(sebagai) Catatan Hari Pertama / Hari awal.

Bukan hari pertama sih, tapi catatan ini di dedikasikan untuk catatan awal mulainya saya mengajar dalam program internship mengajar di Play Group Aisyiyah 01 Banyumanik, Semarang. Sebagai catatan nih, saya sendiri yang menciptakan program internship ini dengan kekuatan fikiran saya. Beberapa hal awal adalah saya datang pagi hari jam 07:00 sambil berjalan kaki dari rumah yang hanya memakan waktu 7 menit saja. Simpel yaa, simpel tapi apa temen temen? Simpel pastenseeee.

Inframe : bu Tika bersama anak-anak PG yang sedang mengantre mencuci tangan sebelum makan.
(Dokumentasi pribadi)

Baikhhlah, mau cerita sedikit beberapa hal yang sempat terbesit ketika memulai di beberapa hari pertama, yaitu sejak tanggal 01 maret 2019. Saya pertama-tama masih dengan wajah-wajah bingung, harus menggunakan seragam apa ya biar tidak terlalu njomplang nih bentukannya dengan guru-gurunya. Saya sempat mengamati dalam diam, makhlum lah saya memang orangnya tidak terlalu banyak heboh-heboh yaa jadi kadang suka berfikir dalam diam.

Minggu pertama, okee saya sudah faham nih besok akan pakai baju apa supaya tidak beda jauh dengan para guru-guru asli. Ehh lah waktu mau saya aplikasikan di minggu kedua mengajar di sekolah, ternyata ada beberapa perbedaan. Hmm, kecelik saya nih. Memang yaa, ternyata guru-guru tuh punya beberapa seragam jadi mungkin dua minggu sekali ganti alur pemakaiannya. Agak sedikit kurang proporsional sih kalau dijelaskan disini, lain waktu kita jumpa dan ngobrol ini yaa.

Hal kedua yang ada di dalam benak saya adalah nama-nama para murid ini, beberapa dari mereka sangat menonjol sehingga mudah untuk di ingat mulai dari nama, gerak-geriknya, suara, sampai tas, botol minum dan sepatu saya juga bisa ingat. Lain cerita pada beberapa anak yang cenderung lebih asik dengan dunianya sendiri dan tidak banyak bersosialisasi dan menyuarakan dirinya. Kadang bentuk wajah, bentuk tubuh dan namanya saya masih suka tertukar.. hiks padahal ini sudah minggu ketiga mengajar loh. But it’s okey everything have their own time kok, keep in fighting.

Ketiga, ini sebenarnya adalah hal utama yang harus saya persiapkan. Yaitu hal apa yang bisa saya pelajari di dalam proses belajar mengajar ini. Hmmm Sepertinya : saya perlu membuat Rumusan Formula nya. Apa dan Seperti apa hal yang bisa dipelajari dan bisa di manfaatkan kembali. Tapi selain itu saya juga punya kewajiban untuk memberi kontribusi aktif kepada lembaga ini dong. Yagasi yakann.

Beberapa hal terkait dengan itu adalah bahwa program mengajar di play group dan TK menggunakan kelas sentra, dimana anak-anak akan belajar setiap harinya mengikuti jadwal sentra nya. Seperti bidang-bidang pelajaran gitu deh, sederhananya. Diantaranya sentra persiapan, sentra balok, sentra memasak, sentra peran, sentra air, dan masih ada lagi yang belum saya pahami dengan pasti. Soo, send me your doa yaa semoga bisa bermanfaat. Bismillah, love.

ditulis – 20 maret 2019

Lihat-Lihat Batik Danar Hadi, Penasaran?

Ada yang pernah dengar nama Batik Danar Hadi?

Logo Batik Danar Hadi
sumber : google.

Iyaa, merek batik terkenal itu. Batik-batik cantik dengan aneka motif dan corak. Danar Hadi sendiri adalah nama sebuah brand toko batik yang berpusat di kota Solo dan juga Jakarta, kalau cabangnya sih sudah ada di banyak kota besar seperti Semarang, Jakarta, Yogya, Bali dan Balikpapan. Nah, yang istimewa kalau kamu mampir dan berkunjung ke toko nya di kota Solo ini kamu bisa sekaligus berwisata di Museumnya. Coba cek official instagram nya, tertulis bahwa mereka memajang sekitar 1000 lebih jenis batik yang umurnya sudah entah berapa puluh/ratusan tahun, hmm tapi ternyata koleksi kain batik kunonya sendiri bisa mencapai 10.000 loh. Wadaw, kebayang ngga tuh?

Nama Danar Hadi sendiri ternyata diambil dari ‘Danar’ nama istri Bapak H Santosa Doellah S.E., dan ‘Hadi’ ternyata nama dari Bapaknya Bu Danar yang mana pak Hadi ini adalah juragan batik. Sedangkan orang tua nya pak Pak Santosa adalah seorang dokter. Sedangkan kakek buyutnya Pak Santosa yang sekarang berusia 77 tahun ini adalah salah seorang abdi dalem Keraton Solo.


Yang ini Logo Batik Danar Hadi pada jaman dahulu, yang mengenakan kacamata hitam itu adalah ibu Danar. Kece banget yaa, suka.
sumber : google.

Kalau kamu datang ke museum ini secara langsung kamu pasti bakal suka deh, sayangnya di dalam museum tidak boleh berfoto-foto tuh. Simpan dulu yaa kameranya, kita fokus mendengarkan penjelasan tour guide nya yang ternyata memang menarik dan sarat pengetahuan tauk!

Khawatir akan kehilangan informasi berharga yang disampaikan hanya dalam sekejap mata, saya akhirnya merekam suara si tour guide ini. Ahhaha. Seru juga kalau mendengarkan percakapan rombongan kami saat tour.

Hmm, by the way saat menuju ke museum saya berangkat sendirian setelah sebelumnya menuntaskan perjalan bisnis (di Assalaam Hotel) hahaha promosi sedikit yaa. Kemudian saya digabungkan dengan rombongan dua orang mba cantik asal Sumatra yang kebetulan sedang main di Solo. Untuk tiket masuk museum nya saya termasuk golongan umum dan dikenakan biaya Rp 35.000 sedangkan untuk pelajar Rp 15.000.

Mengisi buku tamu, kemudian diajak masuk museum yang tampilannya bisa dibilang mewah, suasananya tenang dan menenangkan, adem karena pakai ac, bersih, lampu gantungnya dari kristal cantik dan tidak bikin silau. Batik-batiknya di tata cantik dan anggun dan tidak boleh dipegang karena usianya yang sudah puluhan tahun. Semua set kebaya yang disimpan di dalam museum ini juga asli koleksi dari jaman dahulu, ada beberapa puluh set kebaya cantik.

