Diving Gelap-gelapan



Night Diving. Dulu saya paling takut dengan yang namanya night divingDiving di malam hari, gelap gulita, dingin, dan ada rasa ketakutan akan bersenggolan dengan karang atau hewan-hewan karang lain yang mungkin saja membahayakan (atau mungkin sebenarnya Saya yang berbahaya bagi mereka). Tidak memiliki masker selam dengan lensa minus mungkin menjadi alasan utama Saya takut untuk diving di malam hari. But, heyy… Semua Berubah ! hahha

IMG-20180114-WA0019

Sepertinya semua berubah semenjak di Morotai Saya dapat masker selam dengan lensa minus, and luckly lensanya sesuai dengan minus mata Saya. Itulah mungkin suka duka orang dengan mata minus huhuhu.. hehe curhat sedikit. Jadi ketakutan menyelam dekat dengan karang muncul karena adanya keterbatasan jarak pandang, soo ketika saya sudah bisa melihat dengan baik saat menyelam, Saya akhirnya penasaran dan ketagihan untuk diving di malam hari. Sebenarnya bukan ketagihan sih, tapi ada tugas dari owner dive center untuk melakukan night divePliss help me with your doa, supaya selama Saya berkegiatan di Morotai bisa lancar sentosa.

Pertama kalinya Saya diving malam itu pada bulan Januari 2018 bersama teman baru Saya, namanya Ratih. Sebenarnya Ratih ini teman SMA dari teman Saya di kampus, kita baru kenal sejak di Morotai dan yaaaauda ayok kita diving! Bertempat di Wawama, bersebelahan dengan Paix Coffee (bukan promosi) Saya, Ratih, Datuk, Ko Biman, Rama, dan Buyung dalam satu grup malam itu. Kita sudah bersiap-siap diving sejak jam 6 sore. Setelah magrib kita langsung meluncur masuk ke dalam air, shore entry sekitar 50 meter, masing-masing penyelam sudah membawa dan menyalahkan senternya, kemudian mulai menenggelamkan diri masuk dalam lautan yang gelap.

Menyelam pada kedalaman maksimal 10 meter, dingin, gelap, tidak ada suara selain suara tarikan nafas dan gelembung-gelembung yang muncul dari sisa nafas penyelam. Sinar-sinar kecil dari senter penyelam yang muncul dalam gelap, berjarak sekitar 1-2 meter dari Saya. Suasana hening dalam gelap, suara gelembung yang samar-samar terdengar menemani selama penyelaman, sinar senter yang terlihat sibuk mengarah ke permukaan karang, mencari si cantik and iconic Walking Shark. Mungkin itu beberapa moment yang paling teringat pada penyelaman malam pertama Saya.

Selain itu Saya juga baru memahami cara mengaplikasikan hand signal saat menyelam malam, melihat ikan-ikan tidur, ada telur cumi-cumi yang mengambang di perairan, plankton yang menyala dan berenang bebas, ada juga dua penyu yang sempat menyapa kita. Namun sayang beribu sayang, malam itu kami belum berhasil bertemu dengan walking shark itu. Memang dasarnya saya orang yang nerimaan (alias mirip-mirip dengan kata pasrah) yaudalah it’s oke belum waktunya bertemu  dengan walking shark ini. And hoppefully i will meet the walking shark on my next night diving,  see you.

Thankyou for read my blog… Kalo kata orang-orang, salam gelembung !



I Love Dive with Sharks



Bukan kali pertama saya menyelam bersama hiu, karena beberapa diving sebelumnya saya juga sudah bertemu dengan hiu. Tapi yang satu ini berbeda, this site named Blacktip Point. Yapp lokasi khusus di Pulau Matita, Morotai yang menjadi andalan Shark Diving Indonesia untuk menyelam dengan hiu yang ramah dan bersahabat. Bukan di dalam penangkaran hiu, tapi langsung di habitat aslinya.

Hiu yang pasti kita temukan berenang dekat dengan penyelam adalah blacktip reef shark, hiu karang dengan ukuran panjang sekitar 1 – 2 meter, dan memiliki corak hitam di ujung siripnya sebagai ciri khusus hiu jenis ini. Bertemu dengan 20 ekor lebih hiu yang berenang dengan jarak sangat dekat disekitar tubuh anda ternyata adalah hal yang biasa bagi teman-teman Saya di Morotai, padahal untuk saya ini adalah hal yang super-super baru dalam hidup saya selama 22 tahun ini. Mungkin jarak terjauh dari tubuh saya hanya beberapa puluh centimeter saja.

