Lihat-Lihat Batik Danar Hadi, Penasaran?

Ada yang pernah dengar nama Batik Danar Hadi?

Logo Batik Danar Hadi
sumber : google.

Iyaa, merek batik terkenal itu. Batik-batik cantik dengan aneka motif dan corak. Danar Hadi sendiri adalah nama sebuah brand toko batik yang berpusat di kota Solo dan juga Jakarta, kalau cabangnya sih sudah ada di banyak kota besar seperti Semarang, Jakarta, Yogya, Bali dan Balikpapan. Nah, yang istimewa kalau kamu mampir dan berkunjung ke toko nya di kota Solo ini kamu bisa sekaligus berwisata di Museumnya. Coba cek official instagram nya, tertulis bahwa mereka memajang sekitar 1000 lebih jenis batik yang umurnya sudah entah berapa puluh/ratusan tahun, hmm tapi ternyata koleksi kain batik kunonya sendiri bisa mencapai 10.000 loh. Wadaw, kebayang ngga tuh?

Nama Danar Hadi sendiri ternyata diambil dari ‘Danar’ nama istri Bapak H Santosa Doellah S.E., dan ‘Hadi’ ternyata nama dari Bapaknya Bu Danar yang mana pak Hadi ini adalah juragan batik. Sedangkan orang tua nya pak Pak Santosa adalah seorang dokter. Sedangkan kakek buyutnya Pak Santosa yang sekarang berusia 77 tahun ini adalah salah seorang abdi dalem Keraton Solo.


Yang ini Logo Batik Danar Hadi pada jaman dahulu, yang mengenakan kacamata hitam itu adalah ibu Danar. Kece banget yaa, suka.
sumber : google.

Kalau kamu datang ke museum ini secara langsung kamu pasti bakal suka deh, sayangnya di dalam museum tidak boleh berfoto-foto tuh. Simpan dulu yaa kameranya, kita fokus mendengarkan penjelasan tour guide nya yang ternyata memang menarik dan sarat pengetahuan tauk!

Khawatir akan kehilangan informasi berharga yang disampaikan hanya dalam sekejap mata, saya akhirnya merekam suara si tour guide ini. Ahhaha. Seru juga kalau mendengarkan percakapan rombongan kami saat tour.

Hmm, by the way saat menuju ke museum saya berangkat sendirian setelah sebelumnya menuntaskan perjalan bisnis (di Assalaam Hotel) hahaha promosi sedikit yaa. Kemudian saya digabungkan dengan rombongan dua orang mba cantik asal Sumatra yang kebetulan sedang main di Solo. Untuk tiket masuk museum nya saya termasuk golongan umum dan dikenakan biaya Rp 35.000 sedangkan untuk pelajar Rp 15.000.

Mengisi buku tamu, kemudian diajak masuk museum yang tampilannya bisa dibilang mewah, suasananya tenang dan menenangkan, adem karena pakai ac, bersih, lampu gantungnya dari kristal cantik dan tidak bikin silau. Batik-batiknya di tata cantik dan anggun dan tidak boleh dipegang karena usianya yang sudah puluhan tahun. Semua set kebaya yang disimpan di dalam museum ini juga asli koleksi dari jaman dahulu, ada beberapa puluh set kebaya cantik.

Batik parang Solo dan batik parang Yogya ternyata juga berbeda guys. Kalau batik parang Solo itu garis nya mengarah jatuh ke kiri, sedangkan batik parang Yogya garis pada batik mengarah jatuh ke arah kanan. Penasaran ga sih kenapa namanya batik parang? Bukan karena bentuknya seperti parang atau celurit dan golok itu yaa. Bukan, itu mah beda tau, ini bukan parang benda tajam itu.

Motif batik parang digambarkan dengan pola yang miring dan terdapat pola seperti isian atau bulatan di antara motif tersebut. Parang itu sendiri ternyata merujuk kepada tebing berbentuk miring. Contohnya nih bisa kamu lihat di pantai parang teritis dan parang kusuma 😀 ada tebing yang berbentuk miring.

Selanjutnya ada beberapa motif batik yang cukup menarik.

Batik Belanda, yang ini adalah batik yang banyak berkembang di kawasan pesisir dan lokasinya cukup jauh dari keraton dan mendapat pengaruh-pengaruh dari negara asing / penjajah secara langsung pada masa penjajahan Belanda. Motifnya di desain oleh para wanita wanita belanda, dan di kerjakan oleh wanita-wanita Indonesia. Pada batik ini lebih banyak bercorak bunga bunga, daun, pohon, hewan, tapal kuda, buah dan sejenisnya. Kamu tahu dongeng Hanstle and Greatle, Snow White ? mereka membuat versi batiknya juga loh, menarik yaaa. Ada juga yang terkenal dengan nama batik company yang motifnya bergambar tentara-tentara Belanda dan berdasarkan sudut pandang orang Belanda.

Batik Indonesia, hmm kalau yang ini sudah pernah dengar? Motif batik yang ini merupakan ide dari bapak Ir. Soekarno yang direalisasikan oleh temannya beliau yang merupakan seorang pembatik berdarah Tionghoa. Batik ini memiliki motif yang lebih beragam dan cenderung bergambar atau seperti kombinasi dari beragam motif batik, serta memiliki warna yang lebih beragam. Batik ini juga selain motif nya yang menarik dan warna beragam, juga memiliki tujuan politik untuk mempersatukan Indonesia yang beragam. Batik-batik ini pula yang banyak kita gunakan hingga sekarang.

Batik Tiga Negara, nahloh apa coba yang ini? Yang sempat terlintas dipikiran saya saat itu hanya batik ini mungkin dibuat oleh perwakilan-perwakilan negara penjajah Indonesia saat melakukan persekongkolan dan ingin membuat janji untuk damai dan semacamnya. Eeetapi ternyata bisa dinamakan demikian kerena dalam proses pembuatannya, batik ini dibuat pada tiga tempat berbeda dan harus begitu. Bukan karena alasan berbau mistis atau upacara religius kejawen semacamnya, namun karena batik ini memiliki warna yang beragam pada batiknya dan warna-warna tersebut hanya bisa didapatkan jika dilakukan pencelupan di tempat-tempat berbeda.

Wilayah yang berbeda itu antara lain Lasem, Semarang/Pekalongan dan Yogja. Kadar pH pada air di masing-masing daerah mampu menciptakan perbedaan warna yang signifikan saat batik melalui proses pencelupan. Sungguh batik dengan proses yang panjang ya, dan suka traveling. Makanya jangan heran yaa kalau prosesnya yang secara sederhana saja memang sudah panjang, ditambah lagi proses pewarnaannya yang memakan waktu dan jarak yang jauh, tidak kaget kalau harganya juga cukup tinggi.

Satu lagi nih yang cukup menarik, Batik Cina. Batik ini punya motif bunga-bunga dan gambaran yang sangat detil, seperti gambar titik-titik yang sangat kecil dan halus pada setiap permukaan kain yang tidak bergambar. Kalau jaman dulu setiap batik harus di berikan lilin pada setiap permukaan kain (bolak-balik) dan memakan waktu kurang lebih 1 tahun hingga lebih. Masyaallah banget yaa, kamu mau pesan?

Disamping batik Cina yang manis ini terpajang batik yang berkembang pada masa penjajahan Jepang (tapi pengusaha batiknya tetap orang cina guys). Menariknya batik Jepang ini punya konsep Pagi-Sore. Buat yang tidak punya banyak sangu untuk membeli banyak kain batik, yang satu ini mungkin bisa jadi solusi. Batik ini memiliki dua corak dalam satu kainnya, yang mana corak ini dibedakan oleh garis horizontal sehingga di pagi hari kita bisa menggunakan satu sisinya di luar, dan saat sore hari bisa di balik menggunakan sisi yang sebelumnya ada di dalam. Nah, terlihat seperti punya dua batik yang berbeda kan? Padahal mah beda gambar saja, kainnya tetap sama.

