Membaui Aroma Karsa



Lanjut membaca, oke, jadi saya sedang membaca buku yang judulnya adalah “Aroma Karsa” karya Dee Lestari. Inget banget deh dulu sepertinya saya suka baca-baca novel begini jaman SMA. Sekian lama tidak membaca novel ternyata selera saya juga sudah mulai bergeser. Awalnya excited dan merasa tertarik banget saat membacanya. Mulai dari gaya penulisan, lalu banyaknya informasi-informasi baru yang bisa di dapat dari membaca buku ini, kekayaan bahasa yang dimiliki si penulis mampu menyenangkan hati pembacanya.

Hanya saja yaa, namanya juga novel pasti ada bumbu nya. Nah ternyata selera saya sudah tidak begitu senang mengecap rasa dari bumbu ini. Yang saya maksud di sini adalah bagian dari cerita bahwa.. bahwa ada tokoh wanita sebagai tokoh utamanya, Tanaya Suma. Tokoh wanita ini sudah punya kekasih, kemudian baru bertemu dengan tokoh utama laki-laki, Jati Wesi.

Huftt, mulai lah ada percikan-percikan api asmara diantara Suma dan Jati. Kenapa sih harus begitu, kenapa tidak membiarkan sepasang kekasih yang sudah bersama agar adem tenteram. Bahkan biarpun ini sebuah novel, apakah tidak bisa mempertimbangkan unsur keharmonisan sebuah jalinan kasih mereka?

Eiitss tapi secara keseluruhan ceritasaya suka buku ini. Ide ceritanya menarik, memadukan berbagai unsur petualangan, sejarah, cerita rakyat, keluarga dan cinta. Misteri tentang sebuah wangi tunggal dari sebuah bunga yang dikatakan memiliki kekuatan dahsyat dan mampu mengubah dunia, serta tercatat dalam sejarah Kerajaan Majapahit dengan sukses menjadi daya tarik yang memikat. Puspa Karsa, begitu nama bunga itu disebutkan berulang-ulang dalam buku ini. Merupakan perwujudan semacam dewa-dewi yang menampakkan dirinya dalam bentuk bunga.

Kepentingan seorang wanita bernama Raras Prayagung membulatkan tekat memberangkatkan sebuah tim ekspedisi dengan jumlah orang yang sedikit. Berangkat menuju suatu lokasi yang tertuliskan dalam sebuah lontar dan prasasti sejarah, menuju satu lokasi yang sering kita dengar, Gunung Lawu. Gunung yang walaupun sudah ramai dikunjungi oleh para pendaki, namun dikenal masih memiliki seribu misteri di dalamnya.

Berangkat dari rasa penasaran terkait misteri yang berada di Gunung Lawu dan didukung kemampuan si penulis dalam penuturannya yang runtut dan begitu jelas. Mengantarkan sekaligus mengikat saya untuk terus meneruskan membaca hingga pada halaman terakhir cerita ini dituliskan. Misteri yang tertuang dan secara perlahan mulai terlihat membuat hati pembaca merasakan sensasi gemas. Hahaha. Apakah hanya saya atau pembaca yang lain juga merasakan hal yang sama?

Sesuai dengan judulnya, cerita dalam buku ini sendiri mengangkat ide cerita mengenai aroma, kemampuan membaui. Seperti demikianlah yang disampaikan sang penulis di bagian belakang buku ini. Anyway dari pada penasaran seperti apa sih ceritanya, langsung cari buku nya dan bacalah. Selamat membaca, love.

Thankyou Aroma Karsa.



Menunggangi Ombak bersama Ocean Melody



Hari ini tgl 14 desember 2018 aku baru saja menyelesaikan (membaca) bukunya kak Gemala, Ocean Melody judulnya. Bercerita tentang pengalaman-pengalaman, cara dia melakukan surfing dan menunggangi ombak-ombak. Beberapa hal sederhana yang mungkin cerita seperti ini mudah membuat bosan. Sempat berfikir ending seperti apa yang akan disuguhkan buku ini, akan kah menjemukan dan datar. Nyatanya, aku menyukai bagian akhirnya, bagaimana ia menutup cerita yang dia suguhkan. Sederhana namun menginspirasi.

Cover book, gemes yaa.

Loh kok tau-tau jadi cerita endingnya doang ya? Hehehe.. jadi nih ceritanya menarik buat aku yang memang cinta air laut. Tuh kan, jadi kangen banget main slulup-slulup di air laut, panas matahari yang terik menjadi tak apalah, nikmati saja! Perpaduan pasir pantai yang putih, air laut yang masyaAllah alangkah jernihnya, panas matahari yang walaupun menyengat tapi sukses bikin happy, belum lagi pemandangan bawah lautnya yang aduhai. Aku bersyukur banget, pakai banget.

Hemm, tapi di buku ini yang dibahas adalah surfing, bukan diving seperti yang ku lakukan, hehe. Menarik banget sih, bagaimana kak Gemala menyampaikan mulai dari proses belajar, konsisten latihan, mulai memasuki dunia pekerjaan dan surfing menjadi bagian dari hembusan nafas dan hidupnya. Belum lagi, cara dia menggambarkan berbagai macam jenis ombak yang dia temui dan tunggangi. Sebenarnya saya yang penyelam dan menyukai air tenang, jelas saja takut mendengar betapa bergejolak nya tempat dia bermain. Tapi anehnya mampu membuat saya penasaran, walaupun sepertinya masih lebih besar rasa takut nya, hanya saja jika memang datang kesempatan itu di depan mata, yaa akan tetap dicoba juga. Apa yang salah dari mencoba, yakan?

Doi juga cerita-cerita tentang tempat-tempat surfing paling jempolan di Indonesia. Diantaranya, Cimaja di Jawa Barat, lalu Nembrala, Pulau Rote, Nias, Bali, Lombok, dan pantai Srau di daerah Pacitan. Wah sempat juga katanya ikut kompetisi di dalam kondisi ombak yang pecah gila-gilaan.

