Mencari Ikan Sungguhan, di Sungai.

Today, march 27th 2019

Hari ini saya, bu Tika, bu Ana, bu Yuni dan tentunya bu Mimih menuju Sungai Jabungan sebagai puncak tema ajaran pada bulan ini yaitu ‘ alam pedesaan’. Bersama kurang lebih 30 orang anak murid beserta anak-anak yang sedang ikut program observasi, dan ehm mamah-mamahnya juga ikut loh. Jadi kami berangkat dari sekolah menuju lokasi sungai jabungan menggunakan angkutan umum, dengan jumlah total 4 angkot. Ramai yaa, hahaha.

Cukup panas saat kami sampai di lokasi yang dituju. Dan lucunya pak RT yang kami rujuk untuk dijadikan tempat singgah malah ternyata kosong. Kami seperti segerombolan orang tidak dikenal yang menyeruduk masuk ke dalam pekarangan rumah pak rt, yang terbilang cukup luas. Sekitar 5 menit kami heboh di depan rumah pak rt, alhamdulillahnya pintu rumah terbuka dan muncul lah wajah seorang wanita yang ternyata adalah anak nya pak rt. Alhamdulillah lagi ternyata anaknya ini malah kenal dengan salah satu orang tua murid, masyaallah.

Baikhh lanjut dari situ, anak-anak langsung melaju menuju sungai yang dituju. Berbekal serok ikan alias jaring ikan di tangan masing-masing anak, dan dengan wajah-wajah kecil yang dipenuhi tanda tanya mereka berjalan perlahan menuju tepi sungai. Sampai di tepi sungai suasana excited dan senang, eh ada juga yang berubah menjadi teriak antara histeris ketakutan tapi penasaran ingin mencoba mencelupkan kaki ke air.

Kontur sungai yang landai, cukup lebar dan berbatu menjadi tempat bermain yang cocok untuk anak-anak play group yang masih kecil-kecil ini. Namun perjuangan yang harus ditempuh para ibu guru adalah, mengangkat dan menyebrangkan mereka menuju sisi yang lain dari sungai ini, dimana tempat bermain yang cocok bagi mereka berada. Boleh di bilang olahraga yang cukup menghasilkan keringat pagi tadi. Bu Mimih juga nampaknya sangat lelah harus menahan arus sungai sekaligus membantu anak-anak menyebrangi sungai.

Beberapa anak yang memang umur dan proporsi tubuhnya lebih besar dan sudah cukup kuat malah langsung bermain di tempat yang cukup dalam. Mereka langsung bermain, berendam dan berenang-renang di air sungai yang saat itu warnanya cukup coklat karena efek hujan kemarin sore. Sedangan sebagian besar anak-anak sedang asyik memainkan serok ikannya di tempat-tempat yang sekiranya aman bagi mereka untuk berpijak. Satu anak bernama Naifa dengan lucunya hanya duduk diatas batu kecil sembari memegangi serok ikannya, dan menoleh kanan kiri dengan ekspresi wajah yang susah diartikan. “Mana ikannya?” tanya nya dengan polos saat saya datang menghampiri.

“Ikannya harus kamu sayang, kalau diam tidak ketemu ikannya. Karena ikannya bisa berenang atau sembunyi di balik batu-batu.” tapi dia masih dengan ekspresi membingungkan sekaligus seperti kecawa tidak menemukan ikan saat dia mulai menyerokkan serok ikannya. Hahaha semangat yaa dek.

Kegiatan mengajak anak-anak ke sungai ini adalah betuk kegiatan puncak dari tema yang dimiliki di bulan ini. Sesuai dengan tema bulan maret yang mana adalah ‘alam pedesaan’, anak-anak diajak untuk mengenal hal-hal yang paling mungkin dan paling familiar ditemukan di desa. Tentu nya ini adalah desa yang ada di kawasan pegunungan yaa, karena beda dengan desa nelayan. Kalau desa nya desa nelayan atau desa kawasan pesisir, maka yang menjadi rujukan wisatanya mungkin kawasan pantai, hutan mangrove ataupun mungkin juga muara sungai, dimana air tawar dan air laut bertemu.

Seruu ya, semoga anak-anak bahagia dan bisa mengambil pelajaran dari kegiatan hari ini, hari kemarin, dan hari-hari yang akan datang. Aamiin.

Satu Jam Saja di Sekolah.