Seperti itu deh kira-kira gambaran singkat beberapa informasi dan pengalaman yang di dapat saat saya berkunjung ke museum ini, suka sekali. Apalagi saya yang nol besar banget deh nilai sekolah nya tentang budaya-budaya jawa seperti ini. See you next time.

Authentic Place in Solo City? Cekidot

Beberapa minggu terakhir ini sepertinya saya sering banget ke Solo, selain untuk mengunjungi simbah putri dari ibu yang tinggal di Bekonang, Solo. Terlepas dari mengunjungi rumah simbah, kota Solo memang menarik untuk di kunjungi loh. Buat para pecinta yang berbau antik-antik, sejarah dan hal etnik begitu cocok deh. Nih ada beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi kalau kamu sempat mampir ke Solo.

Ngarsopuro, tempat ini nih pasar yang menjualkan barang-barang antik. Mulai dari lampu, koin, telefon jadul, patung-patung, setrika uap, sepeda lawas, kacamata entah dari tahun berapa, topeng, anting-anting antik, susuk konde dengan detail yang menarik dan warnanya keemasan memperlihatkan kecantikannya dari jaman dahulu belum juga pudar. Duehh.. saya tuh suka banget lihat yang jadul, etnik-etnik gini, apalagi kalau lihat yang keemasan atau lampu-lampu gantung yang agak berkilau-kilau gitu saya suka banget. Kalian kenal dengan Himawari dalam kartun Sinchan? Himawari ini adiknya si Sincan yang suka banget dengan benda-benda berkilau, kalau mau digambarkan yaa saya mirip-mirip dengan si Himawari ini, suka banget sama yang berkilau-kilau. Aduduhh, bahaya yaa.

Ngarsopuro atau Pasar Triwindu Ngarsopuro, seperti yang tertera di gerbang nya ini letaknya di daerah Banjarsari, Surakarta jl. Diponegoro, dekat dengan pasar Nonongan. Eiits udah pada tau pasar Nonongan? Nanti saya ceritain juga yaa. Kalau kalian mau ke Ngarsopuro, pasar ini buka mulai dari jam 09:00 pagi sampai jam 05:00 sore walaupun biasanya jam setengah 5 sore toko-toko sudah banyak yang tutup, cyiin. Saya jarang banget ke Ngarsopuro, pertama kalinya dulu ke pasar ini sama teman sekolah saya, namanya Icak (Yusica). Kami sempat berkeliling dan foto-foto selama beberapa jam, tapi sepertinya tidak beli barang apapaun hahaha harap makhlum yaa masih anak sekolah, belum punya kebutuhan seputar barang antik ini.

Kalau sudah siang hari dan lagi berada di kota atau tempat-tempat belanja seperti PGS dan Pasar Klewer, kita bisa merapat ke Masjid Agung Kraton Surakarta / Solo yang tempatnya sangat strategis dan dekat dengan dua pusat perbelanjaan ini. Kemarin saat menemani si kakak ke Pasar Klewer untuk beli kain, siangnya kami lalu menyeberang dan mampir shalat dzuhur di masid ini. Entah kenapa rasanya adem banget di masjid ini. Masjid yang berdiri sejak 1768 ini masih eksis dan memiliki ukuran besar yang mampu menampung jamaah besar seperti keperluan shalat jumat, shalad ied, dan kegiatan kerajaan yang berkaitan dengan keagaman. Eh iyaa, keraton nya terletak tidak jauh dari masjid ini dong pastinya. Ada yang sudah pernah kesana? Kalau mau kesana bareng yuk? Hahaha.

Hmm, bangunannya mirip dengan Masjid Agung Semarang yang sekarang ini lebih terkenal dengan Masjid Kauman, karena terletak di kawasan tersebut. Masjid Agung Keraton Surakarta ini memiliki bangunan dengan tembok berwarna putih, lantai keramik berwarna putih gading, dan atap berwarna biru muda yang cantik dan menyenangkan, ada lampu gantung berwarna coklat keemasan yang menambah angun suasana masjid. Di tengah hari yang panas tapi rasanya bisa adem banget ada di dalam masjid ini, masyaAllah. Sebenarnya kalau mau dilihat masjid ini memiliki tampilan yang sangat sederhana, dan memiliki jama’ah yang banyak dengan shaf nya yang penuh.

Beberapa kesamaan antara Masjid Agung Surakarta dan Masjid Kauman adalah ketika masuk ke tempat wudhu dan kamar kecil nya, lantai dan tempat airnya selalu bersih, dan airnya seperti mengalir bergelimangan, banyak sekali. Ada tempat penitipan barang, ada peminjaman mukena secara cuma-cuma, dan satu lagi nih yang sepertinya di masjid-masjid besar pada jaman modern ini belum pernah saya temukan di tempat lain. Ada petugas masjid yang secara khusus tugasnya adalah mengatur jama’ah, diantara lain saat shalat akan berlangsung. Petugas akan dengan tegas mengingatkan jama’ah untuk maju mengisi dan merapatkan shaf, jangan sampai ada yang bolong shafnya kan nanti bisa jadi celah untuk setan masuk yaa. Sudah gitu, ketika selesai shalat berjamaah dan ada banyak jamaah masbuk.. nantinya si petugas ini tanpa ragu meminta orang yang sudah selesai shalat dan sedang tidak berdoa ataupun shalat sunnah tapi masih bersantai di atas sajadah, agar mundur dan mempersilahkan saudaranya yang masbuk.

(masbuk itu jamaah yang datangnya terlambat gengs, artinya shalat sudah dimulai dan dia baru menyusul bergabung).

Wah btw kalau sudah siang tuh bawaannya lapar ya? Perut teriak-teriak, lapar dan asam lambung rasanya bisa bikin otak ikutan pusing dan udah berasa mau pingsan aja gitu. Duehh, serem yaa efek lapar tuh. Nih yang pingin nyoba kuliner di dekat Pasar Klewer. Coba tengok penjual sate yang berada tepat di perempatan sebelah barat Pasar Klewer. Entah asap dari satenya yang bikin kelenger atau memang masakannya begitu menggugah dan jarangnya warung makan lain disekitar sini, tapi disini pengunjungnya ramai sekali. Kami saja sampai memelas, nunggu dapet kursi sampai pelukan pada tiang biar tidak semaput duluan (hehehe lapar tingkat embohh). Alhamdulillahnya, yang jualan sudah cekatan banget dan makanan kami segera datang di meja, untuk kemudian melaksanakan tugasnya di dunia ini untuk menjadi sumber energi bagi kita para manusia.

Ada tengkleng, sate kambing, lontong opor (tapi bukan opor ayam, sad), gulai yang ehmmm sepertinya maknyoss, tongseng juga ada, dan beberapa menu yang terdengar menggugah selera dan sekaligus penuh lemak yaa sepertinya. Kok saya promosi banget kenapa sih, yaudala dipromosikan dan tidak memang sudah dasarnya ramai nih warung makannya. Cobain aja gengs, sensasi nunggunya tuh seru, apalagi saat makanan sudah sampai di meja kita. Gottcaaa! Langsung slantappp.

Akkhh Solo, sudah rindu gini. See you next time.

Ngeluyur Sebentar di Pasar Beringharjo



Mungkin ini mainstream banget sih, because karena kita main ke Yogyakarta, kota istimewa penuh cerita. Seperti yang sudah-sudah saya tuh tidak pernah sungguh-sungguh pergi dengan alasan untuk berlibur. Nah kali ini nih saya lagi daftar kerja, dan lokasi tes nya bertempat di kota indah Yogyakarta. Senang deh, selain melancarkan misi mendapatkan pekerjaan juga sekaligus bisa curi waktu berwisata.

