit-sedikit catatan kecil untuk anaknya yang bernama Sekala. Manis dan berkarakter juga ternyata buku ini.

Selain cerita yang sarat makna juga buku ini dipenuhi berbagai informasi. Yaap, informasi bagaimana cara-cara yang memungkinkan kita untuk menuju Tibet, kota di tempat tinggi yang dalam bayangan saya terdapat desa dengan suasana hangat menyenangkan di tengah-tengah pegunungan salju yang dingin. Itu yang saya bayangkan. Sepertinya dulu saya lihat secuil gambaran itu dari sebuah majalah travel and adventure. Lain halnya dengan si penulis buku yang saya baca. Pemicu keinginannnya menuju Tibet adalah buku cerita petualangan Tintin di Tibet. Ada yang pernah baca atau tahu cerita itu? Saya pribadi sepertinya tidak pernah tahu, mungkin suatu saat nanti akan tahu juga hahaha.

Mulai dari pilihan jalur yang bisa digunakan untuk menuju Tibet, agen travel, pembuatan visa, informasi harga, maskapai, tempat penginapan, serta berbagai hal lain yang bisa membantu para pembaca untuk memahami kondisi penulis dan seperti apa kondisi perjalanannya. Tidak melulu tempat wisata yang di kunjungi seindah apa yang dibayangkan, malah jauh dari keadaan ideal yang disimpan lekat-lekat dalam otaknya selama ini. Adalah ekspektasi tinggi yang seringkali membuat kenyataan jadi terasa hambar atau bahkan membuatmu tersenyum kecut karena kurang sesuai dengan apa yang kamu harapkan. Hal seperti itulah yang sempat di lalui oleh si om Daniel Mahendra.

Selain menceritakan perjalanannya sedetail yang mampu dan perlu untuk di sampaikan, om Daniel juga menulis catatan pribadi untuk anaknya. Kadang terdiri dari berbagai cerita khilas balik masa dahulu yang bersamaan dan selaras dengan perjalanannya di negeri atap dunia.

Beberapa kali saya berpikir kalau buku ini mungkin seperti catatan seseorang yang sedang mencari jati dirinya, semacam mencari arti kebahagian. Kadang juga saya berpikir buku ini cocok sekali untuk catatan bagi para ayah, hahaha. Mungkin karena secara manis ada catatan milik om Daniel teruntuk anaknya yang bernama Sekala. Ada beberapa bagian yang masih belum bisa saya pahami dengan baik dalam pemaknaan nya dalam kehidupan pribadi, mungkin juga karena itu buku ini terasa masih menyisakan beberapa halaman yang menarik untuk saya.

Terlepas dari semua itu traveling sepertinya kurang lebih bertujuan untuk melihat keindahan dunia, melihat bentuk kehidupan yang lain di luar ruang hidup kita pribadi, belajar mengontrol dan menjadi pembuat keputusan untuk diri sendiri. Beberapa hal yang hanya bisa dilatih saat kamu melakukan traveling. Mengenal dan belajar dari karakter orang-orang baru yang kita temui dalam perjalanan. Hahaha semacam pembelaan untuk hobi traveling. Dan tentunya traveling seorang diri dapat memberi kita lebih banyak waktu untuk berpikir dan mengenal diri lebih dalam. So, lets go traveling around the world.

… percakapan di bawah ini, antara Daniel dan Barista, lelaki penjaga warung kopi di terminal bus Pokhara, Nepal.

apa yang kamu cari, Daniel?”

Tiba-tiba aku tercekat dengan pertanyaannya. Belum pernah ada orang yang bertanya seperti itu selama perjalananku. Apa yang aku cari? Gila! Aku tidak bisa menjawab pertanyaan sesederhana itu.

Apa yang aku cari? Aku menyeruput teh hangatku yang masih mengepul. Ia tersenyum seakan menangkap kegugupanku.

masa muda, Daniel. Masa muda. Memang seharusnya begitu. Pergilah ke mana pun kakimu melangkah. Itu akan menempamu. Memperkaya pengalaman batinmu.” ia menyedot lagi rokoknya. “tetapi pada saatnya tiba,” ia melanjutkan, “jadilah lali-laki yang merasa cukup dengan keluarga di rumah.”

ya, apa yang kamu cari, Daniel?

Menjadi lelaki memang harus pergi. Tapi dia juga harus pulang, karena ada yang mengasihi dan dikasihi di rumah!

(kutipan dari buku Alaya, dari penulis Gol A Gong).

Happy reading to you all, love.



Belajar Bisnis sama Donald Trump

Belajar Bisnis dari DONALD TRUMP

DSCF4463.JPG
lucu yaa covernya

Salah satu buku dengan porsi yang enak dan menyenangkan untuk dibaca. Awalnya bukan saya yang beli buku ini, tapi Ayah saya. Jangankan membicarakan tentang bisnis, tentang Donald Trump saja sebenarnya jarang banget dan hampir tidak tertarik. Tapi belakangan ini saya lagi haus dengan bacaan baru dan juga sedikit tertarik dengan bisnis. Jadi, maka dari itu hhaha, ketika ayah saya menyodorkan buku ini yaudala saya coba baca.