Batik parang Solo dan batik parang Yogya ternyata juga berbeda guys. Kalau batik parang Solo itu garis nya mengarah jatuh ke kiri, sedangkan batik parang Yogya garis pada batik mengarah jatuh ke arah kanan. Penasaran ga sih kenapa namanya batik parang? Bukan karena bentuknya seperti parang atau celurit dan golok itu yaa. Bukan, itu mah beda tau, ini bukan parang benda tajam itu.

Motif batik parang digambarkan dengan pola yang miring dan terdapat pola seperti isian atau bulatan di antara motif tersebut. Parang itu sendiri ternyata merujuk kepada tebing berbentuk miring. Contohnya nih bisa kamu lihat di pantai parang teritis dan parang kusuma 😀 ada tebing yang berbentuk miring.

Selanjutnya ada beberapa motif batik yang cukup menarik.

Batik Belanda, yang ini adalah batik yang banyak berkembang di kawasan pesisir dan lokasinya cukup jauh dari keraton dan mendapat pengaruh-pengaruh dari negara asing / penjajah secara langsung pada masa penjajahan Belanda. Motifnya di desain oleh para wanita wanita belanda, dan di kerjakan oleh wanita-wanita Indonesia. Pada batik ini lebih banyak bercorak bunga bunga, daun, pohon, hewan, tapal kuda, buah dan sejenisnya. Kamu tahu dongeng Hanstle and Greatle, Snow White ? mereka membuat versi batiknya juga loh, menarik yaaa. Ada juga yang terkenal dengan nama batik company yang motifnya bergambar tentara-tentara Belanda dan berdasarkan sudut pandang orang Belanda.

Batik Indonesia, hmm kalau yang ini sudah pernah dengar? Motif batik yang ini merupakan ide dari bapak Ir. Soekarno yang direalisasikan oleh temannya beliau yang merupakan seorang pembatik berdarah Tionghoa. Batik ini memiliki motif yang lebih beragam dan cenderung bergambar atau seperti kombinasi dari beragam motif batik, serta memiliki warna yang lebih beragam. Batik ini juga selain motif nya yang menarik dan warna beragam, juga memiliki tujuan politik untuk mempersatukan Indonesia yang beragam. Batik-batik ini pula yang banyak kita gunakan hingga sekarang.

Batik Tiga Negara, nahloh apa coba yang ini? Yang sempat terlintas dipikiran saya saat itu hanya batik ini mungkin dibuat oleh perwakilan-perwakilan negara penjajah Indonesia saat melakukan persekongkolan dan ingin membuat janji untuk damai dan semacamnya. Eeetapi ternyata bisa dinamakan demikian kerena dalam proses pembuatannya, batik ini dibuat pada tiga tempat berbeda dan harus begitu. Bukan karena alasan berbau mistis atau upacara religius kejawen semacamnya, namun karena batik ini memiliki warna yang beragam pada batiknya dan warna-warna tersebut hanya bisa didapatkan jika dilakukan pencelupan di tempat-tempat berbeda.

Wilayah yang berbeda itu antara lain Lasem, Semarang/Pekalongan dan Yogja. Kadar pH pada air di masing-masing daerah mampu menciptakan perbedaan warna yang signifikan saat batik melalui proses pencelupan. Sungguh batik dengan proses yang panjang ya, dan suka traveling. Makanya jangan heran yaa kalau prosesnya yang secara sederhana saja memang sudah panjang, ditambah lagi proses pewarnaannya yang memakan waktu dan jarak yang jauh, tidak kaget kalau harganya juga cukup tinggi.

Satu lagi nih yang cukup menarik, Batik Cina. Batik ini punya motif bunga-bunga dan gambaran yang sangat detil, seperti gambar titik-titik yang sangat kecil dan halus pada setiap permukaan kain yang tidak bergambar. Kalau jaman dulu setiap batik harus di berikan lilin pada setiap permukaan kain (bolak-balik) dan memakan waktu kurang lebih 1 tahun hingga lebih. Masyaallah banget yaa, kamu mau pesan?

Disamping batik Cina yang manis ini terpajang batik yang berkembang pada masa penjajahan Jepang (tapi pengusaha batiknya tetap orang cina guys). Menariknya batik Jepang ini punya konsep Pagi-Sore. Buat yang tidak punya banyak sangu untuk membeli banyak kain batik, yang satu ini mungkin bisa jadi solusi. Batik ini memiliki dua corak dalam satu kainnya, yang mana corak ini dibedakan oleh garis horizontal sehingga di pagi hari kita bisa menggunakan satu sisinya di luar, dan saat sore hari bisa di balik menggunakan sisi yang sebelumnya ada di dalam. Nah, terlihat seperti punya dua batik yang berbeda kan? Padahal mah beda gambar saja, kainnya tetap sama.

Seperti itu deh kira-kira gambaran singkat beberapa informasi dan pengalaman yang di dapat saat saya berkunjung ke museum ini, suka sekali. Apalagi saya yang nol besar banget deh nilai sekolah nya tentang budaya-budaya jawa seperti ini. See you next time.

Authentic Place in Solo City? Cekidot

Beberapa minggu terakhir ini sepertinya saya sering banget ke Solo, selain untuk mengunjungi simbah putri dari ibu yang tinggal di Bekonang, Solo. Terlepas dari mengunjungi rumah simbah, kota Solo memang menarik untuk di kunjungi loh. Buat para pecinta yang berbau antik-antik, sejarah dan hal etnik begitu cocok deh. Nih ada beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi kalau kamu sempat mampir ke Solo.

Ngarsopuro, tempat ini nih pasar yang menjualkan barang-barang antik. Mulai dari lampu, koin, telefon jadul, patung-patung, setrika uap, sepeda lawas, kacamata entah dari tahun berapa, topeng, anting-anting antik, susuk konde dengan detail yang menarik dan warnanya keemasan memperlihatkan kecantikannya dari jaman dahulu belum juga pudar. Duehh.. saya tuh suka banget lihat yang jadul, etnik-etnik gini, apalagi kalau lihat yang keemasan atau lampu-lampu gantung yang agak berkilau-kilau gitu saya suka banget. Kalian kenal dengan Himawari dalam kartun Sinchan? Himawari ini adiknya si Sincan yang suka banget dengan benda-benda berkilau, kalau mau digambarkan yaa saya mirip-mirip dengan si Himawari ini, suka banget sama yang berkilau-kilau. Aduduhh, bahaya yaa.