2018_1106_01051700

Amalia, Ainun, Alifati di persimpangan jalan mencoba memanfaatkan cermin cembung secara subjektif.

Halahh, sudah.. kita tuh bukan jalan-jalan ke tempat wisata gitu. Hanya mampir ke daerah Malioboro untuk lebih tepatnya menuju pasar Beringharjo, dan mampir ke caffe lucu bernama Lantai Bumi untuk sekedar bertemu teman ngobrol yang terpisahkan.

Nah saya bersama kakak tercantik (mb Alif), dan teman baru bernama Amalia yang sering saya panggil amal. Bertiga lah kita setelah di pagi hari yang cerah melancarkan aksi daftar ulang di Balai Karantina Ikan, Yogyakarta. Sengaja banget kita berangkat paling pagi agar-supaya bisa segera menuju Malioboro dan melacarkan aksi liburan. Hahaha. Tenang, tidak perlu merasa iri lihat saya liburan terus, karena kita menuju Pasar Beringharjo untuk menemani mba Alif belanja kebutuhan jualan dia. Di Pasar Beringharjo kita membeli beberapa tempat untuk display jualan mba Alif, semacam wadah hasil kerajinan tangan yang terbuat dari bahan rotan dan sejenisnya.

Untuk pertama kalinya berkunjung ke pasar ini dan rasanya menyenangkan. Kita parkir di belakang pasar setelah mengitari Malioboro, dan you know guys? Parkirnya Rp 10.000 , entah itu ada apa, apakah ini wajar atau tidak menurut kalian, padahal hanya parkir beberapa jam. Tapi menurut saya pribadi tidak wajar dong. Okee kembali lagi ke pasar nya, Pasar Beringharjo ternyata cukup besar, ramai penjual pembeli, dan luas. Ada beberapa lantai (sepertinya tiga), di pasar bagian depan diisi oleh para penjual baju, celana, topi, dan pakaian-pakaian lain seperti batik dan daster. Berjalan lebih jauh ke dalam ada yang berjualan topi, sandal, buah-buah, tas.

Ada yang suka dengan barang-barang kerajinan tangan seperti tas rotan, topi, hiasan kamar dan lain-lain? Ada banget nih, letaknya di lantai paling belakang atas dari pasar ini, dekat dengan tempat parkir mobil. Iyaa, ternyata ada tempat parkir di bagian atap pasar ini. Dan dengan harga normal. Sudahlah.

Mulai dari vas bunga, tas, topi, hiasan dinding, hiasan kamar, lampu gantung, gantungan kunci, taplak, mainan anak-anak, semuanya sungguh menggoda dan memanjakan mataku yang sangat senang dimanjakan dengan semua bentuk kerajinan tangan. Seperti ada cinta disetiap karyanya. Agelasihh, sok asik banget ga hahaha. By the way nih gengs kita menemukan toko tas rotan dan tas-tas lucu lainnya. Terutama tas handmade yang berbahan dasar “eceng gondok”, tau tanaman eceng gondok kan? Saya suka banget nih sama tas ini. Sempat kita berpikiran ingin buka jasa “Jastip” alias jasa titip, eh tapi tidak jadi. Sampai sekarang sudah di Semarang malah jadi kepikiran ingin berjualan tas rotan atau tas dari eceng gondok itu. Polos atau pun bergambar, duhh cocok banget dengan saya. Apalagi kalau dijual di tempat-tempat wisata sebagai salah satu cenderamata daerah wisata. Suka banget. Probably next time i going to be make it real, wish me luck. Love.

Mengingat hari yang sudah siang kami lapar, jadi kami melanjutkan perjalanan mencari makan di daerah Jakal alias Jalan Kaliurang. Jalanan ini ramai, padat dan Jogja banget. Tau kenapa? Baliho-baliho dari setiap toko tuh ngotot banget memenuhi ruang langit Kota Jogja di sepanjang jalanan. Terbayangkan tidak? Jadi coba bayangkan di sepanjang jalan raya ada pepohonan rindang yang menaungi badan jalan, nah sekarang gantikan pohon-pohon itu dengan deretan baliho yang ukurannya jumbo.

IMG_20181107_163733.jpg
can you see it? so many baliho life in this beautifull town

Sekalian sebelum kembali ke rumah, beristirahat dan belajar untuk persiapan tes besok hari. Kami mampir ke sebuah coffeshop (masih di kawasan Jakal) bernama Lantai Bumi. Cakep deh ini coffeshop nya, suka. Ohiyaa, disini saya ketemu teman namanya Paul. Jadi sebenarnya bukan teman lama sih, baru kenal beberapa bulan yang lalu, dan ternyata kita asik ngobrol dan akrab, so happy. By the way kita ketemunya pas di Morotai, yap my favorite dive spot.

Panjang yaa ceritanya, sama seperti hari yang saya lalui kemarin haha. Okeedehh, terimakasih sudah mampir dan membaca. Selamat berbahagia. Send my love.



Discover Bodjong Route with Bersukaria Walk.

Lets discover Semarang deeper than local ever did

Satu-satunya tulisan Bodjong yang masih ada di sepanjang jl. Pemuda.

Slogan milik Bersukaria Walk yang saya baca di media sosial mereka. Pertama kali diajak ikut sama teman yang namanya Anita, eh tapi kemarin saya pertama kalinya ikut malah bareng Ecik. Menelusuri jalur yang dahulu namanya adalah jalan Bodjong. Berdasarkan apa yang disampaikan mbak Icha (story teller nya) nama ini berasal dari bahasa Belanda yang Bod artinya kapal, dan jong artinya pemuda. Jadi kalau digabungkan berarti pemuda kapal atau di maknai sebagai jalan tempat berkumpulnya para pelayar,sesuai dengan ceritanya jaman dulu dimana banyak para pelayar yang (bahasa keren nya) nongkrong di sepanjang jalanan Bodjong ini.  Mengingat Semarang memang kawasan pesisir yang memiliki pelabuhan besar, yang menampung berbagai bentuk kegiatan seperti pengangkutan barang. Ohyaa, dan sampai sekarang pun jalan Bodjong di beri nama jl. Pemuda.

Pada rute Bodjong ini kami mulai dengan titik temu di depan Pasar Raya Sri Ratu di jl. Pemuda menelusuri rute Bodjong menuju Tugu Muda. Kami berjalan beramai-ramai seperti anak ayam yang mengikuti induknya. Sepanjang jalanan yang di lalui, kami diberi penjelasan mengenai beberapa tempat lengkap dengan nilai-nilai sejarahnya. Kami juga diajak menyeberang jalan-jalan, mencoba memanfaatkan fasilitas publik yang sudah disediakan (*mungkin?) Hahaha tidak juga sih sebenarnya, antara lain itu adalah rute terbaik untuk menjelaskan, membawa peserta berjalan-jalan dengan santai, dan menurut saya membuat suasana lebih menarik.

Mulai dari toko buku paling tua di sepanjang jalan Bodjong atau malah di Semarang, toko antik yang menjualkan uang-uang lawas dan dari berbagai jenis mata uang, kantor Bank Mandiri yang dulunya adalah kantor pemerintahan paling bergengsi, rumah yang diperkirakan milik seorang konglomerat di Semarang dan satu-satunya rumah di jl. Pemuda, Mall Paragon yang dulunya adalah salah satu tempat dengan hall yang luas dan sering digunakan untuk pertemuan, perjamuan dan sebagainya. Bahkan sekolah-sekolah seperti SMA 5 dan SMA 3 juga punya nilai-nilai sejarahnya, asik yaa bisa kenal lebih dalam. Walaupun sebenarnya yang benar-benar nyangkut di otak saya cuman berapa persen sih haha. Maklum kann, yang disampaikan sepanjang perjalanan tuh banyak banget loh, mungkin kamu harus cobain sendiri.