Awalnya agak kebingungan sih, apa yang akan saya temukan di dalam buku ini. Tidak ada ide, hampir tidak bisa menebaknya. Tapi sedikit penasaran dengan apa kira-kira yang dipikirkan si bapak Donald Trump, yang tertuang di dalam buku ini tentunya. Sudah tau Donald Trump kan? Presiden negara adidaya Amerika Serikat yang cukup terkenal… hmmm entahlah, coba cari di internet dan definisi kan sendiri sesuai pemahaman kamu hihi.

Jeng jengg… singkat cerita. By the way, covernya lucu gitu lihat wajahnya bapak Don. Saya kira tuh isinya bakal mengupas habis cara menjalani dan membangun sebuah bisnis gitu. Tapi tidak, disini isinya lebih seperti bagaimana pedoman-pedoman hidup si bapak Don. Latar belakang si bapak Don sempat dijelaskan di bagian awal buku, keluarganya, pencapaian-pencapaian apa saja yang sudah di miliki oleh si bapak, sampai disebutkan kalau apak Don tuh orang yang kaya raya. Saya kalau tidak baca buku ini, saya sepertinya tidak akan tahu kalau Donald Trump itu yang punya acara Miss Universe. Dan berbagai penjelasan tentang aneka pencapaiannya yang bisa dibilang luar biasa gemilang. Berdasarkan buku ini sih, itu karena kemampuan si bapak Don yang jago negoisasi, dan lagi dia sudah terbiasa dengan dunia bisnis sejak kecil.

Teruss.. terus nih gengs isi bukunya tuh lebih kepada bagaimana pedoman-pedoman hidup si bapak Don. Hal-hal yang menjadi prinsip hidup seorang Donald Trump, yang dipegang teguh sampai dapat mencapai semua keberhasilannya. Nah diantara lain contohnya seperti selalu berfikir positif, belajar mencintai pekerjaan kita, berani mengambil resiko, berani bermimpi besar dan selalu bersiap untuk menghadapi perubahan.

Dan beberapa bagian yang menurut saya menarik dan patut dicontoh akan saya bagikan di sini. “Jika Akan Bermimpi, Bermimpilah yang Besar”. Begitu katanya, menurut kamu bagaimana? Saya tau jelas pasti ada sebagian dari kita yang bersikap sebaliknya, yaitu janganlah bermimpi terlalu besar atau terlalu tinggi. Menurut saya itu karena kita kurang percaya pada diri kita sendiri, dan kurang memiliki motivasi untuk berubah ke arah lebih baik, atau juga mungkin kurang memiliki daya juang? Eh tunggu sebentar… Mungkin maksud saya bukannya tidak memiliki keinginan untuk berubah ke arah yang lebih baik. Memangnya saya siap, kok sotoy dengan keinginan dan pencapaian hidup orang (?).

Oke baiklah, intinya bermimpi yang besar tidak akan menyakiti dirimu. Justru hal itu mampu memberi kekuatan untuk menggali potensi terbaik dari diri kita. Mau mengutip dari buku nih, kata Paul Hovey “dunia orang buta dibatasi oleh sentuhannya; dunia orang dungu dibatasi oleh pengetahuannya; dan dunia orang hebat dibatasi oleh visinya.”
Nah loh, dapat kamu mengerti kan maknanya?

Masih banyak sih bagian yang saya suka dan bisa jadi pengingat untuk diri sendiri agar terus mengekstrak kemampuan dalam diri saya. Ada satu hal yang tidak pernah terfikirkan bahwa seorang Donald Trump adalah orang yang mampu berfikir semacam ini.

“Saat segala hal bermasalah, lihatlah dulu diri sendiri. Jangan langsung menyalakan orang lain atau keadaan.” (Donald Trump) begitu katanya. Rasanya seperti di tampar di wajah dengan kerass, iyaa ya.. kita cenderung mencari-cari kesalahan saat terjadi suatu masalah. Kadang malah lupa untuk mengoreksi diri sendiri. Entah itu apa namanya, atau karena kita pribadi tidak mau mengakui kesalahan yang kita lakukan yaa. “Jika anda mau menerima kejayaan, bersedialah menerima kesalahan.” begitu kata Bapak Don.

Betapa saya harus berulang kali menilik kepada diri saya pribadi bagaimana selama ini sikap saya dalam menyikapi berbagai masalah. Apakah saya mau mengoreksi diri sendiri, atau malah sibuk mencari kambing hitam? Masih saya pikirkan dan coba hayati. Tapi mungkin itu dulu yang saya coba sampaikan dengan santai seperti di pantai, nanti akan ada next episode yaa. Byee and thankyou. Selamat berbahagia 🙂

Nonton Mahakarsa 623 di Assalaam



Seruuu banget kemarin malam. Nonton pensi (read : pentas seni) sederhana ala santri-santri pondok. Tau ga? Jadi santri pondok pesantren tidak melulu tentang belajar kitab-kitab tebal dan berada di dalam ruangan semalam suntuk atau hal lainnya yang sering dianggap membosankan, tapi juga bisa asyik mengekspresikan diri seperti ini. Kamu masih bisa bebas berkarya dan menyalurkan bakatmu, bukankah itu menyenangkan?