2
looks how handsome and cool this black tip reef shark! (photo taken by my friend)

Saat menyelam di blacktip point kita akan coba mencari perhatian dari hiu dengan cara memberikan umpan makanan, yapp feeding sharks. Ikan cakalang/tuna menjadi pilihan utama sebagai umpan untuk hiu, dengan jumlah yang secukupnya agar tidak mengganggu kebiasaan alami hiu untuk berburu. Pemberian umpan dilakukan oleh shark feeder yang sudah menggunakan pakaian khusus untuk feeding shark, it’s named Shark Armor. Baju besi bertekstur anyaman seperti seorang prajurit perang, yang pastinya memberi keamanan kepada si shark feeder. Bukan karena hiu itu jahat, tapi sebagai bentuk standar keamanan.

Umpan ikan yang sudah dipotong-potong besar siap diberikan kepada para hiu yang berenang disekitar penyelam, berada pada kedalaman 18-20 meter di bawah air dan dengan cahaya matahari secukupnya yang masih sanggup masuk ke badan air. Hiu-hiu ini dapat mencium bau darah dari umpan ikan yang kami bawa, tapi heyy ada yang berbeda dari potongan-potongan umpan yang kami bawa. Warna darah ikan ini sudah tidak merah lagi. Hiu yang asyik mencabik daging umpan ikan di kolom perairan membuat darah ikan itu menyebar, tapi bukannya berwarna merah. Warna hijau terlihat menyebar dari daging ikan itu dan larut bersama air laut.

Ternyata semakin dalam kita menyelam, semakin sedikit sinar matahari yang bisa masuk ke dalam badan air dan beberapa warna mulai tidak terlihat, sampai akhirnya hanya ada warna hijau dan biru atau akhirnya gelap total. Wuww.

Puas bercengkrama dengan hiu, dan sebagai akhir dari penyelaman kami di Blacktip Point, Saya dan teman-teman satu grup (ko Andi, Jacob dan Simca) berenang sedikit untuk menikmati pemandangan karang yang hidup di dasar perairan Pulau Matita. What a great experience !



Who Doesn’t Love Sunset?

Sebentar lagi senja.

Hai kalian, semoga berbahagia.

bimantara03woow-com_ios-1477-4831-9395-2318-9559.jpg
don’t you think it’s beautiful, when the sunset not actually seen, but still make me falling in love. (location : swering desa yayasan)

Jadi beberapa waktu belakangan ini saya hobi banget mantengin senja. Cahaya jingga keemasan, oranye, merah muda, terus perlahan berubah semakin gelap, menjadi semburat warna ungu, biru dan semakin gelap seiring terbenamnya matahari. Dulu sepertinya saya tidak terlalu tertarik menikmati senja atau disini kita sebut saja sunset. Karena ketika saya menyebutnya senja, kesannya saya puitis banget ahhaaha.

Ingat banget sempat rajin dengarin youtube yang mana Bang Abimana Aryasatya lagi bacain cerpen yang isinya tentang “Sepotong Senja Untuk Alina”. Ternyata cerpen ini berimbas saya jadi doyan mengamati sunset, ketika saya tinggal di Morotai selama enam bulan. Ternyata sih seperti tertanam di alam bawah sadar ahhaa. Tapi sebenarnya saya lebih suka sunrise, karena rasanya bikin lebih bersemangat setelah menyaksikannya. Hanya saja, saya sedikit kurang tergugah untuk berkeliling mencari sunrise di Morotai hahaha. Hmmm tapi sempat sih satu kali dapat sunrise di Museum Trikora, akibat lari pagi bareng Rama, Buyung, and Ko Bims.

p_20180227_071924.jpg
ini moment waktu saya nungguin sunrise, tapi tidak terlihat yaa? mendung sih.

Singkat cerita nih, saya mau bikin katalok beberapa foto sunset yang sempat tertangkap kamera. Soo… selamat menikmati.

