Belajar Sabar

Kalau biasanya hanya bisa asal menyeletukkan teori “harus sabar” “tenang” “coba cari alternatif pembelajaran” “harus sabar menjelaskan ke anak-anak”. Sekarang seperti bentuk ujian nyata, dimana harus benar-benar sabar dan ingat untuk menjelaskan secara runtut kepada si bocil-bocil. Atau lebih tepatnya persiapan ujian sih buat saya hahaha. Hmmm, persiapan ujian yang luar biasa diawal waktu yaa.

Mulai dari banyak anak-anak yang masih galak, egois, dan kadang suka main tangan plus kaki. Ada yang suka teriak-teriak, masih tidak mau diajak mengaji. Atau bahkan yang mulai tumbuh dan semakin bertenaga, semakin doyan lari-larian. Sudah mulai harus tegas.

Kadang ingin hati marah-marah saja, tapi kan mereka masih anak-anak. Mereka bertingkah (yang menurut kita menyebalkan) seperti itu karena belum tau. Makanya harus dijelaskan secara runtut, perlahan, dan mungkin juga butuh berkali-kali.

Kadang ingin hati mengajak mereka belajar dari pada lihat mereka teriak-teriak lalu tidak lama malah menangis. Tapi cukup bingung juga apa yaa enaknya yang bisa dipelajari dan dijelaskan kepada mereka. Hemmm. Maka kadang sok-sok an membaca buku cerita bisa jadi jalan keluarnya. Eheee. Belajar mendongen terdengar seru yaa. Gimana menurut kamu? Dongeng apakah yang cukup menarik untuk dipentaskan?

Tidak Pernah se-Sehat Dulu Lagi.

(untuk beberapa waktu ini)

Beberapa hal mulai saya sadari saat memasuki dunia dewasa dan bekerja. Hidup dalam rutinitas yang lebih padat dan lebih monoton. Yaaa, walaupun tetap ada tantangan disetiap harinya. Ternyata ini yang namanya hidup itu belum hidup kalau tidak ada tantangan di dalamnya.

Dengan jadwal sekolah dimulai dengan hari senin hingga jumat setiap minggunya. Waktu untuk istirahat dan melakukan berbagai target kegiatan lain ternyata cukup susah untuk dilakukan. Seperti keperluan mencari barang dagangan, keinginan berkunjung ke tempat teman, target rutin berolahraga setiap minggunya, juga keinginan mengerjakan target lainnya di luar kegiatan sekolah. Ternyata ada-ada saja. Sama halnya juga ketika badan sedang merasa drop, membutuhkan istirahat yang panjang dan cukup lama. Tapi apa daya, belum juga pulih benar kita sudah harus berangkat ke tempat kerja.

Ternyata seperti itu kehidupan sebagai dewasa, menjadi sehat setiap saat adalah tuntutan. Ada kewajiban yang harus dituntaskan. Menggigil dan bergetar, pening dan rasa kepala seperti tenggelam harus kau kesampingkan. Apa kabar dengan yang dirasakan orangtuaku yaa? Cukup berbeda dengan saat dulu masih menjadi siswa di sekolah, dan juga ketika menyandang status mahasiswi.

“Aku sakit makk!” keluh saya ketika masih kecil dulu (atau seperti itulah kalau diumpamakan).

Kalau masih sekolah dan tidak enak badan sedikit, pasti bawaanya langsung ijin. Tidak masuk sekolah, seharian istirahat, besok kalau masih tidak enak badan, lanjuttt ijin lagi.

Apalagi jaman kuliah, jangan ditanya. Ngaku deh kalian, pasti doyan absen yaa hehehe. Maafkan daku yaa wahai orangtua. Kalian akhirnya mengetahui kenyataan ini.

Dengan kebiasaan yang begitu longgarnya, sekarang berubah habitat dan kebiasaan menjadi lebih padat, konstan dan monoton. Rasanya badan ini sedikit-sedikit agak kewalahan di beberapa kondisi.

Tapi bukan kah itu sisi menariknya ya? Mengetahui fakta-fakta baru, menyesuaikan lagi gaya hidup. Ahhh, hidup memang begitu asik saat ada tantangan. Walaupun memang begitu menyakitkan saat tantangan itu tidak berhasil kita takhlukkan.