kamera mb alif 2248

Tari Medley Nusantara di Panggung MAHAKARSA 632

Hari minggu setelah shalat asar saya dari Semarang menggunakan bus, dan selepas magrib sudah sampai di Kota Solo. Cuss menuju pondok pesantren Assalaam, kalau belum tahu nanti wajib search yaa. Langsung saya ke kamar teman saya yang sedang dalam masa pengabdian di pondok, tiba di sana, bersih-bersih badan, ganti baju, shalat, dandan, berangkat menuju lokasi kegiatan yang letaknya cuman beberapa meter dari depan kamar teman saya.

Jauh berbeda dengan kegiatan terakhir diangkatan saya, kali ini panggungnya luar biasa megah, sekedar info saja, dulu kami pakai meja kelas untuk dijadikan panggung, jumlahnya bisa sampai 40 meja yang harus kami gotong-gotong. Background panggung lima kali lebih besar dari jaman saya mondok, dan sekarang ada bangku juga untuk para penonton… padahal kita dulu duduk di rumput-rumput sampai bokong anyep-anyep basah. Lightingnya luarr biasa, seperti sedang nonton konser (mungkin karena saya tidak pernah nonton konser sebelumnya), tentunya di dukung sound dan kameramen yang handal dan you know, ada kembang apinya segala.

Banyak sekaliii hal yang ingin dijabarkan sebagai perbandingan dan juga sekaligus bernostalgia dengan masa remaja (sekarang juga masih berasa remaja kok). Tapi kalau dilanjutkan saya malah tidak akan bercerita tentang pensinya ya?

Pensinya keren.

MAHAKARSA 632 nama kegiatannya, malam itu acara dimulai setelah waktu shalat isya. Ternyata banyak penonton selain dari kalangan santri, orang tua santri juga ada yang ikut antusias menonton pensi ini, beberapa teman alumni angkatan saya pun ternyata datang menonton. Dan saya jauh-jauh dari Semarang terkhusus untuk menyaksikan pensi yang nampaknya akan spektakuler ini.

Diawali dengan nyanyian oleh grup khasidah yang terdiri dari sekitar 15 orang, dengan pakaian serba berwarna merah muda dan dua orang yang terlihat menari mengikuti irama musik pada dua sudut panggung. Kemudian mulailah masuk beberapa kontingen dan dua orang Master of Ceremony yang berpakian bak putri kerajaan dengan gaun mengembang dan mahkota di kepalanya, menyampaikan rentetan samutan dan kata pengantar dalam tiga bahasa, arab, inggris, dan indonesia, kemudian pembukaan acara dilanjutkan oleh Mudir Ma’had Assalaam.

Sebelum sampai pada pentas utamanya (yang biasanya adalah cerita-cerita daerah, seperti drama singkat yang dimainkan oleh para santri mulai dari kelas 1 smp sampai 2 sma) lebih dulu para penonton disuguhkan dengan berbagai macam pertunjukan kesenian daerah. Aksi para santri karawitan menjadi pembukanya, nyanyian merdu diiringi alunan musik gamelan yang seutuhnya dibawakan oleh santriwati Assalaam. Kemudian diikuti penampilan beberapa tarian khas daerah yang semuanya dibawakan oleh santriwati mulai dari kelas 1 smp hingga 2 sma, diantaranya tarian khas Betawi (tapi mohon maaf saya lupa nama tariannya), kemudian tari rentak besapih khas Jambi, tari zapin khas Riau, dan tari medley nusantara.

Belum cukup dengan rentetan penampilan itu membuat penonton terpana, layar besar di atas panggung mulai menunjukkan video sekelompok santri yang sedang berlatih memainkan alat musik layaknya sebuah orkestra. Para pemain mulai bergerak dalam suasana panggung yang gelap, sekelompok paduan suara, para pemain musik orkestra, pemain drum, pemain biola, bass, dan alat musik lain semuanya dibawakan oleh santriwati. Musik mulai mengalir dan menyita perhatian penonton yang disambut suara penyanyi utamanya, lima orang santriwati dengan gaun yang indah dan suara merdunya sukses menghibur penonton dan menciptakan senyum yang lebar. Suasana juga semakin meriah karena para santri di bangku penonton asyik bersorak ketika melihat teman-teman mereka muncul di panggung, selain itu mereka juga dengan kompaknya membawa stick lamp warna-warni, yang ini jelas tidak pernah ada di jaman saya sekolah di sini hehehe.

kamera mb alif 2256
Suara merdunya berhasil menghibur penonton, dengan lagu this is me.
kamera mb alif 2254
Para pemain orkestra yang cantik-cantik.