Ngarsopuro atau Pasar Triwindu Ngarsopuro, seperti yang tertera di gerbang nya ini letaknya di daerah Banjarsari, Surakarta jl. Diponegoro, dekat dengan pasar Nonongan. Eiits udah pada tau pasar Nonongan? Nanti saya ceritain juga yaa. Kalau kalian mau ke Ngarsopuro, pasar ini buka mulai dari jam 09:00 pagi sampai jam 05:00 sore walaupun biasanya jam setengah 5 sore toko-toko sudah banyak yang tutup, cyiin. Saya jarang banget ke Ngarsopuro, pertama kalinya dulu ke pasar ini sama teman sekolah saya, namanya Icak (Yusica). Kami sempat berkeliling dan foto-foto selama beberapa jam, tapi sepertinya tidak beli barang apapaun hahaha harap makhlum yaa masih anak sekolah, belum punya kebutuhan seputar barang antik ini.

Kalau sudah siang hari dan lagi berada di kota atau tempat-tempat belanja seperti PGS dan Pasar Klewer, kita bisa merapat ke Masjid Agung Kraton Surakarta / Solo yang tempatnya sangat strategis dan dekat dengan dua pusat perbelanjaan ini. Kemarin saat menemani si kakak ke Pasar Klewer untuk beli kain, siangnya kami lalu menyeberang dan mampir shalat dzuhur di masid ini. Entah kenapa rasanya adem banget di masjid ini. Masjid yang berdiri sejak 1768 ini masih eksis dan memiliki ukuran besar yang mampu menampung jamaah besar seperti keperluan shalat jumat, shalad ied, dan kegiatan kerajaan yang berkaitan dengan keagaman. Eh iyaa, keraton nya terletak tidak jauh dari masjid ini dong pastinya. Ada yang sudah pernah kesana? Kalau mau kesana bareng yuk? Hahaha.

Hmm, bangunannya mirip dengan Masjid Agung Semarang yang sekarang ini lebih terkenal dengan Masjid Kauman, karena terletak di kawasan tersebut. Masjid Agung Keraton Surakarta ini memiliki bangunan dengan tembok berwarna putih, lantai keramik berwarna putih gading, dan atap berwarna biru muda yang cantik dan menyenangkan, ada lampu gantung berwarna coklat keemasan yang menambah angun suasana masjid. Di tengah hari yang panas tapi rasanya bisa adem banget ada di dalam masjid ini, masyaAllah. Sebenarnya kalau mau dilihat masjid ini memiliki tampilan yang sangat sederhana, dan memiliki jama’ah yang banyak dengan shaf nya yang penuh.

Beberapa kesamaan antara Masjid Agung Surakarta dan Masjid Kauman adalah ketika masuk ke tempat wudhu dan kamar kecil nya, lantai dan tempat airnya selalu bersih, dan airnya seperti mengalir bergelimangan, banyak sekali. Ada tempat penitipan barang, ada peminjaman mukena secara cuma-cuma, dan satu lagi nih yang sepertinya di masjid-masjid besar pada jaman modern ini belum pernah saya temukan di tempat lain. Ada petugas masjid yang secara khusus tugasnya adalah mengatur jama’ah, diantara lain saat shalat akan berlangsung. Petugas akan dengan tegas mengingatkan jama’ah untuk maju mengisi dan merapatkan shaf, jangan sampai ada yang bolong shafnya kan nanti bisa jadi celah untuk setan masuk yaa. Sudah gitu, ketika selesai shalat berjamaah dan ada banyak jamaah masbuk.. nantinya si petugas ini tanpa ragu meminta orang yang sudah selesai shalat dan sedang tidak berdoa ataupun shalat sunnah tapi masih bersantai di atas sajadah, agar mundur dan mempersilahkan saudaranya yang masbuk.

(masbuk itu jamaah yang datangnya terlambat gengs, artinya shalat sudah dimulai dan dia baru menyusul bergabung).

Wah btw kalau sudah siang tuh bawaannya lapar ya? Perut teriak-teriak, lapar dan asam lambung rasanya bisa bikin otak ikutan pusing dan udah berasa mau pingsan aja gitu. Duehh, serem yaa efek lapar tuh. Nih yang pingin nyoba kuliner di dekat Pasar Klewer. Coba tengok penjual sate yang berada tepat di perempatan sebelah barat Pasar Klewer. Entah asap dari satenya yang bikin kelenger atau memang masakannya begitu menggugah dan jarangnya warung makan lain disekitar sini, tapi disini pengunjungnya ramai sekali. Kami saja sampai memelas, nunggu dapet kursi sampai pelukan pada tiang biar tidak semaput duluan (hehehe lapar tingkat embohh). Alhamdulillahnya, yang jualan sudah cekatan banget dan makanan kami segera datang di meja, untuk kemudian melaksanakan tugasnya di dunia ini untuk menjadi sumber energi bagi kita para manusia.

Ada tengkleng, sate kambing, lontong opor (tapi bukan opor ayam, sad), gulai yang ehmmm sepertinya maknyoss, tongseng juga ada, dan beberapa menu yang terdengar menggugah selera dan sekaligus penuh lemak yaa sepertinya. Kok saya promosi banget kenapa sih, yaudala dipromosikan dan tidak memang sudah dasarnya ramai nih warung makannya. Cobain aja gengs, sensasi nunggunya tuh seru, apalagi saat makanan sudah sampai di meja kita. Gottcaaa! Langsung slantappp.

Akkhh Solo, sudah rindu gini. See you next time.

something about Malioboro.



Masih di seputar Yogya, melancong sebentar di tempat paling banter di bicarakan orang sebagai ikon kota Yogya. Malioboro, yap. Wajah Malioboro ternyata sudah banyak berubah sejak terakhir kali saya mengunjungi nya. Entahlah kapan terakhir kalinya. Tapi seingat saya dulu saat masih di bangku sekolah,keluarga saya selalu mudik ke Yogya. Walaupun jauh di desa daerah Kulon Progo tapi demi menyenangkan si anak, akhirnya orangtua mau saja menyempatkan mampir di Malioboro. Barang lewat saja tanpa berhenti atau pun turun dari kendaraan saya sudah bahagia.

Malioboro dan keramaian pedagang di sepanjang kanan jalan berhamburan rapi di teras-teras ruko. Pemandangan khas pasar yang sederhana di kota yang istimewa.

Ngobrol-ngobrol tentang Malioboro, saya tadi iseng banget cari sejarah tentang pasar Malioboro di Google. Ternyata Malioboro punya cerita sejarah yang cukup menarik, hmm yakah? Malioboro sendiri ternyata dalam bahasa sansekerta artinya bunga atau karangan bunga, dan dibangun bersamaan dengan pendirian Kraton Yogya. Apakah ada arti dari semua itu? Saya pun kurang tahu. But another interesting things about Malioboro adalah sering kali dikaitkan dengan tiga tempat sakral di Yogya, antara lain Gunung Merapi, Kraton Yogya, dan Pantai Selatan.