Ada cerita menarik nih kemarin, anggaplah setelah dua minggu saya ikut dalam kegiatan mengajar. Pada minggu kedua ini saya sedang memasuki rutinitas yang dirasakan semua wanita setiap bulannya, yaps datang bulan. Pagi itu berbeda dari hari yang biasanya, karena saya berangkat sekolah dengan badan yang terasa agak dingin dan secuil rasa sakit yang aneh di dalam perut. Seperti pertanyaan bu Tika dan bu Mimih pagi itu saat kami bersalaman “lohh kok lesu?” saya langsung meringis manis dan bilang “hehehe iyaa bu, lagi haid hari pertama” dengan wajah lesu tapi tetap manis.

Hari itu seperti hari-hari biasanya, kami membaca ikrar, afirmasi, bernyanyi, bercanda dan akan memulai latihan senam untuk lomba senam anak-anak. Sayangnya saya sudah hilang fokus. Inginnya ikut membantu dan merapih kan barisan anak-anak tapi malah rasanya seperti orang sedang menahan ngeden (buang air besar). Badan sudah keringat dingin dan seperti hampir menggigil.

Pada bu Mimih saya pamit, bilang saya di UKS sebentar karena badan sudah tidak enak banget rasanya. Bukannya merasa baikan, di dalam uks ternyata rasanya semakin dingin. Batin saya ini ruangan kok malah bikin semakin kedinginan, sampai-sampai hampir menggigil dan kaku. Belum lagi di dalam perut timbul rasa sakit yang aneh dan jadi mual. Saya berlari ke luar dari uks dan menuju deretan keran tempat anak-anak praktik wudhu. Dan, Alhamdulillah nya tanpa ada yang tau.. saya menuntaskan hajat mual saya.

Setelah itu rasanya badan saya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Saya menuju bu Tika dan ijin untuk pulang dan istirahat dulu hari ini. Sungguh hari yang aneh rasanya, baru saja berangkat sekolah jam 7 pagi, dan sudah kembali pulang jam 8 pagi. Sesampainya di rumah? Jangan ditanya, saya langsung bergegas menuju kamar mandi dan menuntaskan rasa mual saya sejadi-jadinya. Belum pernah rasanya badan lemas tak berdaya seperti hari itu. Bahkan mau mengoleskan minyak tawon untuk diri sendiri saja rasanya sudah tidak sanggup.

Saya jadi merasa lucu sendiri kalau mengingat kejadian hari itu. Terbayang bagaimana saya biasanya ramah dan bisa tertawa-tawa gemas melihat anak-anak kecil sedang heboh bermain, tapi mendadak seperti otak saya tidak bisa dipakai untuk berfikir. Selain rasa sakit, dingin dan mual yang terdeteksi di dalam otak, hal lainnya seperti terlewatkan begitu saja.

Lain kali rutin minum kunir asem yaa Ay sayangku, 23 maret 2019.

Kenapa Ibu Saya Selalu Kenyang saat Pulang Kantor? Sekarang Saya Faham.

(dulu) Hampir setiap harinya ibu saya pulang kantor pada pukul 4 sore, atau setelah shalat ashar. Kadang beliau membawa jajan, atau sayur matang, atau ayam goreng, buah, kadang pepes ikan, kadang juga otak-otak yang beliau beli dari penjual yang rutin mampir di kantornya. Semua itu untuk persiapan makan malam tentunya. Karena ibu saya ke kantor dari pagi hingga sore dan tidak sempat berbelanja bahan masakan, apalagi memasaknya. Kadang sudah terlalu lelah saat menginjakkan kaki di rumah. Belum lagi anak-anaknya saat itu masih remaja-remaja yang belum sepenuhnya mengerti bagaimana cara membantu meringankan beban mamak nya ini.

Tapi entah mengapa hampir setiap malam saat jam makan malam ibu saya ini malah tidak ikut makan. Bukan karena makanannya kurang enak, atau jumlahnya kurang mencukupi.. tapi katanya beliau “sudah kenyang”. Heran saya tuh, ibu ini makan apa sih sebenarnya kok kenyang terus. Katanya “tadi di kantor banyak makanan..” atau katanya “tadi di kantor dah nyemil teruss..” tapi hampir setiap hari seperti itu, belum lagi kalaupun ibu saya makan malam, pasti makannya hanya sedikit. Pantas saja awet langsing nih emak dari jaman saya masih unyu-unyu (lucu) sampai se-imut sekarang.