IMG-20180502-WA0013
cantik banget yaa? lupa sih ini foto diambil dimana, tapi cantik banget.

Bagaimana sunset menurut definisi mu? Saya sempat cari artikel tentang arti senja atau dalam bahasa inggris sunset, dimana sunset diartikan sebagai bagian waktu dalam hari atau keadaan setengah gelap di bumi sesudah matahari terbenam.

_DSC0043
Pemandangan dari swering (swering itu dinding semen pembatas pantai). Waktu ambil foto ini, rasanya seperti di negeri dongeng yang ada berbie-berbie nya, tentunya berkat gumpalan awan yang dengan dasyat menggantung di langit laut Morotai.
_DSC0029
Menoleh ke kanan sedikit kita sudah bisa menikmati sunset dengan pemandangan pelabuhan Kota Daruba. Awannya sedikit tebal hari itu, tapi cuaca tetap aman terkendali.

Pingin dengarin cerita tentang cerpen yang dibacakan Abimana ga? Jadi si Abimana ini berperan sebagai Sukab yang punya pacar bernama Alina. Ceritanya bermula ketika Sukab yang sedang menikmati sunset di tepi pantai yang indah secara tiba-tiba teringat akan pacarnya yang sedang long distance, kemudian muncul ide si Sukab untuk mengambil sunset itu  dan dikirim untuk pacarnya, Alina.

Ketika Sukab mengambil sunset itu, orang-orang yang juga sedang menikmati sunset marah dibuatnya. Tentu saja, karena Sukab menciptakan sebuah lubang hitam berbentuk persegi panjang, tepat dimana matahari hanya tersisa setengah bulatan sebelum terbenam, bahkan beserta pantulan cahaya keemasan dipermukaan lautnya, yang dia potong secara rapi untuk Alina. Dan bagaimana orang-orang bisa menikmati suasana sunset yang penuh daya tarik?

Sunset dengan cahaya merah dan oranye keemasan kata Sukab, dia ingin sekali memberikannya untuk Alina.

img_20180515_182624_261.jpg
Bergeser sedikit ke rumah Om Adam, foto sunsetnya diambil dari depan rumah Om Adam yang mepet dengan pantai. Lumayan blurr fotonya, mengingat bermodal kamera hp biasa.

Tidak lama setelah itu Sukab menjadi buronan polisi karena mencuri sunset hari itu. Lucu yaa. Hebatnya, Sukab berhasil lolos dari kejaran polisi, dan menitipkan sunset yang diambilnya sebagai surat cinta untuk Alina. Yaa.. seperti layaknya sebuah surat, sunset itu dia masukkan ke dalam amplop, dan dikirimkan melalui kantor pos.

P_20180508_185031 (1)
Ini juga dari depan rumah Om Adam, tapi agak ke laut karena kita nongkrong di dermaga kayu di situ. Ada modelnya, tapi tidak pakai bayaran karena bukan model profesional 😉
Screenshot_20180623-170943
don’t you see the beauty of this photo? couse i do.
img_20180608_181122_342-11-e1532345409902.jpg
Bukan sepenuhnya sunset sih, mungkin masih sekitar 15 menit sebelum sunset. Lokasi di pelabuhan Kota Daruba, dan di sana bersandar kapal Geovani yang menjadi transportasi laut Morotai-Ternate.

Perjalanan yang cukup berat menemani Pak Pos pengantar surat dalam cerita ini. Dan surat dari Sukab menjadi surat terakhir yang harus diantarkan nya. 10 tahun yang harus ditempuh oleh Pak Pos, iyaa.. 10 tahun. Mengapa bisa begitu? Pak Pos ini, dia begitu penasaran dengan isi surat cinta Sukab. Sehingga begitu dia membukanya, dia malah terhisap kedalam potongan gambar sunset itu.

Entah seperti apa 10 tahun yang dilewati oleh Pak Pos di dalam potongan gambar sunset itu, menakjubkan katanya. Suatu ketika dia berhasil keluar dan terburu-buru mengantarkan surat milik Sukab. Maka surat cinta Sukab akhirnya sampai juga di tangan Alina. Tidak disangka, Alina malah membencinya setengah mati.

DCIM100MEDIADJI_0012.JPG
Spot menikmati sunset yang sama dengan foto pertama di blog ini, swering. Sepertinya foto ini saat airnya sedang surut, kamu bisa lihat dari adanya batang pohon besar yang cuman terlihat saat surut.