Gerbang Pecinan

Ohiyaa, yang ini juga penting. Ternyata dulu Malioboro merupakan lokasi terjadinya serangan umum 1 Maret 1949 melawan Belanda. Ini saya yang buta sejarah apa ya? By the way dalam perang itu Indonesia mampu menduduki Yogya selama 6 ham, dan hal itu menjadi bukti kepada dunia bahwa Indonesia ada dan mampu. MasyaAllah perjuangan para pendahulu kita.

Masih tentang Malioboro pada masa yang dahulu (dan sekarang) terletak diantara Kraton Ngayogyakarta dan Tugu Pal putih. Yogya sendiri memiliki konsep kota yang jalanannya dikonsep dengan mengikuti arah mata angin. Konsep itu diwujudkan dalam bentuk bangunan, di utara dan selatan. Selain itu bisa dilihat dari jalanan nya yang juga dirancang mengarah ke penjuru mata angin, dan berpotongan tegak lurus. Menarik bangettt sih menurut saya, tapi entah kenapa rasanya masih kurang faham hanya dari membaca artikel-artikel di google. Anyone can help?

Sudah, mari kita melompat pada masa sekarang seperti semua hal yang masih dapat saya dan kalian para pemirsa saksikan. Di sepanjang jalan Malioboro yang bergerak kendaraan satu arah ini, di bagian utara terdapat stasiun tugu. Sepanjang jalan menuju selatan berjejer kawasan pertokoan dan penjual kaki lima, bapak tukang becak dan juga delman hehe. Kantor Gubernur DIY, gedung DPRD, pasar induk Beringharjo, Istana Presiden Gedung Agung, dan di bagian ujung selatan juga terdapat Benteng Vredeburg yang bersebelahan dengan lahan parkir luas.

Hmm buat yang main ke Malioboro dan kebingungan mencari tempat shalat, taukah kalian guys kalau ada masjid cantik berwarna biru-putih, bersih, dan bikin shalat jadi semakin khusyuk. Selain cantik, bersih, berhubung kita berada di kawasan wisata yang ramai sehingga saat akan whudu dan shalat kita perlu melepas sandal dan itu menciptakan kemungkinan sandal terinjak-injak jema’ah lain (dan kemungkinan hilang juga ada). Eh ternyata dong disediakan tas biru berbahan kain-kain tipis macam tas belanja gitu, untuk menyimpan sandal ataupun sepatu kita di situ dan bisa dibawa masuk untuk disimpan di loker atau dimana tempat kamu para jema’ah mau mengamankannya. Duhh, pengertian banget kan. Ini ternyata definisi pengertian, love. Gengges, kalian kalau wisata ke Malioboro bisa nih shalat disini saja.

sumber, terimakasih :

https://news.okezone.com/read/2016/07/22/510/1444590/inilah-sejarah-dan-makna-jalan-malioboro-di-yogyakarta

http://djogdjamedia.blogspot.com/2015/11/sejarah-singkat-jalan-malioboro.html

Malioboro Yogyakarta



Ngeluyur Sebentar di Pasar Beringharjo



Mungkin ini mainstream banget sih, because karena kita main ke Yogyakarta, kota istimewa penuh cerita. Seperti yang sudah-sudah saya tuh tidak pernah sungguh-sungguh pergi dengan alasan untuk berlibur. Nah kali ini nih saya lagi daftar kerja, dan lokasi tes nya bertempat di kota indah Yogyakarta. Senang deh, selain melancarkan misi mendapatkan pekerjaan juga sekaligus bisa curi waktu berwisata.

2018_1106_01051700

Amalia, Ainun, Alifati di persimpangan jalan mencoba memanfaatkan cermin cembung secara subjektif.

Halahh, sudah.. kita tuh bukan jalan-jalan ke tempat wisata gitu. Hanya mampir ke daerah Malioboro untuk lebih tepatnya menuju pasar Beringharjo, dan mampir ke caffe lucu bernama Lantai Bumi untuk sekedar bertemu teman ngobrol yang terpisahkan.

Nah saya bersama kakak tercantik (mb Alif), dan teman baru bernama Amalia yang sering saya panggil amal. Bertiga lah kita setelah di pagi hari yang cerah melancarkan aksi daftar ulang di Balai Karantina Ikan, Yogyakarta. Sengaja banget kita berangkat paling pagi agar-supaya bisa segera menuju Malioboro dan melacarkan aksi liburan. Hahaha. Tenang, tidak perlu merasa iri lihat saya liburan terus, karena kita menuju Pasar Beringharjo untuk menemani mba Alif belanja kebutuhan jualan dia. Di Pasar Beringharjo kita membeli beberapa tempat untuk display jualan mba Alif, semacam wadah hasil kerajinan tangan yang terbuat dari bahan rotan dan sejenisnya.

Untuk pertama kalinya berkunjung ke pasar ini dan rasanya menyenangkan. Kita parkir di belakang pasar setelah mengitari Malioboro, dan you know guys? Parkirnya Rp 10.000 , entah itu ada apa, apakah ini wajar atau tidak menurut kalian, padahal hanya parkir beberapa jam. Tapi menurut saya pribadi tidak wajar dong. Okee kembali lagi ke pasar nya, Pasar Beringharjo ternyata cukup besar, ramai penjual pembeli, dan luas. Ada beberapa lantai (sepertinya tiga), di pasar bagian depan diisi oleh para penjual baju, celana, topi, dan pakaian-pakaian lain seperti batik dan daster. Berjalan lebih jauh ke dalam ada yang berjualan topi, sandal, buah-buah, tas.

Ada yang suka dengan barang-barang kerajinan tangan seperti tas rotan, topi, hiasan kamar dan lain-lain? Ada banget nih, letaknya di lantai paling belakang atas dari pasar ini, dekat dengan tempat parkir mobil. Iyaa, ternyata ada tempat parkir di bagian atap pasar ini. Dan dengan harga normal. Sudahlah.

Mulai dari vas bunga, tas, topi, hiasan dinding, hiasan kamar, lampu gantung, gantungan kunci, taplak, mainan anak-anak, semuanya sungguh menggoda dan memanjakan mataku yang sangat senang dimanjakan dengan semua bentuk kerajinan tangan. Seperti ada cinta disetiap karyanya. Agelasihh, sok asik banget ga hahaha. By the way nih gengs kita menemukan toko tas rotan dan tas-tas lucu lainnya. Terutama tas handmade yang berbahan dasar “eceng gondok”, tau tanaman eceng gondok kan? Saya suka banget nih sama tas ini. Sempat kita berpikiran ingin buka jasa “Jastip” alias jasa titip, eh tapi tidak jadi. Sampai sekarang sudah di Semarang malah jadi kepikiran ingin berjualan tas rotan atau tas dari eceng gondok itu. Polos atau pun bergambar, duhh cocok banget dengan saya. Apalagi kalau dijual di tempat-tempat wisata sebagai salah satu cenderamata daerah wisata. Suka banget. Probably next time i going to be make it real, wish me luck. Love.