Sekarang setelah kurang lebih dua minggu ikut ngantor dan ngajar di sekolahan yang semua rekan kerjanya adalah ibu-ibu guru, saya faham kenapa ibu saya selalu merasa kenyang saat pulang kantor. Berkaitan erat dengan ‘ibu-ibu’ dan kantor, ternyata ada suatu kebiasaan dan semacam ekosistem yang tercipta. Ekosistem ini merupakan kondisi dimana ibu-ibu selalu memiliki apapun untuk dimakan di sekitarnya.

Bukan secara sepihak menuduh bahwa ibu guru di sekolahan saya suka jajan melulu. Tapi adanya fasilitas snack untuk anak-anak paud di setiap penghujung kelas mereka, membuat para guru juga selalu kecipratan berkahnya. Diantara lain adalah adanya snack dengan jumlah yang berlebih untuk tenaga pengajar. Kadang juga orang tua murid menjadi sangat luar biasa dan senang membawakan jajan untuk para guru. MasyaAllah sangat! Kadang bahkan kami pulang membawa oleh-oleh camilan, bagaimana tidak kenyang terus yaa. Perut kita rasa-rasanya selalu terisi, kadang saya juga jadi mulai malas untuk makan malam. Seperti terlalu banyak muatan yang dimasukkan ke dalam sistem pencernaan tubuh ini.

Yeahh, now i know it mom, i know how you feel. Ahad, 24 maret 2019.

Bersangkutan dengan catatan di atas saya juga jadi selalu bersyukur karena selalu mendapat nikmat yang sangat banyak. Belum lagi karena hal ini saya juga jadi sedikit berkurang keinginan untuk jajan karena sudah merasa kenyang duluan. Semoga hari mu indah yaa gengs.

Kenalan dengan Para Guru dan Pengajar.

Dicatatan selanjutnya ini saya ingin memperkenalkan guru-guru yang mengajar di Play Group Aisyiyah 01 Banyumanik, Semarang, alias Paud atau KBA (kelompok bermain anak). Perkenalan ini tak lain tak bukan supaya kenal dan sayang kan? Sesuai dengan pepatah, tak kenal maka tak sayang.. jadi mari kita kenalan tipis-tipiss.

Potret anak-anak paud pada sentra memasak.
(dokumentasi pribadi)

First of all, kita kenalan dengan bu Yuni atau nama lengkapnya bu Sri Wahyuni Probowati sebagai guru paling senior di Play Group ini. Beliau sudah bekerja menjadi guru setidaknya 13 tahun lamanya, dan sekarang menjabat sebagai kepala sekolah. Baru-baru ini juga anak perempuan beliau yang nomor satu telah melangsungkan pernikahan. Uluhhh, kita doakan semoga samawa yaa. Alhasil untuk dua minggu belakangan ini bu Yuni sedang cuti dan meninggalkan saya, 2 bu guru paud, dan 1 orang yang membantu urusan rumah tangga paud.

Second, ada bu Tika yang mana beliau ini boleh lah kita beri jabatan atau sebut saja sebagai wakil kepala sekolah. Bukan tanpa alasan dong pastinya, selain bu Yuni, bu Tika adalah guru dengan masa kerja paling lama kedua setelah bu Yuni. Berapa tahun yaa beliau kerja di sekolah ini, saya agak lupa. Beliau orangnya sabar dan halus banget, sudah menjiwai banget saat mengajar dan mengajak anak-anak bermain. Kita kapan bisa kayak begitu yaa? Walah sek sabar yoo, ikuti dulu prosesnya, amati, pelajari dan terapkan.

Third, ini guru yang paling muda diantara dua bu guru di atas, dann sekaligus paling heboh. Tentunya lebih heboh dari pada saya lah.. saya kan tidak pernah heboh, ga ada sejarahnya. Ohyaa, namanya bu Ana. Bu Ana, mamah dari murid perempuan Play group 01 Banyumanik yang bernama Fika, dan murid TK bernama Albi. Sudahlah, namanya orang heboh yaa, kalau tidak ada mereka di sekolah tuh suasana rasanya sepi. Si Fika ini wajah dan tingkah lakunya tengil-tengil gimana gitu, astaghfirullaah. Senang rasanya kenal dengan orang-orang baru ini, jadi makin happy dan rasanya seperti terapi untuk kejiawaan, hahaha.