Bagaimana dengan mu? Bagaimana ceritamu? Asik sekaligus melelahkan dan menyebalkan kah? Semoga apapun itu kau bisa mengubahnya menjadi energi positif. Love youu, happy reading.

after JEDA

9 mei 2019

Dah lama absen ga nulis tentang sekolahan jadi sedihhh.

Ternyata jadwal cukup padat untuk membuat saya pucingg dan hampir tidak bisa berkutik. Ditambah sakit batuk dan pilek yang sempat nempel di tubuh selama beberapa waktu. Seperti benar-benar sekitar 5 mingguan. Bikin pusing dan deg-degan sendiri, kepikiran sebenarnya ini sakit apa.

Lalu dari mana sebaiknya saya memulai cerita? Memulai dari kesadaran saya yang terlambat memaknai arti perjuangan orang dewasa saat bekerja? Saat dimana walaupun sakit tidak berkesudahan selama beberapa waktu. Walaupun belum sempat benar-benar istirahat dan pulih betul. Tapi kita harus dengan ceria dan bahagian berangkat sekolah. Menyambut anak-anak (?).

“gimana kuat ga?” tanya ayah saya.

ketika saya yang sebenarnya saat itu sudah rapi mengenakan seragam sekolah, tapi masih mengulur waktu dengan tidur-tiduran. Karena rasanya seperti kehabisan unsur hara, dan berat rasa di kepala.

“ya gitu.. namanya juga orang kerja” tambah ayah saya lagi.

“ hmm.. oh gitu ya” gumam saya dalam hati, masih dengan wajah memelas tidak enak badan.

Singkat cerita, beberapa hari kemudian saya memutuskan pergi ke dokter untuk meminta obat. Dengan oleh-oleh obat pengencer dahak, pengencer umbel, dan obat apa yaa kok saya lupa. Alhamdulillah setelah itu badan lebih sehat, dan kepala ringan.

Dahhhh gitu aja ceritanya, wassalaam.

Tips Ketika Kamu Mendongeng.

Oh yaa, beberapa waktu lalu sempat ada lomba. Diantaranya lomba senam gemari untuk anak-anak play group, dan lomba senam juga untuk kakak-kakak TK. Nah selain itu bu guru nya juga ikutan lomba, yaitu lomba mendongeng.

Wiii, menarik ga guys menurut kalian? Kalau aku sih sudah pasti tertarik. Btw ada beberapa hal yang perlu diperhatikan nih saat mendongeng, berikut ini adalah tips-tips dari sang juri lomba :

  • Mendongeng itu menggunakan karakter suara yang berbeda, jadi bisa diketahui saat terjadi dialog. Pluss ga usah terlalu banyak tokoh di dalamnya, nanti susah untuk ganti karakter suaranya.
  • Untuk pemula, coba dulu deh dua karakter di dalam ceritanya. Kok dikit banget ? Ingatt, kamu masih harus menjadi si narator loh. Berarti total ada 3 suara ya? Yuppss, betul.
  • Ohiyaa, pelajari dan latih juga suara-suara seperti angin, air, atau gemuruh dan semacamnya, supaya cerita menjadi lebih hidup dan nyata.
  • Ketika mendongeng dan tidak ada alat peraga, maka si pendongeng harus lebih aktif bergerak dan berekspresi, supaya penonton tidak bosan dong tentunya.
  • Hmmm sepertinya itu sih intinya, selamat berlatih

Outing Sama Bocil-Bocil ke Kampus, Yuk Cuss!

Kemarin banget, menemani kegiatan anak-anak play group outing ke waduk UNDIP – Universitas Diponegoro. Sedikit aneh mungkin yaa, ngapain ngajak anak play gruop main di universitas? Huhu lucu sih. Tak apa, lagi pula ini kan untuk mengenalkan si anak terhadap hal-hal baru. Tapi asli deh, seru banget waktu kita ajak mereka ke kawasan UNDIP.