Mengingat hari yang sudah siang kami lapar, jadi kami melanjutkan perjalanan mencari makan di daerah Jakal alias Jalan Kaliurang. Jalanan ini ramai, padat dan Jogja banget. Tau kenapa? Baliho-baliho dari setiap toko tuh ngotot banget memenuhi ruang langit Kota Jogja di sepanjang jalanan. Terbayangkan tidak? Jadi coba bayangkan di sepanjang jalan raya ada pepohonan rindang yang menaungi badan jalan, nah sekarang gantikan pohon-pohon itu dengan deretan baliho yang ukurannya jumbo.

IMG_20181107_163733.jpg
can you see it? so many baliho life in this beautifull town

Sekalian sebelum kembali ke rumah, beristirahat dan belajar untuk persiapan tes besok hari. Kami mampir ke sebuah coffeshop (masih di kawasan Jakal) bernama Lantai Bumi. Cakep deh ini coffeshop nya, suka. Ohiyaa, disini saya ketemu teman namanya Paul. Jadi sebenarnya bukan teman lama sih, baru kenal beberapa bulan yang lalu, dan ternyata kita asik ngobrol dan akrab, so happy. By the way kita ketemunya pas di Morotai, yap my favorite dive spot.

Panjang yaa ceritanya, sama seperti hari yang saya lalui kemarin haha. Okeedehh, terimakasih sudah mampir dan membaca. Selamat berbahagia. Send my love.



Discover Bodjong Route with Bersukaria Walk.

Lets discover Semarang deeper than local ever did

Satu-satunya tulisan Bodjong yang masih ada di sepanjang jl. Pemuda.

Slogan milik Bersukaria Walk yang saya baca di media sosial mereka. Pertama kali diajak ikut sama teman yang namanya Anita, eh tapi kemarin saya pertama kalinya ikut malah bareng Ecik. Menelusuri jalur yang dahulu namanya adalah jalan Bodjong. Berdasarkan apa yang disampaikan mbak Icha (story teller nya) nama ini berasal dari bahasa Belanda yang Bod artinya kapal, dan jong artinya pemuda. Jadi kalau digabungkan berarti pemuda kapal atau di maknai sebagai jalan tempat berkumpulnya para pelayar,sesuai dengan ceritanya jaman dulu dimana banyak para pelayar yang (bahasa keren nya) nongkrong di sepanjang jalanan Bodjong ini.  Mengingat Semarang memang kawasan pesisir yang memiliki pelabuhan besar, yang menampung berbagai bentuk kegiatan seperti pengangkutan barang. Ohyaa, dan sampai sekarang pun jalan Bodjong di beri nama jl. Pemuda.

Pada rute Bodjong ini kami mulai dengan titik temu di depan Pasar Raya Sri Ratu di jl. Pemuda menelusuri rute Bodjong menuju Tugu Muda. Kami berjalan beramai-ramai seperti anak ayam yang mengikuti induknya. Sepanjang jalanan yang di lalui, kami diberi penjelasan mengenai beberapa tempat lengkap dengan nilai-nilai sejarahnya. Kami juga diajak menyeberang jalan-jalan, mencoba memanfaatkan fasilitas publik yang sudah disediakan (*mungkin?) Hahaha tidak juga sih sebenarnya, antara lain itu adalah rute terbaik untuk menjelaskan, membawa peserta berjalan-jalan dengan santai, dan menurut saya membuat suasana lebih menarik.

Mulai dari toko buku paling tua di sepanjang jalan Bodjong atau malah di Semarang, toko antik yang menjualkan uang-uang lawas dan dari berbagai jenis mata uang, kantor Bank Mandiri yang dulunya adalah kantor pemerintahan paling bergengsi, rumah yang diperkirakan milik seorang konglomerat di Semarang dan satu-satunya rumah di jl. Pemuda, Mall Paragon yang dulunya adalah salah satu tempat dengan hall yang luas dan sering digunakan untuk pertemuan, perjamuan dan sebagainya. Bahkan sekolah-sekolah seperti SMA 5 dan SMA 3 juga punya nilai-nilai sejarahnya, asik yaa bisa kenal lebih dalam. Walaupun sebenarnya yang benar-benar nyangkut di otak saya cuman berapa persen sih haha. Maklum kann, yang disampaikan sepanjang perjalanan tuh banyak banget loh, mungkin kamu harus cobain sendiri.

Sebelum menyeberang ke Tugu Muda kita juga sempat di jelaskan tentang sejarah Lawang Sewu loh. Sudah pada tahu Lawang Sewu kan? Ikon wisata kota Semarang ini diketahui adalah perkantoran Belanda jaman dahulu, sempat juga jadi kantor atau stasiun kereta api ya, saya agak rancu disitu. Eh tau ga, katanya total pintu disini sebenarnya hanya 920 pintu. Namun begitu, mungkin susah gampang saat menjelaskan nya sehingga di genapkan menjadi seribu hehehe. Saya sih tidak keberatan, bagaimana dengan kalian? Dan juga, lawang sewu adalah tempat wisata ter-ramai kedua di jawa tengah setelah candi Borobudur loh.

Lanjut menuju Tugu Muda, kami menyeberangi jalan ramai yang penuh dengan kendaraan dan rambu-rambu lalu lintas yang kalau dihitung nih, cukup lama loh nunggu lampu merahnya supaya bisa menyeberang. Seumur-umur hidup di Semarang belum pernah mampir ke Tugu Muda, dan ini pertama kalinya, ternyata berada di dekat bundaran Tugu Muda yang punya air mancur tuh, langsung disambut sensasi gerimis-gerimis gitu. Seger khann, lumayan adem-adem. Demi melanjutkan tour dan mengantarkan matahari sore pamit dari Semarang, kami asyik mendengarkan cerita terakhir hari itu.

Tugu Muda, siapa yang belum tahu cerita yang tersimpan di dalam tubuh tugu ini? Memiliki lima sisi dengan relief-relief yang memperlihatkan gambar yang berbeda, maksud daripada tugu ini adalah antara lain untuk memperingati pertempuran lima hari di Semarang. Saat dengar penjelasan itu saya khusyuk dan ikut-ikutan merenungi perjuangan para pahlawan kita, mendadak nasionalis kan saya. Oh iyaa, dengan ikut Bersukaria Walk kamu bisa dapatkan penjelasan yang lebih bermanfaat loh, bisa sekaligus tanya-tanya juga. Selamat bersukaria katanya, love.