Mengikuti cerita dan baca jengkal demi jengkal, seperti apa perasaan yang dirasakan ketika kak Gemala. Yang seorang profesional surfer saja sebenarnya selalu mengalami ketakutan. Disetiap ombak dan tempat-tempat baru yang dia kunjungi, pada setiap kompetisi yang dia ikuti, pada tekanan-tekanan pekerjaan yang mengharuskannya mengambil ombak dengan proporsi yang tepat. Ternyata masih dan selalu diikuti perasaan takut. Perasaan yang menyelinap perlahan tetapi pasti. Aku mendadak jadi teringat kalau selalu nervous juga ketika menunggu waktu diving. Entah kenapa ada seperti perasaan takut, mual, ter-intimidasi. Apaan ya, kenapa ada perasaan ter-intimidasi segala coba? Hahaha.

Hal paling menarik dari membaca buku seperti ini tuh, kita jadi menemukan atau bisa dibilang mendapati diri kita mulai merasa berapi-api. Perasaan berapi-api, walau kecil namun muncul terus. karena terpacu untuk mampu melakukan dan memiliki semangat juang serupa seperti apa yang dikisahkan di dalam buku tersebut. Yasudah begitu dulu deh ceritanya, monggo dibaca sendiri. Menarik dan menginspirasi. Love.



Cerita dari Negeri Atap Dunia – Alaya



Okay then, i want to write about “Alaya” a book that told me a story about traveling to the roof of the world, Tibet.

IMG_20181115_142945
cover buku

Jadi hari itu saya lagi senggang dan otaknya lagi abstrak banget tidak tahu mau ngapain. Kluyuran naik motor siang hari, pamit mau ke kostan teman di Tembalang yang hanya berjarak beberapa menit dari rumah di Banyumanik. Eh tapi si teman saya malah entah kemana susah pula di hubungi, padahal panas sekali hari itu. Saya juga hanya pakai celana rumah-an dan kaos biasa tidak pakai jaket. Akhirnya memutuskan untuk mengarahkan stank motor menuju Gramedia di tengah kota Semarang. Yang perjalanannya membutuhkan waktu hingga 20 menit ditemani keramaian kendaraan lainnya.

Berputar-putar lah saya di toko buku mencari yang mana ingin saya bawa pulang sebagai teman sebelum tidur. Alaya – cerita dari negeri atap dunia karangan Daniel Mahendra menjadi satu dari dua buku yang saya timang menuju kasir dan akhirnya saya bawa pulang. Buku ini menceritakan tentang perjalanan seseorang menuju dataran tinggi di China bernama Tibet. Banyak buku dengan cerita-cerita menarik berderet di barisan yang sama dengan Alaya ini.

Tanpa sadar saya teringat bahwa saya pernah membuat daftar keinginan, dan di dalam catatan hal-hal yang ingin saya lakukan itu ternyata ada nama daerah bernama Tibet yang ingin saya kunjungi. Tidak perlu banyak pertimbangan saya langsung mengambil, membaca keterangan yang tertera di cover belakangnya sebentar dan kemudian melanjutkan mencari calon bacaan lain sambil tetap menimang si Alaya.

Judul : Alaya – cerita dari negeri atap dunia

Pengarang : Daniel Mahendra

Penerbit Epigraf, tebal 413 halaman, harga di pulau jawa Rp 99.000

Butuh waktu delapan belas hari untuk saya membaca habis 413 halaman buku ini. Menarik. Awalnya saya pikir hanya akan seperti cerita perjalanan biasa. Perjalanan yang mudah dan selalu menggembirakan, di bumbuhi dengan beberapa kejadian biasa yang diangkat sedikit lebih atraktif agar terasa menarik. Ternyata isinya lebih kepada catatan perjalanan dan beberapa renungan hidup sang penulis yang bergejolak dalam dirinya secara pribadi. Selain cerita perjalanan juga ada sedikit-sedikit catatan kecil untuk anaknya yang bernama Sekala. Manis dan berkarakter juga ternyata buku ini.

Selain cerita yang sarat makna juga buku ini dipenuhi berbagai informasi. Yaap, informasi bagaimana cara-cara yang memungkinkan kita untuk menuju Tibet, kota di tempat tinggi yang dalam bayangan saya terdapat desa dengan suasana hangat menyenangkan di tengah-tengah pegunungan salju yang dingin. Itu yang saya bayangkan. Sepertinya dulu saya lihat secuil gambaran itu dari sebuah majalah travel and adventure. Lain halnya dengan si penulis buku yang saya baca. Pemicu keinginannnya menuju Tibet adalah buku cerita petualangan Tintin di Tibet. Ada yang pernah baca atau tahu cerita itu? Saya pribadi sepertinya tidak pernah tahu, mungkin suatu saat nanti akan tahu juga hahaha.

Mulai dari pilihan jalur yang bisa digunakan untuk menuju Tibet, agen travel, pembuatan visa, informasi harga, maskapai, tempat penginapan, serta berbagai hal lain yang bisa membantu para pembaca untuk memahami kondisi penulis dan seperti apa kondisi perjalanannya. Tidak melulu tempat wisata yang di kunjungi seindah apa yang dibayangkan, malah jauh dari keadaan ideal yang disimpan lekat-lekat dalam otaknya selama ini. Adalah ekspektasi tinggi yang seringkali membuat kenyataan jadi terasa hambar atau bahkan membuatmu tersenyum kecut karena kurang sesuai dengan apa yang kamu harapkan. Hal seperti itulah yang sempat di lalui oleh si om Daniel Mahendra.

Selain menceritakan perjalanannya sedetail yang mampu dan perlu untuk di sampaikan, om Daniel juga menulis catatan pribadi untuk anaknya. Kadang terdiri dari berbagai cerita khilas balik masa dahulu yang bersamaan dan selaras dengan perjalanannya di negeri atap dunia.

Beberapa kali saya berpikir kalau buku ini mungkin seperti catatan seseorang yang sedang mencari jati dirinya, semacam mencari arti kebahagian. Kadang juga saya berpikir buku ini cocok sekali untuk catatan bagi para ayah, hahaha. Mungkin karena secara manis ada catatan milik om Daniel teruntuk anaknya yang bernama Sekala. Ada beberapa bagian yang masih belum bisa saya pahami dengan baik dalam pemaknaan nya dalam kehidupan pribadi, mungkin juga karena itu buku ini terasa masih menyisakan beberapa halaman yang menarik untuk saya.