Pertama-tama kami sempat ajak mereka masuk sedikit ke kawasan kampus untuk mampir dan memberi makan sekawanan rusa yang di pelihara di wilayah fakultas peternakan. Bersama hampir 30 anak, 5 bu guru, beberapa orang tua, dan tentunya bapak supir angkotnya. Kami mampir dan masing-masing anak membawa beberapa batang sayur kangkung. Alhamdulillah, anak-anak super excited dan pada beraniiii sama hewannya.

Maksud saya bukan berani, terus nantang berantem gituu ya. Maksudnya adalah mereka tidak merasa takut untuk maju mendekat dan memberi makan si rusa. Pada beberapa anak saya sempat sampaikan juga, bahwa rusa ini sebenarnya tempat hidupnya bukan di kandang seperti ini, tapi di padang rumput yang luas. Mereka biasanya juga makan rumput.

“makan rumput seperti sapiii, bu Ainun !” teriak lukman

“iyaa” kataku datar (mohon maaf saat itu saya datang bulan hari pertama jadi rasanya sungguh menyiksa, hikss. But thanks dek adek gemes, kalian bikin aku sanggup bertahan).

“sapiii sama kambing juga makan rumput yaa, bu Ainun” si Latif yang duduk bersebelahan juga menimpali tidak mau ketinggalan.

Begitulah sekilas perbincangan gemes dengan anak-anak gemes. Setelah itu mereka lanjut bercerita segala hal yang ada di dalam fikirannya.

Lanjut dari kandang rusa, kami melaju ke arah timur, menuju waduk UNDIP yang juga bersebelahan dengan kawasan Stadion UNDIP, dan juga Rusunawa. Sudah ada yang pernah mampir ke waduk UNDIP? Mampir gih, di sana suasanya lumayan menyenangkan, dan segar mungkin yaa. Senangnya lagi, anak-anak ini menunjukkan rasa ketertarikan yang luar biasa.

Ingin banget rasanya ngoceh panjang lebar, menjelaskan dari A sampai Z, penjelasan mendasar mengenai waduk. Tapi apa daya, keringat dingin dan hampir menggigil rasanya badan saya waktu itu. Next time kita harus tanya-tanya nih bocah masih pada ingat pengalamannya kemarin tidak yaa. Hmmm, harus yaa nak, kamu harus ingattt! Hahaha.

Sesuai rencana, tujuan akhir kami adalah stadion olahraga UNDIP. Saat dua angkot yang kami tumpangi memasuki kawasan parkir stadion, seorang satpan berbaju putih, berlabelkan nama di baju nya… (mohon maaf pak saya lupa namanya) berjalan dari arah sudut selatan stadion. Pak satpam sudah siaga menyambut kami, karena mungkin beliau kaget yaa..

napa nih ada rame-rame, naek angkot masuk sini, ada apaan yak ?!

Keren lah pokonya menurut saya si bapak, karena langsung siaga. Yaah maklum karena kami memang tidak mengajukan ijin resmi sebelumnya. Mengingat kami hanya ingin jalan-jalan dan tengok-tengok sebentar. Blaa bla bla, basa basi menjelaskan kami siapa, dari mana, mau ngapain, boleh dehh, dapat ijin untuk masuk stadion. Alhamdulillah nya juga stadionnya sedang sepi seperti yang saya bayangkan. Mengingat hari itu memang hari dan jam kuliah.

Setelah makan camilan sebentar, anak-anak lalu lanjut masuk menuju stadion. Langsung lah mereka berhamburan berlari sepuasnya di lapangan yang luas. Duhh, alangkah senangnya saya melihat ini. Begitu antusias dan senang nya mereka melihat lapangan hijau yang luas. Mereka berlarian bersama-sama, kemudian mereka menemukan wahana latihan berbentuk tiang-tiang tinggi, tempat biasa orang berlatih gelantungan gitu.. apa ya namanya? Sampai hampir lupa waktu kami keasyikan menikmati pemandangan anak-anak yang bahagia berada di tempat terbuka begini.

Alhamdulillah yaa, one fine day for you guys and for me ofcourse. Hahaha. Ditutup dengan bu guru yang berfoto bersama dengan pose apa yaa, aku juga bingung tapi lucu, hehehe. Yang pasti hari itu, outing kami terasa sukses dan sangat menyenangkan. Sekali lagi, Alhamdulillah.