Melanjutkan inti dari pensi ini, dimulailah drama singkat yang menceritakan dua kerajaan bersudara di wilayah Toraja, katanya kisah ini terinspirasi dari kisah lima pandawa. Dalam drama ini diceritakan dua kerajaan bersaudara ini mempunyai watak yang berbeda, yang satu baik hati dan yang satu dapat dikatan sebagai tokoh yang jahat. Pertikaian dimulai ketika kerajaan yang jahat selalu mengganggu si baik, sampai terjadi pertempuran yang di menangkan oleh si baik. Tapi dibalik itu mereka bersedih karena termakan emosi semata dan mengakibatkan pertumpahan darah saudara-saudaranya sendiri.

kamera mb alif 2262
Klasik sih ya ceritanya, yaa tapi memang begitu kenyataannya. Pesannya, jangan sampai termakan oleh amarah yang hanya berakibat penyesalan mendalam.

Next guyss, ada pertunjukan musik dan beberapa penampilan lain. Penutupan acara diikuti dengan masuknya semua pemain tadi ke atas panggung, bernyanyi bersama dan diakhiri pelepasan balon yang terbang ke langit malam gelap dengan dihiasi bulan yang cantik tepat diatas para penonton. Sayang banget yaa masih ada yang menerbangkan balon sebagai bentuk ceremony, mungkin pengetahuan bahwa balon yang terbang entah kemana itu akan menjadi sampah di lautan belum sampai kepada mereka ya? Semoga ceremony serupa itu bisa digantikan dengan hal lain yang lebih bermanfaat yah.

kamera mb alif 2281
Penampilan penutup dalam MAHAKARSA 632

But, secara keseluruhan acaranya mampu menyedot perhatian dan membawa emosi penonton mengalir dengan asiknya. Bukan hanya menyuguhkan penampilan-penampilan menarik, tapi penempatan dan unsur-unsur lain yang ditambahkan dalam keseluruhan acara mampu membawa emosi penonton sepenuhnya ikut hadir dalam acara tersebut. Good show and good job.



Mari Pakai Plastik, dengan Bijak.

Soo, tadi sore saya lagi semangat semangatnya untuk olahraga. Nah saya akhirnya memutuskan untuk olahraga jalan kaki sore nih, inginnya sih lari sore.. tapi tidak kuat hehehe.
Saya jalan kaki dari rumah saya di Puri Asri Perdana, menuju Pasar Jati, Banyumanik. Nah saya sengaja jalan kaki sore-sore sekalian menuju ke pasar. Karena saya memang punya tujuan utama untuk beli makanan ikan di pasar. Cukup jauh sih, apalagi jalanan di Banyumanik yang cenderung naik turun yang sukses menambah kelelahan jiwa raga ini.

Saya tuh ingin kasih tahu moment ketika saya lagi asyik beli makanan ikan di toko kelontong yang khusus jual keperluan hewan-hewan peliharaan. Saya sudah biasa beli di situ, dan sudah hafal dengan orang-orang yang jualan, entah yang jualan ingat saya atau tidak huehehhe.

Nah di sana ada dua bapak-bapak, yang satu bapak kurus dan saya rasa itu bapak yang punya toko. Yang kedua bapak gemuk, ini sih pastinya pegawainya dan sudah lumayan terbiasa menyediakan pesanan para pembeli. Nah sore tadi ketika saya datang ada pegawai baru, masih muda, agak bocah lah, cah Lanang. Kelihatan cukup bersemangat. Tapi mungkin agak sedikit kurang fokus, dan mungkin karena belum terbiasa menghadapi pembeli jadi masih ada salah-salah dan bingung.

Terbukti guys, karena di sore hari yang cerah dan bersemangat itu si pegawai baru ini salah menyiapkan pesanan saya. Dengan wajah bingung dia berusaha memastikan pesanan saya, yasudah saya ulangi lagi. Ya mungkin memang ada miss communication diantara kita berdua haha. Tapi anehnya si bapak yang agak gendut ikutan nimbrung, tidak melewati batas-batasnya sih. Hanya saja dalam beberapa situasi agak terasa memojokkan dan tidak mencarikan solusi.

Eh si bapak pemilik toko kelontongan akhirnya turun tangan dan langsung menyiapkan pesanan saya sendiri hehe. Okeeh baiklah, saya sebenarnya ingin menceritakan hal lainnya dari peristiwa jual beli ini.

Jadi saya kalau belanja, mencoba untuk membawa wadah belanjaan sendiri. Contohnya saya bawa tas belanja, bawa plastik belanja sendiri, kalau lagi mau jajan minuman atau kelapa muda ya saya bawa tumbler. Kalau mau jajan makanan bawa tupperware sendiri (eeceilee malah promosi produk, hehe). Tidak selalu sih, tapi ya sebisa mungkin saya mulai sedikit demi sedikit supaya terbiasa.