Sebelum menyeberang ke Tugu Muda kita juga sempat di jelaskan tentang sejarah Lawang Sewu loh. Sudah pada tahu Lawang Sewu kan? Ikon wisata kota Semarang ini diketahui adalah perkantoran Belanda jaman dahulu, sempat juga jadi kantor atau stasiun kereta api ya, saya agak rancu disitu. Eh tau ga, katanya total pintu disini sebenarnya hanya 920 pintu. Namun begitu, mungkin susah gampang saat menjelaskan nya sehingga di genapkan menjadi seribu hehehe. Saya sih tidak keberatan, bagaimana dengan kalian? Dan juga, lawang sewu adalah tempat wisata ter-ramai kedua di jawa tengah setelah candi Borobudur loh.

Lanjut menuju Tugu Muda, kami menyeberangi jalan ramai yang penuh dengan kendaraan dan rambu-rambu lalu lintas yang kalau dihitung nih, cukup lama loh nunggu lampu merahnya supaya bisa menyeberang. Seumur-umur hidup di Semarang belum pernah mampir ke Tugu Muda, dan ini pertama kalinya, ternyata berada di dekat bundaran Tugu Muda yang punya air mancur tuh, langsung disambut sensasi gerimis-gerimis gitu. Seger khann, lumayan adem-adem. Demi melanjutkan tour dan mengantarkan matahari sore pamit dari Semarang, kami asyik mendengarkan cerita terakhir hari itu.

Tugu Muda, siapa yang belum tahu cerita yang tersimpan di dalam tubuh tugu ini? Memiliki lima sisi dengan relief-relief yang memperlihatkan gambar yang berbeda, maksud daripada tugu ini adalah antara lain untuk memperingati pertempuran lima hari di Semarang. Saat dengar penjelasan itu saya khusyuk dan ikut-ikutan merenungi perjuangan para pahlawan kita, mendadak nasionalis kan saya. Oh iyaa, dengan ikut Bersukaria Walk kamu bisa dapatkan penjelasan yang lebih bermanfaat loh, bisa sekaligus tanya-tanya juga. Selamat bersukaria katanya, love.

Sekedar informasi tambahan, kalau kamu ingin ikut bersukaria walk yang seperti saya ikuti ini, gampang banget. Kamu tinggal cek di akun instagram mereka @bersukariawalk klik link yang ada di bio mereka dan daftarkan diri kamu lewat situ. Pay as you want, lohh. Selain rute yang sudah disediakan, kamu juga bisa memesan rute dan tour privat loh, just and go contact them. See you.

Nonton Mahakarsa 623 di Assalaam



Seruuu banget kemarin malam. Nonton pensi (read : pentas seni) sederhana ala santri-santri pondok. Tau ga? Jadi santri pondok pesantren tidak melulu tentang belajar kitab-kitab tebal dan berada di dalam ruangan semalam suntuk atau hal lainnya yang sering dianggap membosankan, tapi juga bisa asyik mengekspresikan diri seperti ini. Kamu masih bisa bebas berkarya dan menyalurkan bakatmu, bukankah itu menyenangkan?

kamera mb alif 2248

Tari Medley Nusantara di Panggung MAHAKARSA 632

Hari minggu setelah shalat asar saya dari Semarang menggunakan bus, dan selepas magrib sudah sampai di Kota Solo. Cuss menuju pondok pesantren Assalaam, kalau belum tahu nanti wajib search yaa. Langsung saya ke kamar teman saya yang sedang dalam masa pengabdian di pondok, tiba di sana, bersih-bersih badan, ganti baju, shalat, dandan, berangkat menuju lokasi kegiatan yang letaknya cuman beberapa meter dari depan kamar teman saya.

Jauh berbeda dengan kegiatan terakhir diangkatan saya, kali ini panggungnya luar biasa megah, sekedar info saja, dulu kami pakai meja kelas untuk dijadikan panggung, jumlahnya bisa sampai 40 meja yang harus kami gotong-gotong. Background panggung lima kali lebih besar dari jaman saya mondok, dan sekarang ada bangku juga untuk para penonton… padahal kita dulu duduk di rumput-rumput sampai bokong anyep-anyep basah. Lightingnya luarr biasa, seperti sedang nonton konser (mungkin karena saya tidak pernah nonton konser sebelumnya), tentunya di dukung sound dan kameramen yang handal dan you know, ada kembang apinya segala.

Banyak sekaliii hal yang ingin dijabarkan sebagai perbandingan dan juga sekaligus bernostalgia dengan masa remaja (sekarang juga masih berasa remaja kok). Tapi kalau dilanjutkan saya malah tidak akan bercerita tentang pensinya ya?

Pensinya keren.

MAHAKARSA 632 nama kegiatannya, malam itu acara dimulai setelah waktu shalat isya. Ternyata banyak penonton selain dari kalangan santri, orang tua santri juga ada yang ikut antusias menonton pensi ini, beberapa teman alumni angkatan saya pun ternyata datang menonton. Dan saya jauh-jauh dari Semarang terkhusus untuk menyaksikan pensi yang nampaknya akan spektakuler ini.

Diawali dengan nyanyian oleh grup khasidah yang terdiri dari sekitar 15 orang, dengan pakaian serba berwarna merah muda dan dua orang yang terlihat menari mengikuti irama musik pada dua sudut panggung. Kemudian mulailah masuk beberapa kontingen dan dua orang Master of Ceremony yang berpakian bak putri kerajaan dengan gaun mengembang dan mahkota di kepalanya, menyampaikan rentetan samutan dan kata pengantar dalam tiga bahasa, arab, inggris, dan indonesia, kemudian pembukaan acara dilanjutkan oleh Mudir Ma’had Assalaam.

Sebelum sampai pada pentas utamanya (yang biasanya adalah cerita-cerita daerah, seperti drama singkat yang dimainkan oleh para santri mulai dari kelas 1 smp sampai 2 sma) lebih dulu para penonton disuguhkan dengan berbagai macam pertunjukan kesenian daerah. Aksi para santri karawitan menjadi pembukanya, nyanyian merdu diiringi alunan musik gamelan yang seutuhnya dibawakan oleh santriwati Assalaam. Kemudian diikuti penampilan beberapa tarian khas daerah yang semuanya dibawakan oleh santriwati mulai dari kelas 1 smp hingga 2 sma, diantaranya tarian khas Betawi (tapi mohon maaf saya lupa nama tariannya), kemudian tari rentak besapih khas Jambi, tari zapin khas Riau, dan tari medley nusantara.

Belum cukup dengan rentetan penampilan itu membuat penonton terpana, layar besar di atas panggung mulai menunjukkan video sekelompok santri yang sedang berlatih memainkan alat musik layaknya sebuah orkestra. Para pemain mulai bergerak dalam suasana panggung yang gelap, sekelompok paduan suara, para pemain musik orkestra, pemain drum, pemain biola, bass, dan alat musik lain semuanya dibawakan oleh santriwati. Musik mulai mengalir dan menyita perhatian penonton yang disambut suara penyanyi utamanya, lima orang santriwati dengan gaun yang indah dan suara merdunya sukses menghibur penonton dan menciptakan senyum yang lebar. Suasana juga semakin meriah karena para santri di bangku penonton asyik bersorak ketika melihat teman-teman mereka muncul di panggung, selain itu mereka juga dengan kompaknya membawa stick lamp warna-warni, yang ini jelas tidak pernah ada di jaman saya sekolah di sini hehehe.

kamera mb alif 2256
Suara merdunya berhasil menghibur penonton, dengan lagu this is me.
kamera mb alif 2254
Para pemain orkestra yang cantik-cantik.