Anak Kecil Juga Bisa Telepati.

Beberapa hari ini bolos untuk menulis di blog.. parah banget yaa, padahal di dalam otak rasanya banyak sekali hal yang ingin dituangkan. Memang dasarnya malas saja untuk membuka laptop dan beralasan tempat yang kurang PW untuk menulis, ayoo stop ternak alasan Ainun.

Mari sekarang kita mulai dari kelas terakhir yang saya ikuti, yaitu hari selasa, 2 April 2019 kelas sebelum libur hari isra’ mi’raj. Hari itu murid-murid belajar di sentra balok, lokasinya ada di ruangan lantai dua, di pojok paling kanan gedung TK dan KBA Aisyiyah Padangsari.

Ada sebuah drama lucu saat kita akan memasuki kelas dan mencoba mengajarkan anak-anak beberapa kebiasan baru yang semoga saja akan berguna bagi mereka dimasa yang akan datang.

Sebelum masuk ke dalam ruangan kita akan berdoa bersama terlebih dahulu, kemudian anak-anak akan dibimbing untuk masuk secara berpasangan dan silahkan mencari pasangannya sendiri. Beberapa anak menyimak penjelasan Bu guru, namun beberapa tidak berkenan menyumbangkan perhatiannya. Malah tetap asik bermain di barisan paling belakang. Satu pasang anak murid sedang asik bermain di barisan paling belakang sebelum masuk kelas.

Sepertinya mereka bermain menimang anak kecil, karena mereka terlihat menggendong botol minumannya masing-masing persis seperti orang tua yang sedang menimang anak.

Diingatkan untuk ikut membaca doa sebelum memulai kegiatan belajar dan bermain dan bisa masuk kelas bersama, mereka bukan mengikuti. Tapi malah saling pandang-pandangan, kedua bola matanya sedikit melebar tanda agak panik, tidak bersuara, sepertinya juga mereka berkomunikasi dengan cara telepati, lalu sedetik kemudian salah satunya malah menaikkan bahu, tanda ”emm… Entahlah, main lagi saja!”.

Lalu mereka kembali asik bermain. Whatt dek whatttt? Menggemaskan banget sih mereka, ingin saya videokan momen itu tapi sudah terlanjur berlalu. Dan selanjutnya mereka harus meluangkan waktu khusus untuk berdoa sendiri disaat teman-temannya sudah masuk kelas dan ikut bermain.

Such a cute kids.

Mencari Ikan Sungguhan, di Sungai.

Today, march 27th 2019

Hari ini saya, bu Tika, bu Ana, bu Yuni dan tentunya bu Mimih menuju Sungai Jabungan sebagai puncak tema ajaran pada bulan ini yaitu ‘ alam pedesaan’. Bersama kurang lebih 30 orang anak murid beserta anak-anak yang sedang ikut program observasi, dan ehm mamah-mamahnya juga ikut loh. Jadi kami berangkat dari sekolah menuju lokasi sungai jabungan menggunakan angkutan umum, dengan jumlah total 4 angkot. Ramai yaa, hahaha.

Cukup panas saat kami sampai di lokasi yang dituju. Dan lucunya pak RT yang kami rujuk untuk dijadikan tempat singgah malah ternyata kosong. Kami seperti segerombolan orang tidak dikenal yang menyeruduk masuk ke dalam pekarangan rumah pak rt, yang terbilang cukup luas. Sekitar 5 menit kami heboh di depan rumah pak rt, alhamdulillahnya pintu rumah terbuka dan muncul lah wajah seorang wanita yang ternyata adalah anak nya pak rt. Alhamdulillah lagi ternyata anaknya ini malah kenal dengan salah satu orang tua murid, masyaallah.

Baikhh lanjut dari situ, anak-anak langsung melaju menuju sungai yang dituju. Berbekal serok ikan alias jaring ikan di tangan masing-masing anak, dan dengan wajah-wajah kecil yang dipenuhi tanda tanya mereka berjalan perlahan menuju tepi sungai. Sampai di tepi sungai suasana excited dan senang, eh ada juga yang berubah menjadi teriak antara histeris ketakutan tapi penasaran ingin mencoba mencelupkan kaki ke air.