Sekedar informasi tambahan, kalau kamu ingin ikut bersukaria walk yang seperti saya ikuti ini, gampang banget. Kamu tinggal cek di akun instagram mereka @bersukariawalk klik link yang ada di bio mereka dan daftarkan diri kamu lewat situ. Pay as you want, lohh. Selain rute yang sudah disediakan, kamu juga bisa memesan rute dan tour privat loh, just and go contact them. See you.

Membaui Aroma Karsa



Lanjut membaca, oke, jadi saya sedang membaca buku yang judulnya adalah “Aroma Karsa” karya Dee Lestari. Inget banget deh dulu sepertinya saya suka baca-baca novel begini jaman SMA. Sekian lama tidak membaca novel ternyata selera saya juga sudah mulai bergeser. Awalnya excited dan merasa tertarik banget saat membacanya. Mulai dari gaya penulisan, lalu banyaknya informasi-informasi baru yang bisa di dapat dari membaca buku ini, kekayaan bahasa yang dimiliki si penulis mampu menyenangkan hati pembacanya.

Hanya saja yaa, namanya juga novel pasti ada bumbu nya. Nah ternyata selera saya sudah tidak begitu senang mengecap rasa dari bumbu ini. Yang saya maksud di sini adalah bagian dari cerita bahwa.. bahwa ada tokoh wanita sebagai tokoh utamanya, Tanaya Suma. Tokoh wanita ini sudah punya kekasih, kemudian baru bertemu dengan tokoh utama laki-laki, Jati Wesi.

Huftt, mulai lah ada percikan-percikan api asmara diantara Suma dan Jati. Kenapa sih harus begitu, kenapa tidak membiarkan sepasang kekasih yang sudah bersama agar adem tenteram. Bahkan biarpun ini sebuah novel, apakah tidak bisa mempertimbangkan unsur keharmonisan sebuah jalinan kasih mereka?

Eiitss tapi secara keseluruhan ceritasaya suka buku ini. Ide ceritanya menarik, memadukan berbagai unsur petualangan, sejarah, cerita rakyat, keluarga dan cinta. Misteri tentang sebuah wangi tunggal dari sebuah bunga yang dikatakan memiliki kekuatan dahsyat dan mampu mengubah dunia, serta tercatat dalam sejarah Kerajaan Majapahit dengan sukses menjadi daya tarik yang memikat. Puspa Karsa, begitu nama bunga itu disebutkan berulang-ulang dalam buku ini. Merupakan perwujudan semacam dewa-dewi yang menampakkan dirinya dalam bentuk bunga.

Kepentingan seorang wanita bernama Raras Prayagung membulatkan tekat memberangkatkan sebuah tim ekspedisi dengan jumlah orang yang sedikit. Berangkat menuju suatu lokasi yang tertuliskan dalam sebuah lontar dan prasasti sejarah, menuju satu lokasi yang sering kita dengar, Gunung Lawu. Gunung yang walaupun sudah ramai dikunjungi oleh para pendaki, namun dikenal masih memiliki seribu misteri di dalamnya.

Berangkat dari rasa penasaran terkait misteri yang berada di Gunung Lawu dan didukung kemampuan si penulis dalam penuturannya yang runtut dan begitu jelas. Mengantarkan sekaligus mengikat saya untuk terus meneruskan membaca hingga pada halaman terakhir cerita ini dituliskan. Misteri yang tertuang dan secara perlahan mulai terlihat membuat hati pembaca merasakan sensasi gemas. Hahaha. Apakah hanya saya atau pembaca yang lain juga merasakan hal yang sama?

Sesuai dengan judulnya, cerita dalam buku ini sendiri mengangkat ide cerita mengenai aroma, kemampuan membaui. Seperti demikianlah yang disampaikan sang penulis di bagian belakang buku ini. Anyway dari pada penasaran seperti apa sih ceritanya, langsung cari buku nya dan bacalah. Selamat membaca, love.

Thankyou Aroma Karsa.



Menunggangi Ombak bersama Ocean Melody



Hari ini tgl 14 desember 2018 aku baru saja menyelesaikan (membaca) bukunya kak Gemala, Ocean Melody judulnya. Bercerita tentang pengalaman-pengalaman, cara dia melakukan surfing dan menunggangi ombak-ombak. Beberapa hal sederhana yang mungkin cerita seperti ini mudah membuat bosan. Sempat berfikir ending seperti apa yang akan disuguhkan buku ini, akan kah menjemukan dan datar. Nyatanya, aku menyukai bagian akhirnya, bagaimana ia menutup cerita yang dia suguhkan. Sederhana namun menginspirasi.

Cover book, gemes yaa.

Loh kok tau-tau jadi cerita endingnya doang ya? Hehehe.. jadi nih ceritanya menarik buat aku yang memang cinta air laut. Tuh kan, jadi kangen banget main slulup-slulup di air laut, panas matahari yang terik menjadi tak apalah, nikmati saja! Perpaduan pasir pantai yang putih, air laut yang masyaAllah alangkah jernihnya, panas matahari yang walaupun menyengat tapi sukses bikin happy, belum lagi pemandangan bawah lautnya yang aduhai. Aku bersyukur banget, pakai banget.

Hemm, tapi di buku ini yang dibahas adalah surfing, bukan diving seperti yang ku lakukan, hehe. Menarik banget sih, bagaimana kak Gemala menyampaikan mulai dari proses belajar, konsisten latihan, mulai memasuki dunia pekerjaan dan surfing menjadi bagian dari hembusan nafas dan hidupnya. Belum lagi, cara dia menggambarkan berbagai macam jenis ombak yang dia temui dan tunggangi. Sebenarnya saya yang penyelam dan menyukai air tenang, jelas saja takut mendengar betapa bergejolak nya tempat dia bermain. Tapi anehnya mampu membuat saya penasaran, walaupun sepertinya masih lebih besar rasa takut nya, hanya saja jika memang datang kesempatan itu di depan mata, yaa akan tetap dicoba juga. Apa yang salah dari mencoba, yakan?

Doi juga cerita-cerita tentang tempat-tempat surfing paling jempolan di Indonesia. Diantaranya, Cimaja di Jawa Barat, lalu Nembrala, Pulau Rote, Nias, Bali, Lombok, dan pantai Srau di daerah Pacitan. Wah sempat juga katanya ikut kompetisi di dalam kondisi ombak yang pecah gila-gilaan.