IMG_20181003_221318_967

Waktu beli makanan ikan ini juga contohnya, plastik yang sudah terpakai waktu saya beli makanan ikan sebelumnya, saya bersihkan dan simpan, kemudian saya pakai lagi untuk beli makanan ikan yang sama di kemudian hari. Mudah banget loh untuk ikut andil dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Menurut saya ada yang lebih penting dari buang sampah pada tempatnya. Tapi yang lebih penting lagi adalah kita juga mulai mengurangi penggunaan plastik “satu kali pakai” yang dapat menambah sampah dunia. Kan sedih yaa, cuman satu kali dipakai dan kemudian langsung dibuang.
Nah jadi paling asyik tuh, selagi kita berusaha mengurangi penggunaan plastik satu kali pakai, kita gunakan lagi barang-barang (plastik) yang masih layak pakai, dan kita juga membersihkan sampah-sampah yang sekiranya mengotori atau tidak pada tempatnya. Alternatif lainnya ada juga yang aktif mengolah limbah-limbah sampai itu menjadi kerajinan atau hal lain yang bisa bernilai tambah. keren yaa. kamu pasti bisa.

By the way, saya sudah ngomong panjang lebar begini untuk mengajak kamu mengurangi penggunaan plastik “satu kali pakai”, atau kadang lebih terkenal dengan “single useplastic. Kamu tau kan alasannya kenapa hal itu penting?

Mari pakai plastik, dengan lebih bijak dalam menggunakan plastik. Selamat berbahagia 🙂

Lanjutan Buku Amor Fati



Ingin lanjut untuk menceritakan isi buku yang tempo hari sudah saya bahas sedikit. AMOR FATI, oleh Rando Kim. Amor Fati sendiri berasal dari bahasa latin yang berarti cintai takdirmu.

Sekarang kita berada di dalam bab yang mengatakan “Pemilik Rumah Terbaik adalah yang Terkejam” bagiamana menurut anda dengan sepenggal kalimat itu? Disini prof. Kim menjelaskan secara singkat kurang lebih bahwa keadaan yang nyaman kadang malah menghanyutkan anda, dan sebaliknya, keadaan yang tidak nyaman dapat mendorong anda menunjukkan yang terbaik dari diri anda.

Sebagian orang mungkin merasa sangat hancur ketika belum berhasil dalam suatu tahap, atau ketika gagal saat berjuang mencapai impiannya. Kemudian merasa sedih dan terpuruk. Jika kita mau melihat dari sisi lain sebenarnya hal itu adalah hal baik, karena dari kegagalan kita bisa mengoreksi diri dan mengekstrak diri menuju versi yang lebih baik. Menurut saya pribadi, kegagalan adalah sebuah cara pandang dan bagaimana kita menyikapinya. Ingatlah untuk selalu berfikir positif dan bersikap optimis dalam berbagai keadaan, karena hal itu mampu membuat kita bahagia. Ketika hal yang kita sangat impikan dan dambakan belum terwujud, tenanglah, tetap tersenyum dan yakin bahwa ada hal positif yang mampu anda ambil dari kegagalan tersebut. Tentunya semua pencapaian kita juga jangan terlepas dari rasa syukur, hal itu adalah kunci untuk melengkapi segala yang kita miliki.

Sekarang coba posisikan diri anda selalu menjadi orang yang beruntung dalam banyak hal, bahkan tanpa usaha yang berarti. Tanpa disadari hal itu dapat membuat anda menjadi terlena, seperti bayi terlena dalam ayunan ibunya. Secara pribadi, hal ini pun sering terjadi kepada saya, saya begitu sering berada dalam kondisi serba enak. Bukannya tidak bersyukur, kita harus bersyukur, dan itu wajib di segala kondisi. Tapi lambat laun saya mulai tersadar, kita ambil contoh ketika saya masih di bangku sekolah. Saya mendapat tugas berkelompok, pada kelompok saya terdapat anak yang lebih menonjol dan lebih cerdas dari anak-anak lain tentunya. Dalam kondisi itu saya cenderung jadi kurang berjuang untuk diri dan kelompok saya, karena tanpa sadar mengandalkan dan agak bergantung kemampuan teman saya. Kondisi ini menjadikan saya tidak mengasah kemampuan diri saya dengan maksimal, karena sudah merasa terselamatkan.

Dalam bukunya Rando Kim mengatakan :

DSCF4459.JPG
Kutipan dari buku Amor Fati.

dan saya sadar mengenai hal itu, hanya beberapa waktu yang lalu. Ketika saya harus merantau keluar daerah selama enam bulan. Tanpa orang yang saya kenal dan tanpa saudara. Maka saya terpacu untuk bisa mencari teman sendiri, belajar bergaul, mencoba mengerti pekerjaan saya dengan terus menjunjung tinggi komunikasi dengan rekan kerja saya. Dan jujur saja, hal itu mengasyikkan.

Terimakasih sudah membaca, selamat berbahagia untuk disetiap harinya 🙂



Jalan-jalan ke Tidore, Yuk

Jadi beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengunjungi Pulau Tidore setelah sebelumnya keliling Pulau ternate, pasti pada tau dong Pulau Tidore. Sebagian besar mungkin mengenal pulau ini lewat pelajaran sejarah, pulau yang terkenal dengan rempah-rempahnya yang diperebutkan oleh negara Portugis dan Spanyol. Berseberangan letaknya dengan Pulau Ternate, dua pulau ini menjadi paling terkenal di Maluku Utara (versi Ainun).