Kontur sungai yang landai, cukup lebar dan berbatu menjadi tempat bermain yang cocok untuk anak-anak play group yang masih kecil-kecil ini. Namun perjuangan yang harus ditempuh para ibu guru adalah, mengangkat dan menyebrangkan mereka menuju sisi yang lain dari sungai ini, dimana tempat bermain yang cocok bagi mereka berada. Boleh di bilang olahraga yang cukup menghasilkan keringat pagi tadi. Bu Mimih juga nampaknya sangat lelah harus menahan arus sungai sekaligus membantu anak-anak menyebrangi sungai.

Beberapa anak yang memang umur dan proporsi tubuhnya lebih besar dan sudah cukup kuat malah langsung bermain di tempat yang cukup dalam. Mereka langsung bermain, berendam dan berenang-renang di air sungai yang saat itu warnanya cukup coklat karena efek hujan kemarin sore. Sedangan sebagian besar anak-anak sedang asyik memainkan serok ikannya di tempat-tempat yang sekiranya aman bagi mereka untuk berpijak. Satu anak bernama Naifa dengan lucunya hanya duduk diatas batu kecil sembari memegangi serok ikannya, dan menoleh kanan kiri dengan ekspresi wajah yang susah diartikan. “Mana ikannya?” tanya nya dengan polos saat saya datang menghampiri.

“Ikannya harus kamu sayang, kalau diam tidak ketemu ikannya. Karena ikannya bisa berenang atau sembunyi di balik batu-batu.” tapi dia masih dengan ekspresi membingungkan sekaligus seperti kecawa tidak menemukan ikan saat dia mulai menyerokkan serok ikannya. Hahaha semangat yaa dek.

Kegiatan mengajak anak-anak ke sungai ini adalah betuk kegiatan puncak dari tema yang dimiliki di bulan ini. Sesuai dengan tema bulan maret yang mana adalah ‘alam pedesaan’, anak-anak diajak untuk mengenal hal-hal yang paling mungkin dan paling familiar ditemukan di desa. Tentu nya ini adalah desa yang ada di kawasan pegunungan yaa, karena beda dengan desa nelayan. Kalau desa nya desa nelayan atau desa kawasan pesisir, maka yang menjadi rujukan wisatanya mungkin kawasan pantai, hutan mangrove ataupun mungkin juga muara sungai, dimana air tawar dan air laut bertemu.

Seruu ya, semoga anak-anak bahagia dan bisa mengambil pelajaran dari kegiatan hari ini, hari kemarin, dan hari-hari yang akan datang. Aamiin.

Satu Jam Saja di Sekolah.

Ada cerita menarik nih kemarin, anggaplah setelah dua minggu saya ikut dalam kegiatan mengajar. Pada minggu kedua ini saya sedang memasuki rutinitas yang dirasakan semua wanita setiap bulannya, yaps datang bulan. Pagi itu berbeda dari hari yang biasanya, karena saya berangkat sekolah dengan badan yang terasa agak dingin dan secuil rasa sakit yang aneh di dalam perut. Seperti pertanyaan bu Tika dan bu Mimih pagi itu saat kami bersalaman “lohh kok lesu?” saya langsung meringis manis dan bilang “hehehe iyaa bu, lagi haid hari pertama” dengan wajah lesu tapi tetap manis.

Hari itu seperti hari-hari biasanya, kami membaca ikrar, afirmasi, bernyanyi, bercanda dan akan memulai latihan senam untuk lomba senam anak-anak. Sayangnya saya sudah hilang fokus. Inginnya ikut membantu dan merapih kan barisan anak-anak tapi malah rasanya seperti orang sedang menahan ngeden (buang air besar). Badan sudah keringat dingin dan seperti hampir menggigil.