Hmmm dan satu lagi yang walaupun bukan tenaga pengajar, tapi berperan penting membantu segala persiapan belajar mengajar. Namanya bu Mimih. Beliau ini yang paling senior diantara kita semua, beri hormat. Bu Mimih orangnya ramah, tinggal di jl Meranti, dan sebagaimana orang-orang senior lainnya yang pasti doyan cerita banyak hal. Hmm rasa-rasanya saya juga mulai seperti itu dong yaa berarti? Persiapan mulai dari kebersihan ruangan, bantu menyiapkan peralatan belajar, membantu kalau ada anak-anak yang mulai rewel juga dengan ikhlas beliau tuntaskan. Ntaappsss kan.

Segitu dulu boleh yaaa, atau ada lagi yang ingin kamu tau?

21 maret 2019

Catatan Hari Pertama

Bukan hari pertama sih, tapi catatan ini di dedikasikan untuk catatan awal mulainya saya mengajar dalam program internship mengajar di Play Group Aisyiyah 01 Banyumanik, Semarang. Sebagai catatan nih, saya sendiri yang menciptakan program internship ini dengan kekuatan fikiran saya. Beberapa hal awal adalah saya datang pagi hari jam 07:00 sambil berjalan kaki dari rumah yang hanya memakan waktu 7 menit saja. Simpel yaa, simpel tapi apa temen temen? Simpel pastenseeee.

Inframe : bu Tika bersama anak-anak PG yang sedang mengantre mencuci tangan sebelum makan.
(Dokumentasi pribadi)

Baikhhlah, mau cerita sedikit beberapa hal yang sempat terbesit ketika memulai di beberapa hari pertama, yaitu sejak tanggal 01 maret 2019. Saya pertama-tama masih dengan wajah-wajah bingung, harus menggunakan seragam apa ya biar tidak terlalu njomplang nih bentukannya dengan guru-gurunya. Saya sempat mengamati dalam diam, makhlum lah saya memang orangnya tidak terlalu banyak heboh-heboh yaa jadi kadang suka berfikir dalam diam.

Minggu pertama, okee saya sudah faham nih besok akan pakai baju apa supaya tidak beda jauh dengan para guru-guru asli. Ehh lah waktu mau saya aplikasikan di minggu kedua mengajar di sekolah, ternyata ada beberapa perbedaan. Hmm, kecelik saya nih. Memang yaa, ternyata guru-guru tuh punya beberapa seragam jadi mungkin dua minggu sekali ganti alur pemakaiannya. Agak sedikit kurang proporsional sih kalau dijelaskan disini, lain waktu kita jumpa dan ngobrol ini yaa.

Hal kedua yang ada di dalam benak saya adalah nama-nama para murid ini, beberapa dari mereka sangat menonjol sehingga mudah untuk di ingat mulai dari nama, gerak-geriknya, suara, sampai tas, botol minum dan sepatu saya juga bisa ingat. Lain cerita pada beberapa anak yang cenderung lebih asik dengan dunianya sendiri dan tidak banyak bersosialisasi dan menyuarakan dirinya. Kadang bentuk wajah, bentuk tubuh dan namanya saya masih suka tertukar.. hiks padahal ini sudah minggu ketiga mengajar loh. But it’s okey everything have their own time kok, keep in fighting.

Ketiga, ini sebenarnya adalah hal utama yang harus saya persiapkan. Yaitu hal apa yang bisa saya pelajari di dalam proses belajar mengajar ini. Hmmm Sepertinya : saya perlu membuat Rumusan Formula nya. Apa dan Seperti apa hal yang bisa dipelajari dan bisa di manfaatkan kembali. Tapi selain itu saya juga punya kewajiban untuk memberi kontribusi aktif kepada lembaga ini dong. Yagasi yakann.

Beberapa hal terkait dengan itu adalah bahwa program mengajar di play group dan TK menggunakan kelas sentra, dimana anak-anak akan belajar setiap harinya mengikuti jadwal sentra nya. Seperti bidang-bidang pelajaran gitu deh, sederhananya. Diantaranya sentra persiapan, sentra balok, sentra memasak, sentra peran, sentra air, dan masih ada lagi yang belum saya pahami dengan pasti. Soo, send me your doa yaa semoga bisa bermanfaat. Bismillah, love.

ditulis – 20 maret 2019