Melanjutkan inti dari pensi ini, dimulailah drama singkat yang menceritakan dua kerajaan bersudara di wilayah Toraja, katanya kisah ini terinspirasi dari kisah lima pandawa. Dalam drama ini diceritakan dua kerajaan bersaudara ini mempunyai watak yang berbeda, yang satu baik hati dan yang satu dapat dikatan sebagai tokoh yang jahat. Pertikaian dimulai ketika kerajaan yang jahat selalu mengganggu si baik, sampai terjadi pertempuran yang di menangkan oleh si baik. Tapi dibalik itu mereka bersedih karena termakan emosi semata dan mengakibatkan pertumpahan darah saudara-saudaranya sendiri.

kamera mb alif 2262
Klasik sih ya ceritanya, yaa tapi memang begitu kenyataannya. Pesannya, jangan sampai termakan oleh amarah yang hanya berakibat penyesalan mendalam.

Next guyss, ada pertunjukan musik dan beberapa penampilan lain. Penutupan acara diikuti dengan masuknya semua pemain tadi ke atas panggung, bernyanyi bersama dan diakhiri pelepasan balon yang terbang ke langit malam gelap dengan dihiasi bulan yang cantik tepat diatas para penonton. Sayang banget yaa masih ada yang menerbangkan balon sebagai bentuk ceremony, mungkin pengetahuan bahwa balon yang terbang entah kemana itu akan menjadi sampah di lautan belum sampai kepada mereka ya? Semoga ceremony serupa itu bisa digantikan dengan hal lain yang lebih bermanfaat yah.

kamera mb alif 2281
Penampilan penutup dalam MAHAKARSA 632

But, secara keseluruhan acaranya mampu menyedot perhatian dan membawa emosi penonton mengalir dengan asiknya. Bukan hanya menyuguhkan penampilan-penampilan menarik, tapi penempatan dan unsur-unsur lain yang ditambahkan dalam keseluruhan acara mampu membawa emosi penonton sepenuhnya ikut hadir dalam acara tersebut. Good show and good job.



Mari Pakai Plastik, dengan Bijak.

Soo, tadi sore saya lagi semangat semangatnya untuk olahraga. Nah saya akhirnya memutuskan untuk olahraga jalan kaki sore nih, inginnya sih lari sore.. tapi tidak kuat hehehe.
Saya jalan kaki dari rumah saya di Puri Asri Perdana, menuju Pasar Jati, Banyumanik. Nah saya sengaja jalan kaki sore-sore sekalian menuju ke pasar. Karena saya memang punya tujuan utama untuk beli makanan ikan di pasar. Cukup jauh sih, apalagi jalanan di Banyumanik yang cenderung naik turun yang sukses menambah kelelahan jiwa raga ini.

Saya tuh ingin kasih tahu moment ketika saya lagi asyik beli makanan ikan di toko kelontong yang khusus jual keperluan hewan-hewan peliharaan. Saya sudah biasa beli di situ, dan sudah hafal dengan orang-orang yang jualan, entah yang jualan ingat saya atau tidak huehehhe.

Nah di sana ada dua bapak-bapak, yang satu bapak kurus dan saya rasa itu bapak yang punya toko. Yang kedua bapak gemuk, ini sih pastinya pegawainya dan sudah lumayan terbiasa menyediakan pesanan para pembeli. Nah sore tadi ketika saya datang ada pegawai baru, masih muda, agak bocah lah, cah Lanang. Kelihatan cukup bersemangat. Tapi mungkin agak sedikit kurang fokus, dan mungkin karena belum terbiasa menghadapi pembeli jadi masih ada salah-salah dan bingung.

Terbukti guys, karena di sore hari yang cerah dan bersemangat itu si pegawai baru ini salah menyiapkan pesanan saya. Dengan wajah bingung dia berusaha memastikan pesanan saya, yasudah saya ulangi lagi. Ya mungkin memang ada miss communication diantara kita berdua haha. Tapi anehnya si bapak yang agak gendut ikutan nimbrung, tidak melewati batas-batasnya sih. Hanya saja dalam beberapa situasi agak terasa memojokkan dan tidak mencarikan solusi.

Eh si bapak pemilik toko kelontongan akhirnya turun tangan dan langsung menyiapkan pesanan saya sendiri hehe. Okeeh baiklah, saya sebenarnya ingin menceritakan hal lainnya dari peristiwa jual beli ini.

Jadi saya kalau belanja, mencoba untuk membawa wadah belanjaan sendiri. Contohnya saya bawa tas belanja, bawa plastik belanja sendiri, kalau lagi mau jajan minuman atau kelapa muda ya saya bawa tumbler. Kalau mau jajan makanan bawa tupperware sendiri (eeceilee malah promosi produk, hehe). Tidak selalu sih, tapi ya sebisa mungkin saya mulai sedikit demi sedikit supaya terbiasa.

IMG_20181003_221318_967

Waktu beli makanan ikan ini juga contohnya, plastik yang sudah terpakai waktu saya beli makanan ikan sebelumnya, saya bersihkan dan simpan, kemudian saya pakai lagi untuk beli makanan ikan yang sama di kemudian hari. Mudah banget loh untuk ikut andil dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Menurut saya ada yang lebih penting dari buang sampah pada tempatnya. Tapi yang lebih penting lagi adalah kita juga mulai mengurangi penggunaan plastik “satu kali pakai” yang dapat menambah sampah dunia. Kan sedih yaa, cuman satu kali dipakai dan kemudian langsung dibuang.
Nah jadi paling asyik tuh, selagi kita berusaha mengurangi penggunaan plastik satu kali pakai, kita gunakan lagi barang-barang (plastik) yang masih layak pakai, dan kita juga membersihkan sampah-sampah yang sekiranya mengotori atau tidak pada tempatnya. Alternatif lainnya ada juga yang aktif mengolah limbah-limbah sampai itu menjadi kerajinan atau hal lain yang bisa bernilai tambah. keren yaa. kamu pasti bisa.

By the way, saya sudah ngomong panjang lebar begini untuk mengajak kamu mengurangi penggunaan plastik “satu kali pakai”, atau kadang lebih terkenal dengan “single useplastic. Kamu tau kan alasannya kenapa hal itu penting?

Mari pakai plastik, dengan lebih bijak dalam menggunakan plastik. Selamat berbahagia 🙂

Jalan-jalan ke Tidore, Yuk

Jadi beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengunjungi Pulau Tidore setelah sebelumnya keliling Pulau ternate, pasti pada tau dong Pulau Tidore. Sebagian besar mungkin mengenal pulau ini lewat pelajaran sejarah, pulau yang terkenal dengan rempah-rempahnya yang diperebutkan oleh negara Portugis dan Spanyol. Berseberangan letaknya dengan Pulau Ternate, dua pulau ini menjadi paling terkenal di Maluku Utara (versi Ainun).

_DSC0587
Pemandangan Pulau Tidore dari pelabuhan Bastiong, Ternate.

Untuk mencapai Pulau Tidore, saya dan teman saya, Lili harus mengunakan transportasi laut dari Ternate. Berangkat dari pelabuhan speedboat di Bastiong, Ternate menuju pelabuhan Rum, Tidore. Ada beberapa pilihan alat transportasi, mulai dari kapal feri, speedboat, dan kapal kayu. Pastinya kalau kapal feri bisa mengangkut penumpang, serta kendaraan bermotor roda dua dan roda empat, speedboat mampu menampung penumpang dan beberapa tas barang bawaan anda, dan satu lagi kapal kayu yang mampu menampung penumpang dan kendaraan roda dua.

_DSC0595
Kendaraan roda dua yang dinaikkan ke atas kapal kayu.