_DSC0587
Pemandangan Pulau Tidore dari pelabuhan Bastiong, Ternate.

Untuk mencapai Pulau Tidore, saya dan teman saya, Lili harus mengunakan transportasi laut dari Ternate. Berangkat dari pelabuhan speedboat di Bastiong, Ternate menuju pelabuhan Rum, Tidore. Ada beberapa pilihan alat transportasi, mulai dari kapal feri, speedboat, dan kapal kayu. Pastinya kalau kapal feri bisa mengangkut penumpang, serta kendaraan bermotor roda dua dan roda empat, speedboat mampu menampung penumpang dan beberapa tas barang bawaan anda, dan satu lagi kapal kayu yang mampu menampung penumpang dan kendaraan roda dua.

_DSC0595
Kendaraan roda dua yang dinaikkan ke atas kapal kayu.

Kalau kapal kayu ini sedikit menarik. Saya dan Lili naik kapal kayu dengan ukuran kurang lebih panjang 8-10 meter. Jadi ini kapalnya sederhana tapi keren, karena dalam satu kapal mampu menampung sekitar 10 kendaraan motor. Dan motor-motor diparkirkan di atas perahu dan diikat, cukup mendebarkan melihat motor-motor ini nangkring diatas perahu yang akan menerjang ombak. Untungnya waktu itu ombak tidak terlalu besar, dan jarak tempuh Ternate – Tidore cukup dekat, hanya memakan waktu sekitar 15 menit, dan juga waktu keberangkatan nya lebih fleksibel. And, finally dengan modal Rp 25.000 kita sudah sampai di Tidore.

By the way sampai di pelabuhan Rum, Tidore kami langsung menurunkan motor, then tancap gas menuju daerah yang namanya Soa sio. Itu nama kota yang jadi pusat tempat tinggal dan kegiatan-kegiatan lain di Tidore. Pulau Tidore dilihat dari ukuran pulaunya lebih besar dari pada Pulau Ternate, tapi dari yang saya lihat penduduknya tidak lebih banyak, dan disana cukup sepi dan hening. Jalanan beraspal mulus, suasana jalanan lenggang, penduduknya saya rasa sebagian besar berkegiatan di dalam rumah waktu saya datang. Kami menuju Soa sio, tempat Kak Tom and the gang, teman dari “wild house” (nanti search aja yaa apa itu wild house di Tidore). Sebentar saja mengganggu ketenangan hidup mereka, karena kami minta diantarkan jalan-jalan. Waktu itu sudah cukup siang alias.. sore, jadi kami pergi sebentar menuju tempat yang letaknya di bukit tinggi, namanya Desa Gurabunga.

Desa yang menawarkan pemandangan yang indah banget sih kalau saya bilang, kota Tidore bisa terlihat dengan jelas dari atas sana. Ada tempat nongkrong untuk menikmati pemandangan kota Tidore langsung ke arah laut, hanya tumpukan bebatuan besar biasa saja, tapi saya yakin kalian pasti suka. Dari sudut-sudut tertentu kita akan merasa seperti berada di atas awan. Diluar dari itu kalian harus tahu sih perjalanan ke tempat ini menanjak tajam sekali. Waktu dibonceng naik motor saya yang pasti hanya bisa berdoa supaya selamat sampai tujuan, kadang pura-pura ajak teman untuk ngobrol dalam rangka mencairkan suasana.

_DSC0656
Pemandangan dari Desa Gurabunga.

Lanjut dari sana kita berencana mampir di “Kedaton”, saya tanya apa itu Kedaton? ternyata, Kedaton adalah Keraton dalam bagaimana masyarakat Tidore menyebutnya. Nah disini juga saya jadi wisata sejarah budaya, mengingat Kesultanan Tidore ini adalah kerajaan islam yang cukup besar yang bahkan wilayah kekuasaannya mencapai tanah papua, di masa kejayaannya. Pada ingattt gaa, hayooo..

Dan kemudian kami pergi mencari oleh-oleh seperti kain tenun, tapi yang jualan sudah tutup sore itu. Agak sedih sih. Meskipun tidak banyak yang saya dan Lili lakukan di Tidore hari itu, tapi banyak yang bisa kami lihat. Yaa.. setidaknya saya sekarang sudah berkenalan dengan Tidore, yang selama ini cuman saya ketahui dari buku sejarah. Alamnya masih asri banget, dan jalan raya di pinggir pantai yang berkelok-kelok itu menyebalkan. Karena saya harus menahan diri saat melihat air laut yang super jernih, bersih, dan ditambah pemandangan bocah-bocah kecil yang asyik mandi di pantai, segeerrr banget sepertinya. “Batobo” istilahnya, mandi-mandi di pinggir pantai.

_DSC0614
Pemandangan dari benteng Tahula.
_DSC0632
Masih dari benteng Tahula, kenalan sama teman saya, Lili namanya.