Terlepas dari semua itu traveling sepertinya kurang lebih bertujuan untuk melihat keindahan dunia, melihat bentuk kehidupan yang lain di luar ruang hidup kita pribadi, belajar mengontrol dan menjadi pembuat keputusan untuk diri sendiri. Beberapa hal yang hanya bisa dilatih saat kamu melakukan traveling. Mengenal dan belajar dari karakter orang-orang baru yang kita temui dalam perjalanan. Hahaha semacam pembelaan untuk hobi traveling. Dan tentunya traveling seorang diri dapat memberi kita lebih banyak waktu untuk berpikir dan mengenal diri lebih dalam. So, lets go traveling around the world.

… percakapan di bawah ini, antara Daniel dan Barista, lelaki penjaga warung kopi di terminal bus Pokhara, Nepal.

apa yang kamu cari, Daniel?”

Tiba-tiba aku tercekat dengan pertanyaannya. Belum pernah ada orang yang bertanya seperti itu selama perjalananku. Apa yang aku cari? Gila! Aku tidak bisa menjawab pertanyaan sesederhana itu.

Apa yang aku cari? Aku menyeruput teh hangatku yang masih mengepul. Ia tersenyum seakan menangkap kegugupanku.

masa muda, Daniel. Masa muda. Memang seharusnya begitu. Pergilah ke mana pun kakimu melangkah. Itu akan menempamu. Memperkaya pengalaman batinmu.” ia menyedot lagi rokoknya. “tetapi pada saatnya tiba,” ia melanjutkan, “jadilah lali-laki yang merasa cukup dengan keluarga di rumah.”

ya, apa yang kamu cari, Daniel?

Menjadi lelaki memang harus pergi. Tapi dia juga harus pulang, karena ada yang mengasihi dan dikasihi di rumah!

(kutipan dari buku Alaya, dari penulis Gol A Gong).

Happy reading to you all, love.



Belajar Bisnis sama Donald Trump

Belajar Bisnis dari DONALD TRUMP

DSCF4463.JPG
lucu yaa covernya

Salah satu buku dengan porsi yang enak dan menyenangkan untuk dibaca. Awalnya bukan saya yang beli buku ini, tapi Ayah saya. Jangankan membicarakan tentang bisnis, tentang Donald Trump saja sebenarnya jarang banget dan hampir tidak tertarik. Tapi belakangan ini saya lagi haus dengan bacaan baru dan juga sedikit tertarik dengan bisnis. Jadi, maka dari itu hhaha, ketika ayah saya menyodorkan buku ini yaudala saya coba baca.

Awalnya agak kebingungan sih, apa yang akan saya temukan di dalam buku ini. Tidak ada ide, hampir tidak bisa menebaknya. Tapi sedikit penasaran dengan apa kira-kira yang dipikirkan si bapak Donald Trump, yang tertuang di dalam buku ini tentunya. Sudah tau Donald Trump kan? Presiden negara adidaya Amerika Serikat yang cukup terkenal… hmmm entahlah, coba cari di internet dan definisi kan sendiri sesuai pemahaman kamu hihi.

Jeng jengg… singkat cerita. By the way, covernya lucu gitu lihat wajahnya bapak Don. Saya kira tuh isinya bakal mengupas habis cara menjalani dan membangun sebuah bisnis gitu. Tapi tidak, disini isinya lebih seperti bagaimana pedoman-pedoman hidup si bapak Don. Latar belakang si bapak Don sempat dijelaskan di bagian awal buku, keluarganya, pencapaian-pencapaian apa saja yang sudah di miliki oleh si bapak, sampai disebutkan kalau apak Don tuh orang yang kaya raya. Saya kalau tidak baca buku ini, saya sepertinya tidak akan tahu kalau Donald Trump itu yang punya acara Miss Universe. Dan berbagai penjelasan tentang aneka pencapaiannya yang bisa dibilang luar biasa gemilang. Berdasarkan buku ini sih, itu karena kemampuan si bapak Don yang jago negoisasi, dan lagi dia sudah terbiasa dengan dunia bisnis sejak kecil.

Teruss.. terus nih gengs isi bukunya tuh lebih kepada bagaimana pedoman-pedoman hidup si bapak Don. Hal-hal yang menjadi prinsip hidup seorang Donald Trump, yang dipegang teguh sampai dapat mencapai semua keberhasilannya. Nah diantara lain contohnya seperti selalu berfikir positif, belajar mencintai pekerjaan kita, berani mengambil resiko, berani bermimpi besar dan selalu bersiap untuk menghadapi perubahan.

Dan beberapa bagian yang menurut saya menarik dan patut dicontoh akan saya bagikan di sini. “Jika Akan Bermimpi, Bermimpilah yang Besar”. Begitu katanya, menurut kamu bagaimana? Saya tau jelas pasti ada sebagian dari kita yang bersikap sebaliknya, yaitu janganlah bermimpi terlalu besar atau terlalu tinggi. Menurut saya itu karena kita kurang percaya pada diri kita sendiri, dan kurang memiliki motivasi untuk berubah ke arah lebih baik, atau juga mungkin kurang memiliki daya juang? Eh tunggu sebentar… Mungkin maksud saya bukannya tidak memiliki keinginan untuk berubah ke arah yang lebih baik. Memangnya saya siap, kok sotoy dengan keinginan dan pencapaian hidup orang (?).

Oke baiklah, intinya bermimpi yang besar tidak akan menyakiti dirimu. Justru hal itu mampu memberi kekuatan untuk menggali potensi terbaik dari diri kita. Mau mengutip dari buku nih, kata Paul Hovey “dunia orang buta dibatasi oleh sentuhannya; dunia orang dungu dibatasi oleh pengetahuannya; dan dunia orang hebat dibatasi oleh visinya.”
Nah loh, dapat kamu mengerti kan maknanya?