Kalau kapal kayu ini sedikit menarik. Saya dan Lili naik kapal kayu dengan ukuran kurang lebih panjang 8-10 meter. Jadi ini kapalnya sederhana tapi keren, karena dalam satu kapal mampu menampung sekitar 10 kendaraan motor. Dan motor-motor diparkirkan di atas perahu dan diikat, cukup mendebarkan melihat motor-motor ini nangkring diatas perahu yang akan menerjang ombak. Untungnya waktu itu ombak tidak terlalu besar, dan jarak tempuh Ternate – Tidore cukup dekat, hanya memakan waktu sekitar 15 menit, dan juga waktu keberangkatan nya lebih fleksibel. And, finally dengan modal Rp 25.000 kita sudah sampai di Tidore.

By the way sampai di pelabuhan Rum, Tidore kami langsung menurunkan motor, then tancap gas menuju daerah yang namanya Soa sio. Itu nama kota yang jadi pusat tempat tinggal dan kegiatan-kegiatan lain di Tidore. Pulau Tidore dilihat dari ukuran pulaunya lebih besar dari pada Pulau Ternate, tapi dari yang saya lihat penduduknya tidak lebih banyak, dan disana cukup sepi dan hening. Jalanan beraspal mulus, suasana jalanan lenggang, penduduknya saya rasa sebagian besar berkegiatan di dalam rumah waktu saya datang. Kami menuju Soa sio, tempat Kak Tom and the gang, teman dari “wild house” (nanti search aja yaa apa itu wild house di Tidore). Sebentar saja mengganggu ketenangan hidup mereka, karena kami minta diantarkan jalan-jalan. Waktu itu sudah cukup siang alias.. sore, jadi kami pergi sebentar menuju tempat yang letaknya di bukit tinggi, namanya Desa Gurabunga.

Desa yang menawarkan pemandangan yang indah banget sih kalau saya bilang, kota Tidore bisa terlihat dengan jelas dari atas sana. Ada tempat nongkrong untuk menikmati pemandangan kota Tidore langsung ke arah laut, hanya tumpukan bebatuan besar biasa saja, tapi saya yakin kalian pasti suka. Dari sudut-sudut tertentu kita akan merasa seperti berada di atas awan. Diluar dari itu kalian harus tahu sih perjalanan ke tempat ini menanjak tajam sekali. Waktu dibonceng naik motor saya yang pasti hanya bisa berdoa supaya selamat sampai tujuan, kadang pura-pura ajak teman untuk ngobrol dalam rangka mencairkan suasana.

_DSC0656
Pemandangan dari Desa Gurabunga.

Lanjut dari sana kita berencana mampir di “Kedaton”, saya tanya apa itu Kedaton? ternyata, Kedaton adalah Keraton dalam bagaimana masyarakat Tidore menyebutnya. Nah disini juga saya jadi wisata sejarah budaya, mengingat Kesultanan Tidore ini adalah kerajaan islam yang cukup besar yang bahkan wilayah kekuasaannya mencapai tanah papua, di masa kejayaannya. Pada ingattt gaa, hayooo..

Dan kemudian kami pergi mencari oleh-oleh seperti kain tenun, tapi yang jualan sudah tutup sore itu. Agak sedih sih. Meskipun tidak banyak yang saya dan Lili lakukan di Tidore hari itu, tapi banyak yang bisa kami lihat. Yaa.. setidaknya saya sekarang sudah berkenalan dengan Tidore, yang selama ini cuman saya ketahui dari buku sejarah. Alamnya masih asri banget, dan jalan raya di pinggir pantai yang berkelok-kelok itu menyebalkan. Karena saya harus menahan diri saat melihat air laut yang super jernih, bersih, dan ditambah pemandangan bocah-bocah kecil yang asyik mandi di pantai, segeerrr banget sepertinya. “Batobo” istilahnya, mandi-mandi di pinggir pantai.

_DSC0614
Pemandangan dari benteng Tahula.
_DSC0632
Masih dari benteng Tahula, kenalan sama teman saya, Lili namanya.

Ohiyaa kami juga sempat mampir ke salah satu benteng yang ada di Tidore, saya lupa nama bentengnya. Kalau tidak salah nih namanya, Benteng Tahula. Letaknya di pinggir jalan, dan harus menaiki anak tangga yang cukup curam dan banyak jumlahnya sebelum bisa sampai di bagian atas dan melihat bentengnya. Mereka biasa menyebutnya benteng “seribu tangga” kurasa.. atau tangga seribu yaa. Tapi sih sebenarnya tidak sampai seribu, beberapa puluh saja jumlah anak tangganya, kata teman saya bisa jadi seribu kalau dilewatin berulang kali naik turun. Okeee baik.

Dalam perjalanan pulang saya dan Lili seperti menyongsong matahari, mengejar perahu untuk menyeberang kembali ke Ternate, berpisah dengan Kak Tom and friend yang sudah berbaik hati mengantarkan dua perempuan lucu ini dan menunjukkan secuil dari keindahan dan kemakmuran tanah Tidore. I hope i could come to Tidore again and again. Say Aamiin please ahahaa.. you should go to Tidore guys, terimakasih para pemirsa yang berbahagia.

Kuliner Wajib di Maluku Utara



Haloo selamat berbahagia untuk kalian semua yang membaca blog ini, selamat berbahagia menurut waktu setempat.

Ini lagi iseng ajasih, saya ingin bahas aneka makan khas nan enaaak yang bisa saya temukan dan rasakan di Maluku Utara, atau lebih spesifiknya di Morotai. Ada banyak sebenarnya makanan enak disana, yang paling saya sukai adalah Gohu. Gohu sendiri sebenarnya adalah ikan segar (biasanya ikan cakalang atau tuna) yang dipotong-potong dadu, kemudian dibumbui perasan air jeruk lemon, ditambah cabe rawit utuh, ditaburi garam, dan disiram dengan minyak goreng panas.

Setelah itu semua bahan tadi diaduk sampai merata, dan sudah siap disantap. Yaapp, Gohu menggunakan ikan mentah sebagai bahan utamanya dan rasanyaa nikmat sekali. Paling nikmat nih kalau gohu disantap dengan ubi atau singkong yang dimasak dengan santan, kalau saya tidak salah mereka menyebutnya Kasbi Santan. Atau singkong dan pisang goreng sebagai temannya juga tidak kalah enaknya. Eiitss tapi mohon maaf yaa, saya tidak punya foto makanan enak satu ini jadi kalian belum bisa lihat penampakannya.

Buat yang mau berkunjung ke Maluku Utara atau Morotai dan mau wisata kuliner, bisa nih dicoba beberapa menu yang sederhana tapi nikmatnya bukan maeeenn!

Ikan Dabu-dabu Manta Khas Maluku Utara

P_20180225_131939
You semua harus pastikan pernah makan ikan bakar dengan ditemani dabu-dabu mantah (dabu-dabu = sambal), ikan apapun pasti enak, terutama ikan lolosi. Dabu-dabu mantahnya sendiri terdiri dari irisan tomat, bawang merah, cabe rawit utuh, perasan jeruk lemon, daun kemangi, taburan garam dan siraman minyak goreng/ minyak kelapa.

Sayur lilin, enak bangettt sayur ini. Saya benar-benar ketagihan, sayangnya susah-susah gampang nemuin sayur ini, dan tidak banyak warung yang menawarkan menu ini. Selain itu sebenarnya di Morotai paling banyak orang menyajikan sayur jantung pisang atau juga bunga pepaya, enakk loh.

P_20180225_132040
Sayur lilin tuh enak bangett, asli. Pertama kali makan, dibuatkan sama mamahnya Paleca.
P_20180225_132430
Paket lengkap = Nasi, Sayur Lilin, Ikan Bakar dan Dabu-dabu Mantah.