Begitu dibukanya amplop berisi surat cinta itu, surat cinta yang diterjemahkan Sukab dalam bentuk sunset, yang dicurinya 10 tahun lalu, yang membuatnya menjadi buronan polisi. Begitu Alina membuka surat itu, Alina kesal setengah mati, air laut keluar dan membanjiri seluruh tempat tinggal Alina, matahari yang hampir terbenam itu pun ikut keluar dari amplop. Alina membalas surat cinta yang dikirimkan oleh Sukab dengan kebencian dan kesal, begitu kejamnya. Bagaimana tidak? 10 tahun lamanya, dan ketika sampai, surat cinta itu bisa dibilang tidak masuk akal.

Cahaya merah dan oranye keemasan yang dicuri oleh Sukab, berakhir dengan pahitnya.

This photo is taken by AllWinner's v3-sdv
Army dock, salah satu tempat paling favorit dan fenomenal untuk menikmati sunset di Morotai. Kamu penasaran ingin lihat sunset dari sini?
IMG_20180724_185151_710
Nah ini foto di army dock, dan sepertinya ini sunset pertama saya di Morotai.

Banyak sekali spot asyik untuk menikmati sunset di Morotai. Ada juga spot cantik dari Pulau Dodola, waktu itu saya juga sempat menyaksikan sunset dari sana. Sayangnya tidak saya abadikan dengan kamera. Salah satu teman saya dari jawa malah sempat bilang sunset di Morotai itu paling cantik.

IMG_20180724_185148_466
The best and the perfect sunset ever from Morotai Island. (location : Pelabuhan feri)
img_20180606_183831_476.jpg
Salah satu foto sunset favorit saya deh ini sepertinya. Sebenarnya ini diambil dalam perjalanan pulang, dan warna langitnya benar-benar cantik hari itu. Meskipun agak blurr yaa..

Menurutmu bagaimana dengan cerita cinta Sukab? apakah menarik? atau menikmati sunset tetap lebih menarik?

bimantara03@woow.com_iOS-6386-3725-5656-7520-7069
Bagaimana kalau yang satu ini jadi penutup? indah yaa, walau tidak dengan langit yang dihiasi cahaya merah dan oranye keemasan milik Sukab. Kalau ini sih diambil dari pelabuhan Daruba, dengan pemandangan pulau kapa-kapa.

catatan : beberapa foto adalah koleksi orang lain, tidak semua saya yang jepret.

Thanks, enjoy your sunset.

Ainun Ngapain sih di Morotai ?



What i did in Morotai?

Selama enam bulan terakhir semenjak lulus dari kuliah, Saya menghabiskan waktu dengan merantau ke Pulau Morotai. Pulau yang dijuluki The Pearl of Pacific, berada di ujung utara Kepulauan Maluku, salah satu pulau paling ujungnya Indonesia. Dan sebenarnya Saya ngapain sih disana? Jadi, Saya jauh-jauh hinggap di Morotai begitu jauhnya dari kota asal Saya di Jawa, tidak lain dan tidak bukan untuk mencari pengalaman pekerjaan.

IMG-20180531-WA0004
haloo! tebak Saya lagi ngapain ;D

di Morotai Saya bekerja (yang mana dalam kontraknya dikatakan Saya magang) di sebuah dive center, namanya Shark Diving Indonesia. Suatu dive center yang terkenal dengan wisata selam bersama lebih dari selusin hiu blacktip yang tampangnya kadang garang dan ganteng-ganteng, tapi kelakuannya ramah banget loh sama para penyelam yang datang. Dan juga wisata selam untuk melihat peninggalan pesawat dari perang dunia kedua, and another unic and beautiful dive spot. Sebenarnya magang disini bagi Saya lebih terasa seperti sedang liburan setelah lulus kuliah, sebelum benar-benar kecemplung dalam dunia kerja yang lebih keras.