Masih banyak sih bagian yang saya suka dan bisa jadi pengingat untuk diri sendiri agar terus mengekstrak kemampuan dalam diri saya. Ada satu hal yang tidak pernah terfikirkan bahwa seorang Donald Trump adalah orang yang mampu berfikir semacam ini.

“Saat segala hal bermasalah, lihatlah dulu diri sendiri. Jangan langsung menyalakan orang lain atau keadaan.” (Donald Trump) begitu katanya. Rasanya seperti di tampar di wajah dengan kerass, iyaa ya.. kita cenderung mencari-cari kesalahan saat terjadi suatu masalah. Kadang malah lupa untuk mengoreksi diri sendiri. Entah itu apa namanya, atau karena kita pribadi tidak mau mengakui kesalahan yang kita lakukan yaa. “Jika anda mau menerima kejayaan, bersedialah menerima kesalahan.” begitu kata Bapak Don.

Betapa saya harus berulang kali menilik kepada diri saya pribadi bagaimana selama ini sikap saya dalam menyikapi berbagai masalah. Apakah saya mau mengoreksi diri sendiri, atau malah sibuk mencari kambing hitam? Masih saya pikirkan dan coba hayati. Tapi mungkin itu dulu yang saya coba sampaikan dengan santai seperti di pantai, nanti akan ada next episode yaa. Byee and thankyou. Selamat berbahagia 🙂

Lanjutan Buku Amor Fati



Ingin lanjut untuk menceritakan isi buku yang tempo hari sudah saya bahas sedikit. AMOR FATI, oleh Rando Kim. Amor Fati sendiri berasal dari bahasa latin yang berarti cintai takdirmu.

Sekarang kita berada di dalam bab yang mengatakan “Pemilik Rumah Terbaik adalah yang Terkejam” bagiamana menurut anda dengan sepenggal kalimat itu? Disini prof. Kim menjelaskan secara singkat kurang lebih bahwa keadaan yang nyaman kadang malah menghanyutkan anda, dan sebaliknya, keadaan yang tidak nyaman dapat mendorong anda menunjukkan yang terbaik dari diri anda.

Sebagian orang mungkin merasa sangat hancur ketika belum berhasil dalam suatu tahap, atau ketika gagal saat berjuang mencapai impiannya. Kemudian merasa sedih dan terpuruk. Jika kita mau melihat dari sisi lain sebenarnya hal itu adalah hal baik, karena dari kegagalan kita bisa mengoreksi diri dan mengekstrak diri menuju versi yang lebih baik. Menurut saya pribadi, kegagalan adalah sebuah cara pandang dan bagaimana kita menyikapinya. Ingatlah untuk selalu berfikir positif dan bersikap optimis dalam berbagai keadaan, karena hal itu mampu membuat kita bahagia. Ketika hal yang kita sangat impikan dan dambakan belum terwujud, tenanglah, tetap tersenyum dan yakin bahwa ada hal positif yang mampu anda ambil dari kegagalan tersebut. Tentunya semua pencapaian kita juga jangan terlepas dari rasa syukur, hal itu adalah kunci untuk melengkapi segala yang kita miliki.

Sekarang coba posisikan diri anda selalu menjadi orang yang beruntung dalam banyak hal, bahkan tanpa usaha yang berarti. Tanpa disadari hal itu dapat membuat anda menjadi terlena, seperti bayi terlena dalam ayunan ibunya. Secara pribadi, hal ini pun sering terjadi kepada saya, saya begitu sering berada dalam kondisi serba enak. Bukannya tidak bersyukur, kita harus bersyukur, dan itu wajib di segala kondisi. Tapi lambat laun saya mulai tersadar, kita ambil contoh ketika saya masih di bangku sekolah. Saya mendapat tugas berkelompok, pada kelompok saya terdapat anak yang lebih menonjol dan lebih cerdas dari anak-anak lain tentunya. Dalam kondisi itu saya cenderung jadi kurang berjuang untuk diri dan kelompok saya, karena tanpa sadar mengandalkan dan agak bergantung kemampuan teman saya. Kondisi ini menjadikan saya tidak mengasah kemampuan diri saya dengan maksimal, karena sudah merasa terselamatkan.

Dalam bukunya Rando Kim mengatakan :

DSCF4459.JPG
Kutipan dari buku Amor Fati.

dan saya sadar mengenai hal itu, hanya beberapa waktu yang lalu. Ketika saya harus merantau keluar daerah selama enam bulan. Tanpa orang yang saya kenal dan tanpa saudara. Maka saya terpacu untuk bisa mencari teman sendiri, belajar bergaul, mencoba mengerti pekerjaan saya dengan terus menjunjung tinggi komunikasi dengan rekan kerja saya. Dan jujur saja, hal itu mengasyikkan.

Terimakasih sudah membaca, selamat berbahagia untuk disetiap harinya 🙂



Kisah Yang Membunuh Kolonialisme – Max Havelaar



Penulis : Multatuli (Eduard Douwes Dekker)

Dibaca sejak 10 maret 2017 – 17 september 2017

Kutipan singkat : Kisah yang membunuh Kolonialisme – Pramoedya Ananta Toer (new york times, 1999)

P_20170929_113040

Pertama kali baca buku ini sudah diwanti-wanti sama yang punya (ini buku minjem), bacaannya berat. Dan memang benar, mulai dari bahasa yang digunakan, alur cerita yang disampaikan, latar belakang kehidupan tokoh yang berada di Belanda, dan pesan yang disampaikan juga cukup berat. Teruntuk saya yang sebenarnya jarang membaca, tapi memaksakan diri suka membaca. Terbukti dari lama waktu yang saya habiskan untuk menamatkannya.

Buku ini menceritakan tentang kehidupan seorang Asisten Residen di daerah Jawa, dalam masa kejayaan Hindia-Belanda. Asisten Residen ini bernama Max Havelaar (tokoh utama), merupakan orang yang jujur dan memperjuangkan hak dan kebenaran. Berusaha memperjuangkan hak masyarakat pribumi di Jawa, dan seluruh Indonesia yang menderita akibat adanya kerja paksa yang dilakukan baik oleh penguasa Belanda maupun oleh penguasa pribumi yang diangkat menjadi pejabat daerah, sangat ironi.