Waktu itu saya juga sempat mampir ke Galela dan makan di sana. Dengan menu yang sebenarnya tidak jauh berbeda, nasi, ikan bakar, sayur tumis kangkung, dan dabu-dabu manta. Tapi memang dasarnya makanan sederhana ini sedapppnya khan maenn! And you should know guys, ada pisang goreng mulut bebek yang nikmatnya bikin tidak habis pikir. Saya kekenyangan.

P_20180313_180908 (1)
Looks how menggiurkannya hehe bikin lapar..
p_20180313_180927.jpg
Sepertinya saya masih bisa membayangkan kenikmatan semua makanan ini.. hahahaa



Morotai – Ternate (lewat jalur laut)

By the way saya akan mulai untuk ceritain perjalanan saya ke Ternate dan Tidore. Dua pulau dengan awalan huruf “T” yang paling sering kita temui dalam pelajaran sejarah. Tapi mungkin disini cerita tentang Ternate dulu yaa. Bertolak dari Pulau Morotai menuju Pulau Ternate menggunakan jalur laut, KM. Geovani waktu itu yang saya tumpangi. Kapal berangkat jam 9 malam waktu setempat dan sampai di tujuan jam 8 pagi keesokan harinya, dengan harga tiket Rp 160.000. Penuh dan sesak sekali malam itu, mungkin karena minggu terakhir sebelum libur lebaran.

Satu hal yang disayangkan karena waktu itu saya beli tiket terlalu siang, alhasil tiket sudah dalam genggaman tangan tapi tanpa nomor ranjang. Dan jadilah saya ndelosor-ndelosor di kursi, atau di kasur-kasur tipis di lorong lambung kapal. Apesnya, kasurnya sedikit robek yang ternyata di lorong itu ada aliran air buangan AC, heyy nice. Dengan rentan waktu perjalanan yang cukup lama, dengan angin laut yang dingin mendayu-dayu. Tapi waktu itu dingin jadi tidak terasa, karena kursi-kursi yang saya dan orang-orang kebanyakan duduki berada persis diatas mesin AC. Kami jadi dapat efek-efek dipijat dari mesin penghangat, setidaknya angin laut di malam hari menjadi tidak sedingin kenyataannya.

Sebenarnya waktu mau beli tiket sempat dapat saran dari Mulis dan Nengkes supaya melintas saja (melintas mean : Morotai-Tobelo-Sofifi-Ternate via jalur darat), tapi apalah arti lautan ini kalau belum pernah saya sebrangi. Ahelahh apa coba, ndak ada apa-apa padahal. Berlandaskan asas keingin tahuan dan rasa penasaran naik kapal Morotai-Ternate, dan kekangenan untuk tertiup-tiup angin laut di atas kapal akhirnya saya putuskan naik kapal. And you know next? Ternyata saya ada teman, om Amat juga mau naik kapal malam itu, dan sebenarnya dari situlah bagaimana saya bisa tidur di atas kasur saat sedang dalam perjalanan. Karena saya nebeng kasur hehee. Dan ketemu beberapa teman lain juga yang mau mudik.

Next dan langsung menuju Ternate, saya di jemput sodaranya teman, yang karena teman saya sedang sakit. My poor friend. Eitss masih ada teman lain kok yang sehat. Lili namanya, saya tinggal di kamar kos dia dan diajak jalan-jalan. Kita sempat jalan ke benteng-benteng yang ada di Ternate, karena memang disana wisata sejarahnya cukup menarik dan total ada empat benteng mengitari pulau ini. Benteng yang paling dekat adalah Benteng Kalamata, cantik banget, dari sini kita bisa langsung melihat ke arah Pulau Tidore, dan Pulau Maitara. Cantik sekali.

_DSC0578
Sejumput wajah dari Benteng Kalamata, dan ada simbahnya sebagai model. Itu di seberang nampak wajah Pulau Tidore.
_DSC0581
Kalau ada yang iseng-iseng pingin baca.

Selain itu ada Benteng Oranje di tengah-tengah kota, Benteng Tolukko yang letaknya seakan-akan di ujung tebing dan ternyata kecil banget tapi menawarkan pemandangan yang indah banget. Sayangnya waktu itu yang jaga benteng sedang pergi jadi saya tidak sempat masuk dan berfoto, padahal ini spot paling favorit orang-orang yang berkunjung. Satu lagi Benteng Kastela dan saya lupa persis letaknya ada di sebelah mana. Tapi saya rasa wisata benteng sudah cukup yaa.

Sore hari saya dan Lili kembali keluar dari kamar kos dan tancap gas menuju Danau Tolire, danau cantik di sisi lain Pulau Ternate. Terkenal sekali dengan kemampuan danau ini untuk menolak batu-batu yang dilemparkan pengunjung ke arah permukaan danau. Hahaha sebenarnya mungkin bukan menolak batu, tapi memang batu-batu yang dilemparkan sama orang-orang sudah jatuh lebih dulu di semak belukar sebelum menyentuh permukaan danau yang memang jaraknya cukup jauh. Mungkin kita harus mencoba melemparnya pakai ketapel?

Selain itu juga terkenal lohh karena ada buaya putih hidup di dalam sana, yaa posisi geografis danau yang beberapa ratus meter di bawah tempat pengunjung berdiri memang membuat kita takut-takut untuk mengintip ke dalamnya. Saya dan Lili salah satunya, penasaran ingin melihat si buaya putih dan kami menunggu beberapa saat. Memperhatikan gerak-gerik atau jejak-jejak getaran yang menggerakkan permukaan air. Waktu itu kami sempat mengamati ada pergerakan di permukaan air yang pergerakannya cukup besar (karena bisa dilihat dari tempat kami, jadi pastilah cukup besar), dan ada semacam bayangan memanjang mengikuti permukaan air yang bergerak itu. Kami sih berspekulasi itu mungkin adalah si buaya putih yang lagi asik kami perbincangkan.

Hehehe asiknyaa main tebak-tebakan. But, then kita melanjutkan perjalanan pulang dengan jalur yang berbeda. Mengitari pulau, kecil saja Pulau Ternate ini. Cukuplah untuk dikelilingi dalam waktu 1 sampai 1 setengah jam menggunakan kendaraan bermotor, kalau dengan berlari saya belum tahu tuh butuh waktu berapa lama. Tapi mungkin boleh dicoba, ada yang mau temani? Dan sore itu menjadi penutup hari, kami kembali dan mencari sepenggal jajanan untuk teman buka puasa.

Senang Banget Ikut Pecah Rekor Muri, Penyelaman Wanita Terbanyak.



Hidup di kota besar selama lebih dari dua bulan tanpa diving membuat saya bersyukur banget bisa diving di Manado tempo hari.. walaupun tidak sejernih perairan Morotai, dengan substrat dasar seperti halnya tanah berwarna coklat dan bukan dengan pemandangan hamparan terumbu karang dan biota-biota unik memanjakan mata. (sombong dikit boleh ya? maafkan :p)

Yapps kali ini saya dapat kesempatan diving di Manado dalam acara yang diadakan oleh WASI (Wanita Selam Indonesia) dalam kegiatannya untuk mencapai rekor muri dengan jumlah penyelam wanita terbanyak dan pembentangan bendera merah putih terpanjang di dalam air. Kali ini bukan cuman datang untuk fun dive, tapi sekaligus untuk kerjaan, karena saya bertugas mendampingi orang diving. Yaa kita anggap saja seperti guide selam.

img-20180811-wa0084.jpg
salah satu foto bersama setelah selesai penyelaman, dapat piagam dan sertifikat.

Menarik banget sih menurut saya pribadi. Pertama, karena ini kali pertama saya ikut dalam pencapaian rekor muri. Kedua, sepertinya asal muasal saya ingin menyelam itu karena waktu kecil saya diajak snorkling-snorkling di Bunaken. Dan sekarang? Waww saya datang ke Manado untuk menyelam, walaupun bukan di Bunaken sih menyelamnya, but make me still excitedddd.