Saya sendiri di Shark Diving menjabat sebagai dive coordinator. Yap! Tugas utama Saya adalah mengkoordinir segala kebutuhan dan merencanakan trip penyelaman. Jadi kalau ada tamu, atau Kamu-Kamu semua mau diving bisa hubungin Saya. Hahha. Iyaa, ini beneran loh. Nantinya Saya akan memersiapkan kebutuhan trip, mulai dari biaya yang dibutuhkan, siapa saja guide yang akan memandu penyelaman, kemana tujuan penyelamannya, alat-alat yang dibutuhkan dalam trip, dan hal lain seperti siapa saja kru yang akan terlibat dalam trip ini. Kadang Saya sendiri juga bisa berlaku sebagai guide, jika dibutuhkan.

IMG-20180512-WA0002
Potret dari salah satu trip yang paling seru selama Saya magang.

Dalam beberapa hal, misalkan tamu yang akan diving dalam jumlah besar maka koordinasi akan datang dari Pak Gharonk, yang punya-punya (pengulangan kata ini bukan salah ketik, memang ingin) Shark Diving Indonesia. Pak Gharonk sendiri sehari-hari nya tinggal dan bekerja di Jakarta. Tapi Saya di Morotai tetap sebagai perpanjangan tangan Pak Gharonk, jadi Saya harus pastikan siapa saja yang akan nge-guide dan beberapa hal lainnya.

Yang seru buat Saya sih semua hal seperti how to manage a trip, memahami logat, perkataan, budaya orang-orang Morotai dan bagaimana bersosialisasi dengan masyarakat Morotai harus kita lakukan secara bersamaan dan bagaimana agar bisa balance. Hahaha. Event sampai penghujung masa magang Saya toh, semua itu belum berhasil Saya lakukan dengan baik. But it’s ok. Sometimes you should let go and forgive your self, for everything you have done. Bukan dalam artian memanjakan diri dan merasa ga bersalah, tapi memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang kita lakukan itu lebih baik. Maka kita akan membuka kesempatan bagi diri sendiri untuk memperbaikinya, bukan sibuk menyesali dan mengutuk diri sendiri.

Eitss tugas Saya belum selesai disitu, Saya juga bertanggung jawab sampai urusan per-bendaharaan di dive center. Ini berat kalau Kamu mau tahu, dan tambah berat kalau tidak pernah kamu jalani. Jadi ketika Saya menjalaninya, hal-hal yang Saya kira berat ternyata tidak seburuk kelihatannya kok. Dan ini berlaku untuk hal apapun, yakin. Asalkan Anda, Kamu percaya pada diri sendiri. Jangan sampai kehilangan kepercayaan pada diri sendiri, itu adalah hal terburuk dari segala kondisi.

Begitulah kira-kira pekerjaan Saya di Morotai, dan sisanya nyelam-nyelam kapan saja kalau mau, dan ikut teman main kesana kemari melihat seperti apa Morotai.



Spot Diving Paling Wajib Dikunjungi di Morotai



Sejauh dan selama pengalaman Saya diving di morotai, ada beberapa spot yang menjadi favorit dan menurut Saya pribadi menjadi spot yang wajib dikunjungi. Bristol Beuford Wreck, Aru Point, Blacktip Point, dan Underwater Vulcano menjadi empat spot diving kesukaan Saya. Bukan hanya berdsarkan keindahan coral yang menjadi patokan Saya, tapi masing-masing punya keunikan yang mungkin tidak kamu temukan di tempat lain di Morotai dan sekitarnya.

Sesuai namanya Bristol Beuford Wreck, yang adalah spot diving dimana penyelam bisa melihat bangkai pesawat milik negara sekutu saat terjadinya perang dunia II, pada kedalaman 40 meter di bawah permukaan air. Pada kedalaman itu kita bisa melihat beberapa kendaraan seperti geep dan beberapa pesawat lain yang jaraknya berdekatan. Ternyata pesawat-pesawat ini memang sengaja di tenggelamkan oleh sekutu saat selesainya perang dunia II.

Ada sensasi yang berbeda muncul saat Saya melakukan deep dive, apalagi bonus bisa melihat salah satu peninggalan sejarah dunia yang monumental. Sayangnya kita tidak bisa berlama-lama untuk mengamati peninggalan sejarah ini, karena letaknya yang berada di kedalaman 40 meter membatasi waktu penyelaman dan mengharuskan kita untuk merangkak dan berenang-renang pada tempat yang lebih dangkal.