Cara penulis menceritakan kisah Max Havelaar merupakan cara yang jarang saya temukan dalam sebuah tulisan. Mengadaptasi dari kejadian nyata, meskipun tidak secara keseluruhan.

Hal yang paling aku sukai adalah ketika Max Havelaar (didukung oleh istrinya yang amaaat setia) tetap dengan mantap menjunjung tinggi hak dan kebenaran yang terjadi di depan matanya, meskipun kondisi Havelaar sendiri cukup melarat. Artinya dia tidak hidup dalam kemapanan, dan hidup sangat mengirit dalam kebutuhan sehari-hari. Hal ini karena dia sibuk membantu orang-orang tertindas di sekitarnya.

… ujar Havelaar “ aku sangat tidak ingin meninggalkan Lebak… Nanti akan kujelaskan. Percayakah kau bahwa kita semakin mencintai Max setelah penyakitnya itu? Kini, tampaknya aku semakin mencintai Lebak setelah daerah itu terbebas dari kanker yang dideritanya selama bertahun-tahun. Pikiran mengenai kenaikan jabatan menakutkanku. Namun disisi lain ketika kupikirkan  kembali bahwa kita punya utang…”

“semuanya akan beres, Max! Seandanya pun harus pergi dari sini, kau bisa membantu Lebak setelah menjadi gubernur jenderal” (ujar Tine-istri Havelaar)

Tak ama kemudian, muncullah garis-garis liar dalam pola yang digambar Havelaar. Ada kemarahan dalam bunga-bunga itu… Garis-garis itu tajam, meruncing, bersilangan… Tine mengerti bahwa dia mengucapkan sesuatu yang keliru.

Dikutip dari buku Max Havelaar, hal 443

Secuil percakapan dalam buku ini adalah hal yang paling membekas dalam ingatanku, disana emosi Havelaar memuncak karena merasa tidak berdaya untuk memperjuangkan kelayakan hidup ribuan rakyat pulau Jawa yang hidup dalam kemiskinan dan penindasan oleh pemerintah Hindia-Belanda.

Sesudahnya, Max Havelaar memundurkan diri dari jabatannya. Beberapa mungkin menyiakan keputusannya, karena dia bisa saja membantu memperjuangkan nasib rakyat pribumi dengan jabatannya. Namun untuk saya pribadi hal itu relatif, saya mendukung yang dilakukan oleh Max Havelaar. Lakukan apa yang kamu bisa mulai dari sekarang, mulai dengan apa saja yang kamu miliki dan ada disekitarmu, jangan menunggu terus-menerus untuk melakukan hal baik (dalam kasus ini-untuk membantu pribumi). Karena bahkan kenaikan pangkat Max Havelaar kita tidak pernah tau apakah itu akan benar-benar terjadi, dan apakah itu bisa membantu?

Nyatanya yang kita tau sekarang, adalah apa yang kita pegang dan kita baca, Max Havelaar! “kisah yang ‘membunuh’ kolonialisme.”

Thankyou Max, you inspire me..



Baca Buku “Amor Fati” part 1



Untuk saya yang (sepertinya) sedang beranjak dewasa, dan untuk yang punya waktu luang membaca tulisan ini 🙂 mari kita berdoa, semoga tulisan ini ada manfaatnya.

Judul : Amor Fati -cintai takdirmu- (korean best seller)

Penulis : Rando Kim

Berjarak delapan bulan dari semenjak saya lulus perkuliahan di universitas yang lumayan ternama, dan kira-kira satu bulan semenjak saya selesai dengan pekerjaan pertama saya dan satu bulan kembali ke rumah setelah merantau enam bulan lamanya. Saya masih dalam suasana belum siap masuk ke dalam pekerjaan lainnya, dalam suasana ayah saya mulai menyodorkan beberapa pilihan hal yang bisa saya lakukan sekarang ini untuk menunjang kehidupan dan finansial saya, dan juga beberapa pilihan yang sifatnya selain menunjang finansial juga sedikit seperti memenuhi impian-impian ayah saya.

Sebagai anaknya, saya senang ayah saya masih menanamkan impiannya di dalam diri saya. Disatu sisi kok rasanya kurang sesuai dengan passion saya. Pada beberapa moment ibu saya juga sudah mulai bertanya “kamu selanjutnya mau ngapain?” Nah lohh kan confiused. Mendadak rasanya saya terlambat dewasa, rasanya saya masih kekanak-kanakan banget. Rasanya kemarin saya kebanyakan ketawa dan bengong, dan terlalu banyak melewati pembelajaran-pembelajaran berharga. Dan mendadak hampir tidak bisa berfikir.

Terus yasudahlah singkat cerita saya nemu buku ini, tentunya di toko buku. Amor Fati oleh Rando Kim. Tertulis dalam cover ini, teruntuk kamu yang beranjak dewasa. Tidak tahu ide apa dan harapan seperti apa yang saya harapkan akan saya dapatkan dari buku ini, tapi semoga agaknya bermafaat yaa. Dan lagi saya selalu berusaha untuk positive thinking tentang segala hal, walau sekecil apapun pasti akan ada manfaatnya yang bisa diambil.

DSCF4146.JPG

Ada beberapa hal yang dibahas di dalam buku ini, diantaranya pasti dilema-dilema remaja yang tidak sadar ternyata umurnya sudah masuk dimana dia dapat dikatakan sebagai orang dewasa. Seperti masalah-masalah yang baru muncul ketika kita memasuki dunia kerja pertama kalinya, kita yang mulai dihadapkan dengan berbagai masalah dan harus mulai mampu mengambil keputusan dan mempertanggung jawabkan keputusan itu. Sebenarnya lebih masih lebih banyak dari itu semua isi yang dibahas buku ini.