Ketiga, saya dari Semarang terbang ke Manado untuk jagain orang menyelam.. menarik, mengingat, saya juga kemampuan menyelamnya sangat seadanya. Tapi asli saya merasa sumringah dan agak tertantang karena ada misi yang lebih menarik dari sekedar menyelam-menyelam biasanya (yang juga sebenarnya biasa saja karena hanya di kedalaman 8 meter hehe). Keempat, segala persiapan dan penyambutan dari panita WASI nya kece banget, jumlah peserta yang datar saja saya yakin ada 1000an (tapi karena beberapa hal mungkin pendaftaran mereka tidak sesuai proses untuk ikut, sehingga yang terdaftar hanya sekitar 920 orang). Penjemputan dan pendampingan lain tertata, sekaligus dari sini saya bisa belajar bagaimana mereka memanage kegiatan sebesar ini.

Kelima, sekalian bisa silaturahmi dengan teman-teman, juga silaturahmi dengan temannya orang tua saya, yang tinggal di Manado. Hanya saja karena memang datang untuk kerja, jadi susah banget mau ketemu teman, harus curi-curi waktu baru dapat tatap muka.

Tanggal 10 Agustus 2018 pagi para peserta sudah tiba di lokasi kegiatan yang bertempat di kawasan Megamas untuk penyerahan alat diving sesuai dengan kelompok yang sudah dibagikan. Banyak sekali penyelam yang datang secara berkelompok, beberapa dari mereka baru jadi penyelam khusus untuk ikut kegiatan ini. Soo, menurut kamu apakah kegiatan ini mendatangkan manfaat karena berhasil melahirkan ratusan penyelam wanita? Nah saya sendiri disini terdaftar dalam peserta umum, yang kelompoknya terletak paling ujung.. jauh banget deh dari panggung acara hehe. Saya dan teman saya (Kak Ceri) tugasnya diving sekaligus menemani Ibu Bupati Morotai (dan dua orang temannya) diving dalam kegiatan ini.

IMG_20180810_170818_183
Our scuba gear is ready, and we are ready yeyyy.
IMG_20180810_072958_746
Lucuu banget ga sih, scuba tanknya diberi mark warna pink di lehernya.

Pada hari H, tanggal 11 Agustus 2018, semua peserta dan seluruh jajaran yang bertugas sudah berkumpul di Megamas sejak pukul 5 pagi. Setiap kelompok akan dipimpin dan dikawal oleh safety divers yang berjumlah 5-6 orang, beberapa dari mereka bersertifikat rescue diver, dive master, ataupun instruktur. Sebelum mulai diving kami diberikan briefing singkat oleh dive leader di kelompok kami, Pak Ken namanya, asik banget pembawaannya, dan yang terpenting mampu menguatkan semangat para lady divers sembari menunggu waktu menyelam.

Saya dan buddy saya Bu Monika waktu itu berada di kelompok terakhir nomor 21, kelompok U. Setelah siap dengan peralatan selam, kami bersama buddy masing-masing menuruni tangga dan berenang menuju lokasi penyelaman yang disediakan. Nah disini dibagi tugas dalam pemecahan rekor muri. Ada dua kategori dalam pencapaian rekor muri ini, yang pertama penyelaman massal wanita penyelam terbanyak dan yang kedua adalah pengibaran bendera merah putih terpanjang di bawah laut Indonesia oleh penyelam wanita.

IMG-20180811-WA0083
Foto bersama dulu dengan team Morotai yakan. View belakangnya gagah banget guys, ada kapal fery dengan layar bertuliskan WASI.
img-20180812-wa0041.jpg
Permukaan laut mendadak ramai oleh para penyelam wanita yang dibakar semangat dan antusias.

Nantinya dari kurang lebih 920 penyelam wanita yang sudah terdaftar akan menyelam bersama-sama, sembari dilakukan pengibaran bendera merah putih sepanjang 500 meter di lokasi yang sama dengan lokasi penyelaman. Setiap penyelam diberi kaos dengan warna yang berbeda tiap kelompoknya, dan di dasar perairannya sudah diberikan mark sebagai sign untuk tempat yang harus di tempati oleh para penyelam. Tujuannya tentu supaya para penyelam dengan jumlah yang begitu banyaknya tidak tersebar sembarangan, selain itu bisa tetap dekat dengan buddy dan berada dalam kelompoknya.

Sedangkan untuk pengibaran benderanya, sekitar 80 penyelam wanita sudah ditentukan oleh panitia untuk membantu dalam pembentangnnya di dalam air. Dan yang pasti pengibaran bendera ini dipimpin oleh Bu Tri Tito selaku ketua umum dari Wanita Selam Indonesia. Kalian bisa lihat video pengibaran bendera ini di youtube dengan keyword pengibaran bendera merah putih oleh penyelam wanita.

IMG-20180810-WA0026
Dapat beberapa teman baru, para lady divers kece nan tangguh dan yaa pastinya kita berisik.

Sebagai salah satu peserta yang kebagian tempat di ujung barisan, saya dan Bu Monika cuman bisa bengong-bengong lihatin buddy, lihatin bendera merah putih yang sudah terbentang di depan kami, kadang gemashh lihat safety divers yang berkeliyaran renang dan mengambang-ngambang di atas saya, kadang tiba-tiba ada badai pasir karena teman penyelam yang di sekitar tiba-tiba kakinya gerak dan bikin substrat naik. Pada menit-menit pertama kita sampai di dasar perairan, penglihatannya buram sekali, mungkin hanya jarak lima meter saja jarak pandangnya.

Sekitar 15 menit kemudian saya dengar suara dentingan yang pasti berasal dari pointer yang dihantamkan ke badan tank scuba, karena jarak pandang yang sempit saya tolah-toleh cari sumber suara, tiba-tiba muncul penyelam di depan kita dengan jarak hanya 30 cm lah kurang lebih. Mengambang di kolom air dengan anggun sembari ujung tangan kanannya berada di pelipis dahi nya, sedang memberi hormat. Ternyata Ibu Tri Tito. Saya sempat bingung tapi langsung ikut membalas dengan kembali memberi hormat. Lupa saya kalau lagi pengibaran bendera. Btw setelah itu ibunya mau coba pakai sea scooter milik cameramen beliau, eh tapi nyeruduk-nyeruduk diri saya dari belakang dong.. kan kaget saya nya ini hehe. It’s okey, forget it.

Kami yang lagi bengong menunggu instruksi untuk naik, akhirnya mendapat hiburan dengan kehadiran cameramen yang mondar-mandir di depan barisan kami. Lucunya punya buddy yang aktif adalah buddy saya melambai-lambaikan tangan ke cameramen, minta di foto hehe. Untung tidak langsung renang maju nyamperin cameramennya ya Bu. Saya sih bantu panggil saja, dan tentu ikut siap-siap berfoto sambil sedikit menahan ketawa geli.

IMG-20180811-WA0079
me and my buddy eksis depan kamera, rock it buddy.

Menyelam sekitar 20 menit di dasar perairan, akhirnya datang instruksi naik. Di permukaan air para lady divers sudah heboh dan suara ramai menggema memenuhi kolom udara, kurang jelas ada apanya. Sebagian heboh dengan temannya, beberapa bingung tidak tahu apa sebab, dan kebanyakan (termasuk saya) heboh sambil melambaikan tangan ke langit dan sambil sedikit memekik gembira, karena drone bolak-balik lalu lalang di atas kami, para lady divers yang baru saja berhasil menyelesaikan rekor muri-nya. “Rekor Muri Penyelaman Massal Penyelam Wanita, dan Pembentangan Bendera Merah Putih Terpanjang oleh Penyelam Wanita. Manado, 11 Agustus 2018”.

Selamat menyelam Buddy, remember safety first. No safety, no dive.