Ohiyaa kami juga sempat mampir ke salah satu benteng yang ada di Tidore, saya lupa nama bentengnya. Kalau tidak salah nih namanya, Benteng Tahula. Letaknya di pinggir jalan, dan harus menaiki anak tangga yang cukup curam dan banyak jumlahnya sebelum bisa sampai di bagian atas dan melihat bentengnya. Mereka biasa menyebutnya benteng “seribu tangga” kurasa.. atau tangga seribu yaa. Tapi sih sebenarnya tidak sampai seribu, beberapa puluh saja jumlah anak tangganya, kata teman saya bisa jadi seribu kalau dilewatin berulang kali naik turun. Okeee baik.

Dalam perjalanan pulang saya dan Lili seperti menyongsong matahari, mengejar perahu untuk menyeberang kembali ke Ternate, berpisah dengan Kak Tom and friend yang sudah berbaik hati mengantarkan dua perempuan lucu ini dan menunjukkan secuil dari keindahan dan kemakmuran tanah Tidore. I hope i could come to Tidore again and again. Say Aamiin please ahahaa.. you should go to Tidore guys, terimakasih para pemirsa yang berbahagia.

Kuliner Wajib di Maluku Utara



Haloo selamat berbahagia untuk kalian semua yang membaca blog ini, selamat berbahagia menurut waktu setempat.

Ini lagi iseng ajasih, saya ingin bahas aneka makan khas nan enaaak yang bisa saya temukan dan rasakan di Maluku Utara, atau lebih spesifiknya di Morotai. Ada banyak sebenarnya makanan enak disana, yang paling saya sukai adalah Gohu. Gohu sendiri sebenarnya adalah ikan segar (biasanya ikan cakalang atau tuna) yang dipotong-potong dadu, kemudian dibumbui perasan air jeruk lemon, ditambah cabe rawit utuh, ditaburi garam, dan disiram dengan minyak goreng panas.

Setelah itu semua bahan tadi diaduk sampai merata, dan sudah siap disantap. Yaapp, Gohu menggunakan ikan mentah sebagai bahan utamanya dan rasanyaa nikmat sekali. Paling nikmat nih kalau gohu disantap dengan ubi atau singkong yang dimasak dengan santan, kalau saya tidak salah mereka menyebutnya Kasbi Santan. Atau singkong dan pisang goreng sebagai temannya juga tidak kalah enaknya. Eiitss tapi mohon maaf yaa, saya tidak punya foto makanan enak satu ini jadi kalian belum bisa lihat penampakannya.

Buat yang mau berkunjung ke Maluku Utara atau Morotai dan mau wisata kuliner, bisa nih dicoba beberapa menu yang sederhana tapi nikmatnya bukan maeeenn!

Ikan Dabu-dabu Manta Khas Maluku Utara

P_20180225_131939
You semua harus pastikan pernah makan ikan bakar dengan ditemani dabu-dabu mantah (dabu-dabu = sambal), ikan apapun pasti enak, terutama ikan lolosi. Dabu-dabu mantahnya sendiri terdiri dari irisan tomat, bawang merah, cabe rawit utuh, perasan jeruk lemon, daun kemangi, taburan garam dan siraman minyak goreng/ minyak kelapa.

Sayur lilin, enak bangettt sayur ini. Saya benar-benar ketagihan, sayangnya susah-susah gampang nemuin sayur ini, dan tidak banyak warung yang menawarkan menu ini. Selain itu sebenarnya di Morotai paling banyak orang menyajikan sayur jantung pisang atau juga bunga pepaya, enakk loh.

P_20180225_132040
Sayur lilin tuh enak bangett, asli. Pertama kali makan, dibuatkan sama mamahnya Paleca.
P_20180225_132430
Paket lengkap = Nasi, Sayur Lilin, Ikan Bakar dan Dabu-dabu Mantah.

Waktu itu saya juga sempat mampir ke Galela dan makan di sana. Dengan menu yang sebenarnya tidak jauh berbeda, nasi, ikan bakar, sayur tumis kangkung, dan dabu-dabu manta. Tapi memang dasarnya makanan sederhana ini sedapppnya khan maenn! And you should know guys, ada pisang goreng mulut bebek yang nikmatnya bikin tidak habis pikir. Saya kekenyangan.

P_20180313_180908 (1)
Looks how menggiurkannya hehe bikin lapar..
p_20180313_180927.jpg
Sepertinya saya masih bisa membayangkan kenikmatan semua makanan ini.. hahahaa



Morotai – Ternate (lewat jalur laut)

By the way saya akan mulai untuk ceritain perjalanan saya ke Ternate dan Tidore. Dua pulau dengan awalan huruf “T” yang paling sering kita temui dalam pelajaran sejarah. Tapi mungkin disini cerita tentang Ternate dulu yaa. Bertolak dari Pulau Morotai menuju Pulau Ternate menggunakan jalur laut, KM. Geovani waktu itu yang saya tumpangi. Kapal berangkat jam 9 malam waktu setempat dan sampai di tujuan jam 8 pagi keesokan harinya, dengan harga tiket Rp 160.000. Penuh dan sesak sekali malam itu, mungkin karena minggu terakhir sebelum libur lebaran.