Okee saya akan coba bahas dari beberapa hal sederhana. Pertama kita para remaja mulai memasuki dunia dewasa melalui pintu gerbang yang namanya pekerjaan, bertemu rekan baru, bertemu atasan dengan watak yang tidak terduga, kebijakan-kebijakan yang tidak pernah kita tahu sebelumnya, mungkin itu hal yang cukup membuat kaget para anak dewasa baru. Pun begitu saya merasa banget dalam pekerjaan pertama saya, sebenarnya tempat kerja pertama saya ini luar biasa santai sih. Dan di titik itu saya bersyukur banget. Tantangan terberat saya adalah saya harus mampu memanage diri sendiri untuk bisa memberikan performa terbaik dalam kondisi yang serba nyaman. Jujur itu susah banget, khusus nya untuk saya sendiri.

Ada cerita yang cukup menarik dalam buku ini, sesuai judulnya di halaman cover “cintai takdirmu”. Kalian sependapat kah kalau dua kata itu terdengar sedikit menyebalkan? Hal itu yang siap disampaikan oleh sang penulis, Rando Kim.

Waktu itu beliau diminta hadir sebagai narasumber dalam sebuah program radio, kemudian ada penelfon yang menceritakan keluh kesah hidupnya, keluarganya kecilnya yang porak poranda karena goncangan ekonomi, ibunya yang sakit kanker, ayahnya yang kemudian jadi mabuk-mabukan, kakaknya menjadi orang yang aneh dan suka meminjam teman uangnya untuk mabuk-mabukan, dan dia tidak tahu harus berbuat apa. Namun begitu, pak Rando Kim yang diharapkan mampu memberi bantuan solusi untuk masalahnya, hanya mengatakan untuk “men-Cintai Takdir-nya”. Jujur saja siapa yang tidak kesal ketika sudah curhat panjang lebar dengan emosional pula, berharap bantuan sekedar saran dan solusi sedemikian rupa tapi hanya dapat jawaban seperti itu? Saya pun mungkin kalau ada dalam posisi sebagai penelfon akan kesal jadinya.

Dalam buku ini beliau menceritakan :

Saya pun, secara pribadi, mengirimkan surat yang bertuliskan kata Amor Fati kepadanya. Sebulan kemudian, datang balasan surat darinya. Ia berkata bahwa saat pertam kali mendengar kalimat “cintai takdirmu”, ia benar-benar marah. Bagaimana ia bisa mencintai takdirnya yang demikian? Ia sampai berfikir bahwa saya sungguh keterlaluan. Namun, siring berjalannya waktu, ia tersadar bahwa masalah apapun tidak akan terselesaikan jika ia tidak mencintai takdirnya sendiri.

Menurut saya, Kakak dan Ayah yang Anda ceritakan tadi pun mungkin berubah karena mereka tidak bisa mencintai takdir mereka sendiri.

Kata prof kim : Aku jarang mengatakan kalimat “cintai takdirmu” kepada orang lain. Kalimat itu terbilang kejam. Saran untuk mencintai takdir yang hanya menyisakan hukuman yang melekat erat bukanlah hal yang mudah dikatakan oleh pihak ketiga. Oleh karena itu aku baru mengatakannya setelah siap menerima kebencian itu. Kalimat “cintai takdirmu” bukan mengajak untuk pasrah dan menyerah sama sekali, melainkan berisi pengharapan agar seseorang mengerti bahwa setelah ia menerima sepenuhnya takdir itu sebagai bagian dari hidupnya, barulah akan muncul kekuatan untuk bertahan.

Sebenarnya, kita semua memiliki penderitaan yang tidak bisa kita selesaikan walau dengan seluruh tenaga sekalipun. Saat menatap bayangan hitam yang menempel di kakiku di bawah terik matahari, sebuah pikiran melintas di benakku: sebuah bayangan pasti akan muncul bila seseorang tertimpa cahaya. Walau cuaca tanpa mendung, pada tengah hari yang cerah, cahaya yang terpancar seperti fluks sinar kehidupan yang terang justru lebih memperjelas bayangan. Bayangan itu tidak terelakkan.

By the way saya juga sempat satu kali dalam kondisi yang kurang lebih sejenis dengan prof Kim. Ketika itu saya dihadapkan dengan beberapa permasalahan sedernaha di tempat saya bekerja, kondisi ketika saya harus mengambil sebuah keputusan. Yang tentunya, saya ingin keputusan ini berdampak baik bagi semua pihak dan menyenangkan semua. Namun, apalah arti menyenangkan semua pihak. Sebuah kebenaran itu relatif, semua orang punya caranya masing-masing dalam memilai kebenaran. (tidak begitu sesuai dengan bahasan diatas yaa? haha) Maka disitu saya baru sadar, saya baru keluar dari bayang-bayang kebahagiaan masa remaja dengan cita-cita membuat semua orang bahagia. Kamu tidak bisa selalu membuat semua orang bahagia, bersiaplah dengan berbagai keputusan yang disana akan ada yang mampu menerimanya dan ada pula yang sebaliknya.

Kamu tidak perlu membuat semua orang menyukaimu, dan bahagia kerenamu. Fokus pada apa yang mampu kamu lakukan, dan lakukan dengan cara terbaik. Kadang, beberapa hal atau keputusan yang kita sampaikan sekarang terdengar menyebalkan tapi baru akan terasa dampak positifnya dalam waktu mendatang.

Saya sempat tidak bersemangat membaca buku ini, karena teman saya bilang buat apa baca buku begitu.. tapi saya tersenyum saja menanggapinya. Dalam hati saya jadi sedikit patah semangat, tapi saya ingin tetap positive thinking, jadi tetap saya lanjutkan dengan santai dan sampai halaman terakhir. Sempat saya perlihatkan isi buku ini kepada teman saya, di satu bagian yang saya yakin dia banget, hasilnya? Dia tarik kata-kata bahwa buku ini tidak perlu untuk dibaca, hehe lihatkan? Bahwa selalu ada sisi positif disegala tempat walau hanya secuilpun.

Masih ada beberapa hal yang bisa diceritakan dalam buku ini, mungkin akan saya lanjut di blog lainnya. Happy reading! Selamat berbahagia.