Pada bu Mimih saya pamit, bilang saya di UKS sebentar karena badan sudah tidak enak banget rasanya. Bukannya merasa baikan, di dalam uks ternyata rasanya semakin dingin. Batin saya ini ruangan kok malah bikin semakin kedinginan, sampai-sampai hampir menggigil dan kaku. Belum lagi di dalam perut timbul rasa sakit yang aneh dan jadi mual. Saya berlari ke luar dari uks dan menuju deretan keran tempat anak-anak praktik wudhu. Dan, Alhamdulillah nya tanpa ada yang tau.. saya menuntaskan hajat mual saya.

Setelah itu rasanya badan saya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Saya menuju bu Tika dan ijin untuk pulang dan istirahat dulu hari ini. Sungguh hari yang aneh rasanya, baru saja berangkat sekolah jam 7 pagi, dan sudah kembali pulang jam 8 pagi. Sesampainya di rumah? Jangan ditanya, saya langsung bergegas menuju kamar mandi dan menuntaskan rasa mual saya sejadi-jadinya. Belum pernah rasanya badan lemas tak berdaya seperti hari itu. Bahkan mau mengoleskan minyak tawon untuk diri sendiri saja rasanya sudah tidak sanggup.

Saya jadi merasa lucu sendiri kalau mengingat kejadian hari itu. Terbayang bagaimana saya biasanya ramah dan bisa tertawa-tawa gemas melihat anak-anak kecil sedang heboh bermain, tapi mendadak seperti otak saya tidak bisa dipakai untuk berfikir. Selain rasa sakit, dingin dan mual yang terdeteksi di dalam otak, hal lainnya seperti terlewatkan begitu saja.

Lain kali rutin minum kunir asem yaa Ay sayangku, 23 maret 2019.

Kenapa Ibu Saya Selalu Kenyang saat Pulang Kantor? Sekarang Saya Faham.

(dulu) Hampir setiap harinya ibu saya pulang kantor pada pukul 4 sore, atau setelah shalat ashar. Kadang beliau membawa jajan, atau sayur matang, atau ayam goreng, buah, kadang pepes ikan, kadang juga otak-otak yang beliau beli dari penjual yang rutin mampir di kantornya. Semua itu untuk persiapan makan malam tentunya. Karena ibu saya ke kantor dari pagi hingga sore dan tidak sempat berbelanja bahan masakan, apalagi memasaknya. Kadang sudah terlalu lelah saat menginjakkan kaki di rumah. Belum lagi anak-anaknya saat itu masih remaja-remaja yang belum sepenuhnya mengerti bagaimana cara membantu meringankan beban mamak nya ini.

Tapi entah mengapa hampir setiap malam saat jam makan malam ibu saya ini malah tidak ikut makan. Bukan karena makanannya kurang enak, atau jumlahnya kurang mencukupi.. tapi katanya beliau “sudah kenyang”. Heran saya tuh, ibu ini makan apa sih sebenarnya kok kenyang terus. Katanya “tadi di kantor banyak makanan..” atau katanya “tadi di kantor dah nyemil teruss..” tapi hampir setiap hari seperti itu, belum lagi kalaupun ibu saya makan malam, pasti makannya hanya sedikit. Pantas saja awet langsing nih emak dari jaman saya masih unyu-unyu (lucu) sampai se-imut sekarang.

Sekarang setelah kurang lebih dua minggu ikut ngantor dan ngajar di sekolahan yang semua rekan kerjanya adalah ibu-ibu guru, saya faham kenapa ibu saya selalu merasa kenyang saat pulang kantor. Berkaitan erat dengan ‘ibu-ibu’ dan kantor, ternyata ada suatu kebiasaan dan semacam ekosistem yang tercipta. Ekosistem ini merupakan kondisi dimana ibu-ibu selalu memiliki apapun untuk dimakan di sekitarnya.

Bukan secara sepihak menuduh bahwa ibu guru di sekolahan saya suka jajan melulu. Tapi adanya fasilitas snack untuk anak-anak paud di setiap penghujung kelas mereka, membuat para guru juga selalu kecipratan berkahnya. Diantara lain adalah adanya snack dengan jumlah yang berlebih untuk tenaga pengajar. Kadang juga orang tua murid menjadi sangat luar biasa dan senang membawakan jajan untuk para guru. MasyaAllah sangat! Kadang bahkan kami pulang membawa oleh-oleh camilan, bagaimana tidak kenyang terus yaa. Perut kita rasa-rasanya selalu terisi, kadang saya juga jadi mulai malas untuk makan malam. Seperti terlalu banyak muatan yang dimasukkan ke dalam sistem pencernaan tubuh ini.

