Lihat-Lihat Batik Danar Hadi, Penasaran?

Ada yang pernah dengar nama Batik Danar Hadi?

Logo Batik Danar Hadi
sumber : google.

Iyaa, merek batik terkenal itu. Batik-batik cantik dengan aneka motif dan corak. Danar Hadi sendiri adalah nama sebuah brand toko batik yang berpusat di kota Solo dan juga Jakarta, kalau cabangnya sih sudah ada di banyak kota besar seperti Semarang, Jakarta, Yogya, Bali dan Balikpapan. Nah, yang istimewa kalau kamu mampir dan berkunjung ke toko nya di kota Solo ini kamu bisa sekaligus berwisata di Museumnya. Coba cek official instagram nya, tertulis bahwa mereka memajang sekitar 1000 lebih jenis batik yang umurnya sudah entah berapa puluh/ratusan tahun, hmm tapi ternyata koleksi kain batik kunonya sendiri bisa mencapai 10.000 loh. Wadaw, kebayang ngga tuh?

Nama Danar Hadi sendiri ternyata diambil dari ‘Danar’ nama istri Bapak H Santosa Doellah S.E., dan ‘Hadi’ ternyata nama dari Bapaknya Bu Danar yang mana pak Hadi ini adalah juragan batik. Sedangkan orang tua nya pak Pak Santosa adalah seorang dokter. Sedangkan kakek buyutnya Pak Santosa yang sekarang berusia 77 tahun ini adalah salah seorang abdi dalem Keraton Solo.


Yang ini Logo Batik Danar Hadi pada jaman dahulu, yang mengenakan kacamata hitam itu adalah ibu Danar. Kece banget yaa, suka.
sumber : google.

Kalau kamu datang ke museum ini secara langsung kamu pasti bakal suka deh, sayangnya di dalam museum tidak boleh berfoto-foto tuh. Simpan dulu yaa kameranya, kita fokus mendengarkan penjelasan tour guide nya yang ternyata memang menarik dan sarat pengetahuan tauk!

Khawatir akan kehilangan informasi berharga yang disampaikan hanya dalam sekejap mata, saya akhirnya merekam suara si tour guide ini. Ahhaha. Seru juga kalau mendengarkan percakapan rombongan kami saat tour.

Hmm, by the way saat menuju ke museum saya berangkat sendirian setelah sebelumnya menuntaskan perjalan bisnis (di Assalaam Hotel) hahaha promosi sedikit yaa. Kemudian saya digabungkan dengan rombongan dua orang mba cantik asal Sumatra yang kebetulan sedang main di Solo. Untuk tiket masuk museum nya saya termasuk golongan umum dan dikenakan biaya Rp 35.000 sedangkan untuk pelajar Rp 15.000.

Mengisi buku tamu, kemudian diajak masuk museum yang tampilannya bisa dibilang mewah, suasananya tenang dan menenangkan, adem karena pakai ac, bersih, lampu gantungnya dari kristal cantik dan tidak bikin silau. Batik-batiknya di tata cantik dan anggun dan tidak boleh dipegang karena usianya yang sudah puluhan tahun. Semua set kebaya yang disimpan di dalam museum ini juga asli koleksi dari jaman dahulu, ada beberapa puluh set kebaya cantik.

Batik parang Solo dan batik parang Yogya ternyata juga berbeda guys. Kalau batik parang Solo itu garis nya mengarah jatuh ke kiri, sedangkan batik parang Yogya garis pada batik mengarah jatuh ke arah kanan. Penasaran ga sih kenapa namanya batik parang? Bukan karena bentuknya seperti parang atau celurit dan golok itu yaa. Bukan, itu mah beda tau, ini bukan parang benda tajam itu.

Motif batik parang digambarkan dengan pola yang miring dan terdapat pola seperti isian atau bulatan di antara motif tersebut. Parang itu sendiri ternyata merujuk kepada tebing berbentuk miring. Contohnya nih bisa kamu lihat di pantai parang teritis dan parang kusuma 😀 ada tebing yang berbentuk miring.

Selanjutnya ada beberapa motif batik yang cukup menarik.