Cara Traveling Gratis ala Trinity dan Yasmin



Jadi saya mau ceritakan tentang buku ini, “69 Cara Traveling Gratis”.
Menarik? Hmm cukup menarik menurut saya, ada beberapa cara unik yang mungkin sebelumnya tidak pernah saya fikirkan. Saya bukan beli buku ini karena setengah mati kepingin traveling gratis, tapi lebih karena rasa penasaran saja.

Judul buku = 69 Cara Traveling Gratis
Penulis = Trinity and Yasmin
Start baca 30 juni 2018 – 5 juli 2018

kamera mb alif 2229
cover dari buku yang tersebut

Iyaa, tidak memerlukan waktu yang lama untuk membaca buku ini. Bahasa yang digunakan ringan, pun begitu dengan hal-hal yang disampaikan. Mulai dari mengambil peluang untuk mengikuti student exchange, menjadi make up artist, berprofesi menjadi reporter dan bahkan sampai menikah atau menjadi simpanan orang kayaaaa, wah hello, gila juga nih hahaha.

Tapi ada beberapa hal atau cara yang menarik perhatian saya, contohnya cara nomor 25, caranya adalah menjadi anggota dalam sirkus keliling. Menurut saya ini menarik sekali, karena yang saya lihat sirkus itu seperti hal yang menakjubkan (sirkus-sirkus yang saya lihat di tv), selalu mempertunjukkan hal yang unik dan tidak semua orang bisa melakukan hal tersebut, bahkan kadang berbahaya. Dan lagi saya tuh seperti jarang banget lihat sirkus di Indonesia, ini apa saya yang katrok ya?

Lalu ada juga cara nomor 42 yaitu profesi sebagai pendongeng atau pesulap, nah yang saya tertarik sih jadi pendongeng nya. Sepertinya seru. Saya tuh lumayan suka dengan anak-anak, apalagi mengingat suara saya yang cempreng dan seperti suara anak kecil hehehe. Sepertinya saya mau coba untuk belajar mendongeng, salah satunya supaya bisa ajak anak-anak kecil bermain agar tidak terlalu terpaku dengan kecanggihan gadget. Ada yang pernah mendongeng? Saya mau diajari mendongeng dong..

Satu lagi nih yang unik, yang ini sebenarnya mirip-mirip dengan keluarga saya, yaitu menjadi TNI atau Polisi. Orang tua saya sih bekerja di Telkom dan satunya Polisi, dan dua hal ini sama-sama menciptakan keadaan dimana orang tua saya tugaskan di luar daerah jawa. Asiknyaa, ya betul seperti yang disampaikan oleh kak Trinity dalam buku ini profesi ini bisa membawa anda traveling gratis ahhaha. Dan itu lebih ke orangnya masing-masing, menganggap itu sebagai kesempatan traveling gratis atau lebih seperti terlempar jauh di tempat yang tidak dia kenali.

Kalau boleh sih saya mau menambahkan profesi sebagai dive guide sebagai salah satu dari sekian banyak profesi yang bisa bikin kamu traveling gratis hehehe. Iyaa, sebagai dive guide biasanya akan menemani grup diving, kemana aja mereka dive. Yaa kadang bisa saja dari dive center yang mengadakan open trip. Setidaknya punya sertifikat rescue atau dive master bisa digunakan sebagai bekal untuk jadi guide. Seru lohh tripnya bikin kamu jalan-jalan di darat dan diving juga, siapa sih jaman sekarang yang tidak kenal dengan dunia diving? Yang belum kenal, ayoklah kenalan.

by the way salam kenal yaa, buat yang belum kenal dengan dunia diving saya dan teman-teman siap dan dengan hati gembira ingin mengajak kalian berkenalan 🙂

The Secret



“Harus dirahasiakan dongg !” kata Kakak Saya waktu Saya tanya pernah baca buku ini atau belum.

IMG20180616220123

Penulisnya Rhonda Byrne, mulai Saya baca sejak tgl 6 mei 2018, dan sekarang sudah lebih dari satu bulan untuk membaca buku ini. Awalnya sama sekali tidak tertarik, tapi bentuknya yang kecil dan tidak tahu ada dorongan apa Saya baca beberapa halaman awal. Yang awalnya tidak peduli, sekarang jadi kecanduan dan merasa harus dibaca sampai tuntas bahkan Saya merasa harus mampu menerapkan apa yang disampaikan dalam buku ini.

Sesuai dengan namanya, dalam buku ini sang penulis katakan dia ingin membongkar rahasia kepada dunia, dan ternyata sudah di film kan. Soo, Saya rasa kelak namanya bukan rahasia lagi.. mungkin pengetahuan umum?

Then langsung saja, bahwasanya rahasia yang ingin disampaikan itu dinamakan “Hukum Tarik-Menarik”. Yapp, namanya sesimpel itu saja. Dikatakan dimana sebuah fikiran dapat terjadi tepat seperti apa yang ada dalam fikiran itu. Seperti suatu hal akan terjadi sesuai dengan apa yang kamu inginkan, atau apa yang kamu minta. Apa yang kamu minta, yang kamu fikirkan akan menarik hal itu benar-benar terjadi di masa depan. Semesta akan mendengar permintaanmu, dan akan mewujudkannya.

Mungkin untuk beberapa orang tidak dapat menerima apa yang disampaikan oleh buku ini berdasarkan alasannya masing-masing. Tapi bagi Saya hal ini masuk akal atau mungkin sebenarnya tidak, hanya saja memang otak Saya setuju untuk menyepakatinya. Dalam pandangan lain mungkin ini seperti sesuatu yang memberikan harapan. Namun yang Saya sukai adalah inti dari semua itu mengajak kita untuk selalu berfikir positif, dan optimis.

Teman Saya sempat bilang takut untuk melanjutkan buku ini, ada ketakutan seperti bagaimana kalau dia memikirkan hal-hal buruk secara terus menerus dan itu akan terjadi? Sebenarnya dia percaya, tapi mungkin karena ketakutan itu muncul dan dia memilih tidak mempercayai sepenuhnya (?) who knows.