Yeahh, now i know it mom, i know how you feel. Ahad, 24 maret 2019.

Bersangkutan dengan catatan di atas saya juga jadi selalu bersyukur karena selalu mendapat nikmat yang sangat banyak. Belum lagi karena hal ini saya juga jadi sedikit berkurang keinginan untuk jajan karena sudah merasa kenyang duluan. Semoga hari mu indah yaa gengs.

Kenalan dengan Para Guru dan Pengajar.

Dicatatan selanjutnya ini saya ingin memperkenalkan guru-guru yang mengajar di Play Group Aisyiyah 01 Banyumanik, Semarang, alias Paud atau KBA (kelompok bermain anak). Perkenalan ini tak lain tak bukan supaya kenal dan sayang kan? Sesuai dengan pepatah, tak kenal maka tak sayang.. jadi mari kita kenalan tipis-tipiss.

Potret anak-anak paud pada sentra memasak.
(dokumentasi pribadi)

First of all, kita kenalan dengan bu Yuni atau nama lengkapnya bu Sri Wahyuni Probowati sebagai guru paling senior di Play Group ini. Beliau sudah bekerja menjadi guru setidaknya 13 tahun lamanya, dan sekarang menjabat sebagai kepala sekolah. Baru-baru ini juga anak perempuan beliau yang nomor satu telah melangsungkan pernikahan. Uluhhh, kita doakan semoga samawa yaa. Alhasil untuk dua minggu belakangan ini bu Yuni sedang cuti dan meninggalkan saya, 2 bu guru paud, dan 1 orang yang membantu urusan rumah tangga paud.

Second, ada bu Tika yang mana beliau ini boleh lah kita beri jabatan atau sebut saja sebagai wakil kepala sekolah. Bukan tanpa alasan dong pastinya, selain bu Yuni, bu Tika adalah guru dengan masa kerja paling lama kedua setelah bu Yuni. Berapa tahun yaa beliau kerja di sekolah ini, saya agak lupa. Beliau orangnya sabar dan halus banget, sudah menjiwai banget saat mengajar dan mengajak anak-anak bermain. Kita kapan bisa kayak begitu yaa? Walah sek sabar yoo, ikuti dulu prosesnya, amati, pelajari dan terapkan.

Third, ini guru yang paling muda diantara dua bu guru di atas, dann sekaligus paling heboh. Tentunya lebih heboh dari pada saya lah.. saya kan tidak pernah heboh, ga ada sejarahnya. Ohyaa, namanya bu Ana. Bu Ana, mamah dari murid perempuan Play group 01 Banyumanik yang bernama Fika, dan murid TK bernama Albi. Sudahlah, namanya orang heboh yaa, kalau tidak ada mereka di sekolah tuh suasana rasanya sepi. Si Fika ini wajah dan tingkah lakunya tengil-tengil gimana gitu, astaghfirullaah. Senang rasanya kenal dengan orang-orang baru ini, jadi makin happy dan rasanya seperti terapi untuk kejiawaan, hahaha.

Hmmm dan satu lagi yang walaupun bukan tenaga pengajar, tapi berperan penting membantu segala persiapan belajar mengajar. Namanya bu Mimih. Beliau ini yang paling senior diantara kita semua, beri hormat. Bu Mimih orangnya ramah, tinggal di jl Meranti, dan sebagaimana orang-orang senior lainnya yang pasti doyan cerita banyak hal. Hmm rasa-rasanya saya juga mulai seperti itu dong yaa berarti? Persiapan mulai dari kebersihan ruangan, bantu menyiapkan peralatan belajar, membantu kalau ada anak-anak yang mulai rewel juga dengan ikhlas beliau tuntaskan. Ntaappsss kan.

Segitu dulu boleh yaaa, atau ada lagi yang ingin kamu tau?

21 maret 2019