Batik Belanda, yang ini adalah batik yang banyak berkembang di kawasan pesisir dan lokasinya cukup jauh dari keraton dan mendapat pengaruh-pengaruh dari negara asing / penjajah secara langsung pada masa penjajahan Belanda. Motifnya di desain oleh para wanita wanita belanda, dan di kerjakan oleh wanita-wanita Indonesia. Pada batik ini lebih banyak bercorak bunga bunga, daun, pohon, hewan, tapal kuda, buah dan sejenisnya. Kamu tahu dongeng Hanstle and Greatle, Snow White ? mereka membuat versi batiknya juga loh, menarik yaaa. Ada juga yang terkenal dengan nama batik company yang motifnya bergambar tentara-tentara Belanda dan berdasarkan sudut pandang orang Belanda.

Batik Indonesia, hmm kalau yang ini sudah pernah dengar? Motif batik yang ini merupakan ide dari bapak Ir. Soekarno yang direalisasikan oleh temannya beliau yang merupakan seorang pembatik berdarah Tionghoa. Batik ini memiliki motif yang lebih beragam dan cenderung bergambar atau seperti kombinasi dari beragam motif batik, serta memiliki warna yang lebih beragam. Batik ini juga selain motif nya yang menarik dan warna beragam, juga memiliki tujuan politik untuk mempersatukan Indonesia yang beragam. Batik-batik ini pula yang banyak kita gunakan hingga sekarang.

Batik Tiga Negara, nahloh apa coba yang ini? Yang sempat terlintas dipikiran saya saat itu hanya batik ini mungkin dibuat oleh perwakilan-perwakilan negara penjajah Indonesia saat melakukan persekongkolan dan ingin membuat janji untuk damai dan semacamnya. Eeetapi ternyata bisa dinamakan demikian kerena dalam proses pembuatannya, batik ini dibuat pada tiga tempat berbeda dan harus begitu. Bukan karena alasan berbau mistis atau upacara religius kejawen semacamnya, namun karena batik ini memiliki warna yang beragam pada batiknya dan warna-warna tersebut hanya bisa didapatkan jika dilakukan pencelupan di tempat-tempat berbeda.

Wilayah yang berbeda itu antara lain Lasem, Semarang/Pekalongan dan Yogja. Kadar pH pada air di masing-masing daerah mampu menciptakan perbedaan warna yang signifikan saat batik melalui proses pencelupan. Sungguh batik dengan proses yang panjang ya, dan suka traveling. Makanya jangan heran yaa kalau prosesnya yang secara sederhana saja memang sudah panjang, ditambah lagi proses pewarnaannya yang memakan waktu dan jarak yang jauh, tidak kaget kalau harganya juga cukup tinggi.

Satu lagi nih yang cukup menarik, Batik Cina. Batik ini punya motif bunga-bunga dan gambaran yang sangat detil, seperti gambar titik-titik yang sangat kecil dan halus pada setiap permukaan kain yang tidak bergambar. Kalau jaman dulu setiap batik harus di berikan lilin pada setiap permukaan kain (bolak-balik) dan memakan waktu kurang lebih 1 tahun hingga lebih. Masyaallah banget yaa, kamu mau pesan?

Disamping batik Cina yang manis ini terpajang batik yang berkembang pada masa penjajahan Jepang (tapi pengusaha batiknya tetap orang cina guys). Menariknya batik Jepang ini punya konsep Pagi-Sore. Buat yang tidak punya banyak sangu untuk membeli banyak kain batik, yang satu ini mungkin bisa jadi solusi. Batik ini memiliki dua corak dalam satu kainnya, yang mana corak ini dibedakan oleh garis horizontal sehingga di pagi hari kita bisa menggunakan satu sisinya di luar, dan saat sore hari bisa di balik menggunakan sisi yang sebelumnya ada di dalam. Nah, terlihat seperti punya dua batik yang berbeda kan? Padahal mah beda gambar saja, kainnya tetap sama.

Seperti itu deh kira-kira gambaran singkat beberapa informasi dan pengalaman yang di dapat saat saya berkunjung ke museum ini, suka sekali. Apalagi saya yang nol besar banget deh nilai sekolah nya tentang budaya-budaya jawa seperti ini. See you next time.