By the way Saya tetap lanjut baca buku ini, ada satu hal yang kurang Saya senangi namun rasanya menjadi bagian yang cukup penting dalam penerapan hukum tarik menarik. And the book told me “cara menggunakan rahasia”.  Langkah nomor satu adalah Meminta, kemudian Percaya, dan yang terakhir adalah Menerima.

Sesuai dengan apa yang terangkum dalam buku ini dikatakan :

  • Proses penciptaan membantu Anda menciptakan apa yang Anda inginkan dalam tiga langkah sederhana : meminta, percaya dan menerima.
  • Meminta apa yang Anda inginkan kepada Semesta adalah kesempatan untuk menjelaskan apa yang Anda inginkan kepada diri sendiri. Ketika permintaan itu menjadi jelas di benak Anda, Anda sudah memintanya.
  • Percaya melibatkan bertindak, berbicara, dan berfikir seakan-akan Anda sudah menerima apa yang anda minta. Ketika Anda memunculkan frekuensi menerima, hukum tarik-menarik akan menggerakkan orang, peristiwa, dan situasi kepada Anda untuk menerima.
  • Menerima melibatkan perasaan seperti yang Anda rasakan ketika permintaan Anda terwujud. Merasa baik dan senang pada saat kini akan menempatkan Anda pada frekuensi yang Anda minta.

Pada tahapan ketiga disampaikan juga bahwa Anda perlu membayangkan dan benar-benar mempercayai, memvisualisasikan perasaan dan seperti apa kondisinya ketika keinginan Anda menjadi nyata. Saya merasa agak terganggu dengan hal itu, seperti ada sedikit unsur keterpaksaan, seperti kamu terlalu memaksakan bahkan sampai ke tahap dimana kamu harus berkhayal-khayal.

Tapi ketika Saya lanjutkan lagi dan sambil mencoba meminta hal yang Saya inginkan (jujur saja permintaan Saya tidak lepas dari keragu-raguan di dasar hati). Dan tanpa sadar ternyata Saya beberapa kali membayangkan kejadian-kejadian ketika mimpi Saya menjadi nyata. Sempat kaget, apa Saya sudah terpengaruh oleh buku ini?

Namun rasanya penjelasan dari tiga tahapan proses di atas bukanlah sesuatu yang dibuat-buat. Melainkan penjelasan masuk akal dari apa yang selama ini kita lakukan, bahkan tanpa kita sadari. Tanpa kita sadari selama ini otak kita telah menerapkan hukum tarik-menarik. Kita hanya tidak sadar seberapa berdayanya kekuatan fikiran kita.

Masih ada beberapa penjelasan seru dari buku ini, mungkin nanti akan Saya lanjutkan. See you <3



Membaui Aroma Karsa

Lanjut membaca, oke, jadi saya sedang membaca buku yang judulnya adalah “Aroma Karsa” karya Dee Lestari. Inget banget deh dulu sepertinya saya suka baca-baca novel begini jaman SMA. Sekian lama tidak membaca novel ternyata selera saya juga sudah mulai bergeser. Awalnya excited dan merasa tertarik banget saat membacanya. Mulai dari gaya penulisan, lalu banyaknya informasi-informasi baru yang bisa di dapat dari membaca buku ini, kekayaan bahasa yang dimiliki si penulis mampu menyenangkan hati pembacanya.

Hanya saja yaa, namanya juga novel pasti ada bumbu nya. Nah ternyata selera saya sudah tidak begitu senang mengecap rasa dari bumbu ini. Yang saya maksud di sini adalah bagian dari cerita bahwa.. bahwa ada tokoh wanita sebagai tokoh utamanya, Tanaya Suma. Tokoh wanita ini sudah punya kekasih, kemudian baru bertemu dengan tokoh utama laki-laki, Jati Wesi.

Huftt, mulai lah ada percikan-percikan api asmara diantara Suma dan Jati. Kenapa sih harus begitu, kenapa tidak membiarkan sepasang kekasih yang sudah bersama agar adem tenteram. Bahkan biarpun ini sebuah novel, apakah tidak bisa mempertimbangkan unsur keharmonisan sebuah jalinan kasih mereka?

Eiitss tapi secara keseluruhan ceritasaya suka buku ini. Ide ceritanya menarik, memadukan berbagai unsur petualangan, sejarah, cerita rakyat, keluarga dan cinta. Misteri tentang sebuah wangi tunggal dari sebuah bunga yang dikatakan memiliki kekuatan dahsyat dan mampu mengubah dunia, serta tercatat dalam sejarah Kerajaan Majapahit dengan sukses menjadi daya tarik yang memikat. Puspa Karsa, begitu nama bunga itu disebutkan berulang-ulang dalam buku ini. Merupakan perwujudan semacam dewa-dewi yang menampakkan dirinya dalam bentuk bunga.

Kepentingan seorang wanita bernama Raras Prayagung membulatkan tekat memberangkatkan sebuah tim ekspedisi dengan jumlah orang yang sedikit. Berangkat menuju suatu lokasi yang tertuliskan dalam sebuah lontar dan prasasti sejarah, menuju satu lokasi yang sering kita dengar, Gunung Lawu. Gunung yang walaupun sudah ramai dikunjungi oleh para pendaki, namun dikenal masih memiliki seribu misteri di dalamnya.

Berangkat dari rasa penasaran terkait misteri yang berada di Gunung Lawu dan didukung kemampuan si penulis dalam penuturannya yang runtut dan begitu jelas. Mengantarkan sekaligus mengikat saya untuk terus meneruskan membaca hingga pada halaman terakhir cerita ini dituliskan. Misteri yang tertuang dan secara perlahan mulai terlihat membuat hati pembaca merasakan sensasi gemas. Hahaha. Apakah hanya saya atau pembaca yang lain juga merasakan hal yang sama?

Sesuai dengan judulnya, cerita dalam buku ini sendiri mengangkat ide cerita mengenai aroma, kemampuan membaui. Seperti demikianlah yang disampaikan sang penulis di bagian belakang buku ini. Anyway dari pada penasaran seperti apa sih ceritanya, langsung cari buku nya dan bacalah. Selamat membaca, love.

Thankyou Aroma Karsa.