Mengikuti cerita dan baca jengkal demi jengkal, seperti apa perasaan yang dirasakan ketika kak Gemala. Yang seorang profesional surfer saja sebenarnya selalu mengalami ketakutan. Disetiap ombak dan tempat-tempat baru yang dia kunjungi, pada setiap kompetisi yang dia ikuti, pada tekanan-tekanan pekerjaan yang mengharuskannya mengambil ombak dengan proporsi yang tepat. Ternyata masih dan selalu diikuti perasaan takut. Perasaan yang menyelinap perlahan tetapi pasti. Aku mendadak jadi teringat kalau selalu nervous juga ketika menunggu waktu diving. Entah kenapa ada seperti perasaan takut, mual, ter-intimidasi. Apaan ya, kenapa ada perasaan ter-intimidasi segala coba? Hahaha.

Hal paling menarik dari membaca buku seperti ini tuh, kita jadi menemukan atau bisa dibilang mendapati diri kita mulai merasa berapi-api. Perasaan berapi-api, walau kecil namun muncul terus. karena terpacu untuk mampu melakukan dan memiliki semangat juang serupa seperti apa yang dikisahkan di dalam buku tersebut. Yasudah begitu dulu deh ceritanya, monggo dibaca sendiri. Menarik dan menginspirasi. Love.



Cerita dari Negeri Atap Dunia – Alaya



Okay then, i want to write about “Alaya” a book that told me a story about traveling to the roof of the world, Tibet.

IMG_20181115_142945
cover buku

Jadi hari itu saya lagi senggang dan otaknya lagi abstrak banget tidak tahu mau ngapain. Kluyuran naik motor siang hari, pamit mau ke kostan teman di Tembalang yang hanya berjarak beberapa menit dari rumah di Banyumanik. Eh tapi si teman saya malah entah kemana susah pula di hubungi, padahal panas sekali hari itu. Saya juga hanya pakai celana rumah-an dan kaos biasa tidak pakai jaket. Akhirnya memutuskan untuk mengarahkan stank motor menuju Gramedia di tengah kota Semarang. Yang perjalanannya membutuhkan waktu hingga 20 menit ditemani keramaian kendaraan lainnya.

Berputar-putar lah saya di toko buku mencari yang mana ingin saya bawa pulang sebagai teman sebelum tidur. Alaya – cerita dari negeri atap dunia karangan Daniel Mahendra menjadi satu dari dua buku yang saya timang menuju kasir dan akhirnya saya bawa pulang. Buku ini menceritakan tentang perjalanan seseorang menuju dataran tinggi di China bernama Tibet. Banyak buku dengan cerita-cerita menarik berderet di barisan yang sama dengan Alaya ini.

Tanpa sadar saya teringat bahwa saya pernah membuat daftar keinginan, dan di dalam catatan hal-hal yang ingin saya lakukan itu ternyata ada nama daerah bernama Tibet yang ingin saya kunjungi. Tidak perlu banyak pertimbangan saya langsung mengambil, membaca keterangan yang tertera di cover belakangnya sebentar dan kemudian melanjutkan mencari calon bacaan lain sambil tetap menimang si Alaya.

Judul : Alaya – cerita dari negeri atap dunia

Pengarang : Daniel Mahendra

Penerbit Epigraf, tebal 413 halaman, harga di pulau jawa Rp 99.000

Butuh waktu delapan belas hari untuk saya membaca habis 413 halaman buku ini. Menarik. Awalnya saya pikir hanya akan seperti cerita perjalanan biasa. Perjalanan yang mudah dan selalu menggembirakan, di bumbuhi dengan beberapa kejadian biasa yang diangkat sedikit lebih atraktif agar terasa menarik. Ternyata isinya lebih kepada catatan perjalanan dan beberapa renungan hidup sang penulis yang bergejolak dalam dirinya secara pribadi. Selain cerita perjalanan juga ada sedikit-sedikit catatan kecil untuk anaknya yang bernama Sekala. Manis dan berkarakter juga ternyata buku ini.

Selain cerita yang sarat makna juga buku ini dipenuhi berbagai informasi. Yaap, informasi bagaimana cara-cara yang memungkinkan kita untuk menuju Tibet, kota di tempat tinggi yang dalam bayangan saya terdapat desa dengan suasana hangat menyenangkan di tengah-tengah pegunungan salju yang dingin. Itu yang saya bayangkan. Sepertinya dulu saya lihat secuil gambaran itu dari sebuah majalah travel and adventure. Lain halnya dengan si penulis buku yang saya baca. Pemicu keinginannnya menuju Tibet adalah buku cerita petualangan Tintin di Tibet. Ada yang pernah baca atau tahu cerita itu? Saya pribadi sepertinya tidak pernah tahu, mungkin suatu saat nanti akan tahu juga hahaha.

Mulai dari pilihan jalur yang bisa digunakan untuk menuju Tibet, agen travel, pembuatan visa, informasi harga, maskapai, tempat penginapan, serta berbagai hal lain yang bisa membantu para pembaca untuk memahami kondisi penulis dan seperti apa kondisi perjalanannya. Tidak melulu tempat wisata yang di kunjungi seindah apa yang dibayangkan, malah jauh dari keadaan ideal yang disimpan lekat-lekat dalam otaknya selama ini. Adalah ekspektasi tinggi yang seringkali membuat kenyataan jadi terasa hambar atau bahkan membuatmu tersenyum kecut karena kurang sesuai dengan apa yang kamu harapkan. Hal seperti itulah yang sempat di lalui oleh si om Daniel Mahendra.

Selain menceritakan perjalanannya sedetail yang mampu dan perlu untuk di sampaikan, om Daniel juga menulis catatan pribadi untuk anaknya. Kadang terdiri dari berbagai cerita khilas balik masa dahulu yang bersamaan dan selaras dengan perjalanannya di negeri atap dunia.

Beberapa kali saya berpikir kalau buku ini mungkin seperti catatan seseorang yang sedang mencari jati dirinya, semacam mencari arti kebahagian. Kadang juga saya berpikir buku ini cocok sekali untuk catatan bagi para ayah, hahaha. Mungkin karena secara manis ada catatan milik om Daniel teruntuk anaknya yang bernama Sekala. Ada beberapa bagian yang masih belum bisa saya pahami dengan baik dalam pemaknaan nya dalam kehidupan pribadi, mungkin juga karena itu buku ini terasa masih menyisakan beberapa halaman yang menarik untuk saya.

Terlepas dari semua itu traveling sepertinya kurang lebih bertujuan untuk melihat keindahan dunia, melihat bentuk kehidupan yang lain di luar ruang hidup kita pribadi, belajar mengontrol dan menjadi pembuat keputusan untuk diri sendiri. Beberapa hal yang hanya bisa dilatih saat kamu melakukan traveling. Mengenal dan belajar dari karakter orang-orang baru yang kita temui dalam perjalanan. Hahaha semacam pembelaan untuk hobi traveling. Dan tentunya traveling seorang diri dapat memberi kita lebih banyak waktu untuk berpikir dan mengenal diri lebih dalam. So, lets go traveling around the world.