And also, thats why Saya belum punya foto sebagai bukti dan kenangan bahwa Saya sudah pernah menyelam di Bristol Beuford Wreck hhaaha. Tapi kalian-kalian wajib sih diving disini, masuk must list to do before you guys die.

Aru point, salah satu spot yang entry nya harus jalan atau berenang sekitar 200 atau 300 meter. Buat sebagian orang Saya rasa hal itu pasti melelahkan, tapi terlepas dari itu percayalah tempat ini menyimpan underwater view yang pasti Kamu bakal suka. Dengan kontur dasarnya yang berupa dinding alias wall, menyuguhkan hamparan hard coral, soft coral, and all living things yang sangat ciamik, menarik dengan bentuk dan warna-warnanya yang beragam.

Belum cukup sampai disitu, pada kisaran kedalaman 25 meter Kita juga bisa menemukan karang bolong yang membentuk lubang seperti huruf O. Atau kadang juga Kami menyebutnya dengan OK Point. Kalau belum percaya dengan cerita Saya, mungkin Kamu harus buktikan sendiri.

Dan yang paling terkenal dikalangan tamu-tamu atau diver yang datang ke Morotai, pastinya blacktip point. Yang satu ini adalah spot andalan paling wajib diselami. Para penyelam akan dibawa menyelam menggunakan boat dari pelabuhan Daruba menuju Pulau Mitita, blacktip point. Selanjutnya langsung menyelam pada kedalaman 18-20 meter di bawah permukaan laut.

Disini leader atau guidenya akan mencari perhatian dari balcktip reef shark yang memiliki kisaran panjang tubuh 1-1,9 meter, dengan cara melakukan feeding. Saat feeder memberikan umpan ikan untuk hiu, penyelam lain memposisikan diri berhadapan dengan feeder pada jarak 1-2 meter atau lebih. Saat menyelam dengan hiu Kita harus tenang dan tidak menimbulkan gerakan-grakan berlebihan dan tiba-tiba karena bisa mengagetkan bagi hiu tersebut, apalagi kalau sampai mau mengejar hiunya. Jangan yaa, ga bakalan terkejar juga hehe.

Sedikit informasi seputar feeding shark adalah Kita menggunakan ikan tongkol atau tuna yang sudah dipotong-potong menjadi beberapa bagian sebagai umpan hiu, kadang juga beberapa tambahan insang. Penggunakan ikan ini sesuai dengan jenis makanan yang dikonsumsi oleh hiu secara alami. Selain itu shark feeder juga menggunakan baju besi seperti pakaian perang jaman dahulu, shark armor namanya. Baju besi ini dipakai bukan karena si hiu suka menyerang manusia, tapi lebih kepada standar operasional sebagai bentuk antisipasi mengingat penglihatan hiu yang tidak terlalu baik dan lebih mengandalkan scaning gelombang elektromaknetik pada mangsanya.

Dan satu lagi tempat yang perlu banget dikunjungi adalah Underwater Vulcano. Yang satu ini unik banget menurut Saya. Sebenarnya lokasinya cukup jauh dari Pulau Morotai, memakan waktu cukup lama, dan pengalaman Saya saat menyelam disana sebenarnya kurang memuaskan. Tapi Saya akan tetap merekomendasikan spot ini untuk dikunjungi mengingat karakteristik kontur penyelamannya yang unik dan tidak biasa.

Kontur dasar peraiannya bukan flat, wall atau slope seperti yang sudah-sudah, tapi tentu saja berupa kawah-kawah dengan jarak yang dekat dan kedalaman yang berbeda-beda kisaran 18-25 meter dan beberapa kawah lebih dalam lagi. Ada sensasi yang lucu saat menyelam disana, saat Saya masuk kedalam bibir kawah yang berdiameter kurang lebih 5 meter. Suasana menjadi sedikit gelap dan agak buram. Ada gelembung-gelembung aneh yang keluar dari sebuah retakan di dasar kawah. Terkadang semua tiba-tiba menjadi buram oleh gelombang air panas yang keluar dari kawah, mendorong penyelam kearah permukaan secara tiba-tiba.

Dari kesemuanya itu Saya suka sekali, semoga kalian juga suka dan bisa mencicipinya J

sharkdiving indonesia dive map of morotai revisi januari-Recovered