Satu hal yang disayangkan karena waktu itu saya beli tiket terlalu siang, alhasil tiket sudah dalam genggaman tangan tapi tanpa nomor ranjang. Dan jadilah saya ndelosor-ndelosor di kursi, atau di kasur-kasur tipis di lorong lambung kapal. Apesnya, kasurnya sedikit robek yang ternyata di lorong itu ada aliran air buangan AC, heyy nice. Dengan rentan waktu perjalanan yang cukup lama, dengan angin laut yang dingin mendayu-dayu. Tapi waktu itu dingin jadi tidak terasa, karena kursi-kursi yang saya dan orang-orang kebanyakan duduki berada persis diatas mesin AC. Kami jadi dapat efek-efek dipijat dari mesin penghangat, setidaknya angin laut di malam hari menjadi tidak sedingin kenyataannya.

Sebenarnya waktu mau beli tiket sempat dapat saran dari Mulis dan Nengkes supaya melintas saja (melintas mean : Morotai-Tobelo-Sofifi-Ternate via jalur darat), tapi apalah arti lautan ini kalau belum pernah saya sebrangi. Ahelahh apa coba, ndak ada apa-apa padahal. Berlandaskan asas keingin tahuan dan rasa penasaran naik kapal Morotai-Ternate, dan kekangenan untuk tertiup-tiup angin laut di atas kapal akhirnya saya putuskan naik kapal. And you know next? Ternyata saya ada teman, om Amat juga mau naik kapal malam itu, dan sebenarnya dari situlah bagaimana saya bisa tidur di atas kasur saat sedang dalam perjalanan. Karena saya nebeng kasur hehee. Dan ketemu beberapa teman lain juga yang mau mudik.

Next dan langsung menuju Ternate, saya di jemput sodaranya teman, yang karena teman saya sedang sakit. My poor friend. Eitss masih ada teman lain kok yang sehat. Lili namanya, saya tinggal di kamar kos dia dan diajak jalan-jalan. Kita sempat jalan ke benteng-benteng yang ada di Ternate, karena memang disana wisata sejarahnya cukup menarik dan total ada empat benteng mengitari pulau ini. Benteng yang paling dekat adalah Benteng Kalamata, cantik banget, dari sini kita bisa langsung melihat ke arah Pulau Tidore, dan Pulau Maitara. Cantik sekali.

_DSC0578
Sejumput wajah dari Benteng Kalamata, dan ada simbahnya sebagai model. Itu di seberang nampak wajah Pulau Tidore.
_DSC0581
Kalau ada yang iseng-iseng pingin baca.

Selain itu ada Benteng Oranje di tengah-tengah kota, Benteng Tolukko yang letaknya seakan-akan di ujung tebing dan ternyata kecil banget tapi menawarkan pemandangan yang indah banget. Sayangnya waktu itu yang jaga benteng sedang pergi jadi saya tidak sempat masuk dan berfoto, padahal ini spot paling favorit orang-orang yang berkunjung. Satu lagi Benteng Kastela dan saya lupa persis letaknya ada di sebelah mana. Tapi saya rasa wisata benteng sudah cukup yaa.

Sore hari saya dan Lili kembali keluar dari kamar kos dan tancap gas menuju Danau Tolire, danau cantik di sisi lain Pulau Ternate. Terkenal sekali dengan kemampuan danau ini untuk menolak batu-batu yang dilemparkan pengunjung ke arah permukaan danau. Hahaha sebenarnya mungkin bukan menolak batu, tapi memang batu-batu yang dilemparkan sama orang-orang sudah jatuh lebih dulu di semak belukar sebelum menyentuh permukaan danau yang memang jaraknya cukup jauh. Mungkin kita harus mencoba melemparnya pakai ketapel?

Selain itu juga terkenal lohh karena ada buaya putih hidup di dalam sana, yaa posisi geografis danau yang beberapa ratus meter di bawah tempat pengunjung berdiri memang membuat kita takut-takut untuk mengintip ke dalamnya. Saya dan Lili salah satunya, penasaran ingin melihat si buaya putih dan kami menunggu beberapa saat. Memperhatikan gerak-gerik atau jejak-jejak getaran yang menggerakkan permukaan air. Waktu itu kami sempat mengamati ada pergerakan di permukaan air yang pergerakannya cukup besar (karena bisa dilihat dari tempat kami, jadi pastilah cukup besar), dan ada semacam bayangan memanjang mengikuti permukaan air yang bergerak itu. Kami sih berspekulasi itu mungkin adalah si buaya putih yang lagi asik kami perbincangkan.

Hehehe asiknyaa main tebak-tebakan. But, then kita melanjutkan perjalanan pulang dengan jalur yang berbeda. Mengitari pulau, kecil saja Pulau Ternate ini. Cukuplah untuk dikelilingi dalam waktu 1 sampai 1 setengah jam menggunakan kendaraan bermotor, kalau dengan berlari saya belum tahu tuh butuh waktu berapa lama. Tapi mungkin boleh dicoba, ada yang mau temani? Dan sore itu menjadi penutup hari, kami kembali dan mencari sepenggal jajanan untuk teman buka puasa.