… percakapan di bawah ini, antara Daniel dan Barista, lelaki penjaga warung kopi di terminal bus Pokhara, Nepal.

apa yang kamu cari, Daniel?”

Tiba-tiba aku tercekat dengan pertanyaannya. Belum pernah ada orang yang bertanya seperti itu selama perjalananku. Apa yang aku cari? Gila! Aku tidak bisa menjawab pertanyaan sesederhana itu.

Apa yang aku cari? Aku menyeruput teh hangatku yang masih mengepul. Ia tersenyum seakan menangkap kegugupanku.

masa muda, Daniel. Masa muda. Memang seharusnya begitu. Pergilah ke mana pun kakimu melangkah. Itu akan menempamu. Memperkaya pengalaman batinmu.” ia menyedot lagi rokoknya. “tetapi pada saatnya tiba,” ia melanjutkan, “jadilah lali-laki yang merasa cukup dengan keluarga di rumah.”

ya, apa yang kamu cari, Daniel?

Menjadi lelaki memang harus pergi. Tapi dia juga harus pulang, karena ada yang mengasihi dan dikasihi di rumah!

(kutipan dari buku Alaya, dari penulis Gol A Gong).

Happy reading to you all, love.



Belajar Bisnis sama Donald Trump

Belajar Bisnis dari DONALD TRUMP

DSCF4463.JPG
lucu yaa covernya

Salah satu buku dengan porsi yang enak dan menyenangkan untuk dibaca. Awalnya bukan saya yang beli buku ini, tapi Ayah saya. Jangankan membicarakan tentang bisnis, tentang Donald Trump saja sebenarnya jarang banget dan hampir tidak tertarik. Tapi belakangan ini saya lagi haus dengan bacaan baru dan juga sedikit tertarik dengan bisnis. Jadi, maka dari itu hhaha, ketika ayah saya menyodorkan buku ini yaudala saya coba baca.

Awalnya agak kebingungan sih, apa yang akan saya temukan di dalam buku ini. Tidak ada ide, hampir tidak bisa menebaknya. Tapi sedikit penasaran dengan apa kira-kira yang dipikirkan si bapak Donald Trump, yang tertuang di dalam buku ini tentunya. Sudah tau Donald Trump kan? Presiden negara adidaya Amerika Serikat yang cukup terkenal… hmmm entahlah, coba cari di internet dan definisi kan sendiri sesuai pemahaman kamu hihi.

Jeng jengg… singkat cerita. By the way, covernya lucu gitu lihat wajahnya bapak Don. Saya kira tuh isinya bakal mengupas habis cara menjalani dan membangun sebuah bisnis gitu. Tapi tidak, disini isinya lebih seperti bagaimana pedoman-pedoman hidup si bapak Don. Latar belakang si bapak Don sempat dijelaskan di bagian awal buku, keluarganya, pencapaian-pencapaian apa saja yang sudah di miliki oleh si bapak, sampai disebutkan kalau apak Don tuh orang yang kaya raya. Saya kalau tidak baca buku ini, saya sepertinya tidak akan tahu kalau Donald Trump itu yang punya acara Miss Universe. Dan berbagai penjelasan tentang aneka pencapaiannya yang bisa dibilang luar biasa gemilang. Berdasarkan buku ini sih, itu karena kemampuan si bapak Don yang jago negoisasi, dan lagi dia sudah terbiasa dengan dunia bisnis sejak kecil.

Teruss.. terus nih gengs isi bukunya tuh lebih kepada bagaimana pedoman-pedoman hidup si bapak Don. Hal-hal yang menjadi prinsip hidup seorang Donald Trump, yang dipegang teguh sampai dapat mencapai semua keberhasilannya. Nah diantara lain contohnya seperti selalu berfikir positif, belajar mencintai pekerjaan kita, berani mengambil resiko, berani bermimpi besar dan selalu bersiap untuk menghadapi perubahan.

Dan beberapa bagian yang menurut saya menarik dan patut dicontoh akan saya bagikan di sini. “Jika Akan Bermimpi, Bermimpilah yang Besar”. Begitu katanya, menurut kamu bagaimana? Saya tau jelas pasti ada sebagian dari kita yang bersikap sebaliknya, yaitu janganlah bermimpi terlalu besar atau terlalu tinggi. Menurut saya itu karena kita kurang percaya pada diri kita sendiri, dan kurang memiliki motivasi untuk berubah ke arah lebih baik, atau juga mungkin kurang memiliki daya juang? Eh tunggu sebentar… Mungkin maksud saya bukannya tidak memiliki keinginan untuk berubah ke arah yang lebih baik. Memangnya saya siap, kok sotoy dengan keinginan dan pencapaian hidup orang (?).

Oke baiklah, intinya bermimpi yang besar tidak akan menyakiti dirimu. Justru hal itu mampu memberi kekuatan untuk menggali potensi terbaik dari diri kita. Mau mengutip dari buku nih, kata Paul Hovey “dunia orang buta dibatasi oleh sentuhannya; dunia orang dungu dibatasi oleh pengetahuannya; dan dunia orang hebat dibatasi oleh visinya.”
Nah loh, dapat kamu mengerti kan maknanya?

Masih banyak sih bagian yang saya suka dan bisa jadi pengingat untuk diri sendiri agar terus mengekstrak kemampuan dalam diri saya. Ada satu hal yang tidak pernah terfikirkan bahwa seorang Donald Trump adalah orang yang mampu berfikir semacam ini.

“Saat segala hal bermasalah, lihatlah dulu diri sendiri. Jangan langsung menyalakan orang lain atau keadaan.” (Donald Trump) begitu katanya. Rasanya seperti di tampar di wajah dengan kerass, iyaa ya.. kita cenderung mencari-cari kesalahan saat terjadi suatu masalah. Kadang malah lupa untuk mengoreksi diri sendiri. Entah itu apa namanya, atau karena kita pribadi tidak mau mengakui kesalahan yang kita lakukan yaa. “Jika anda mau menerima kejayaan, bersedialah menerima kesalahan.” begitu kata Bapak Don.

Betapa saya harus berulang kali menilik kepada diri saya pribadi bagaimana selama ini sikap saya dalam menyikapi berbagai masalah. Apakah saya mau mengoreksi diri sendiri, atau malah sibuk mencari kambing hitam? Masih saya pikirkan dan coba hayati. Tapi mungkin itu dulu yang saya coba sampaikan dengan santai seperti di pantai, nanti akan ada next episode yaa. Byee and thankyou. Selamat berbahagia 🙂