Jalan-jalan ke Tidore, Yuk

Jadi beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengunjungi Pulau Tidore setelah sebelumnya keliling Pulau ternate, pasti pada tau dong Pulau Tidore. Sebagian besar mungkin mengenal pulau ini lewat pelajaran sejarah, pulau yang terkenal dengan rempah-rempahnya yang diperebutkan oleh negara Portugis dan Spanyol. Berseberangan letaknya dengan Pulau Ternate, dua pulau ini menjadi paling terkenal di Maluku Utara (versi Ainun).

_DSC0587
Pemandangan Pulau Tidore dari pelabuhan Bastiong, Ternate.

Untuk mencapai Pulau Tidore, saya dan teman saya, Lili harus mengunakan transportasi laut dari Ternate. Berangkat dari pelabuhan speedboat di Bastiong, Ternate menuju pelabuhan Rum, Tidore. Ada beberapa pilihan alat transportasi, mulai dari kapal feri, speedboat, dan kapal kayu. Pastinya kalau kapal feri bisa mengangkut penumpang, serta kendaraan bermotor roda dua dan roda empat, speedboat mampu menampung penumpang dan beberapa tas barang bawaan anda, dan satu lagi kapal kayu yang mampu menampung penumpang dan kendaraan roda dua.

_DSC0595
Kendaraan roda dua yang dinaikkan ke atas kapal kayu.

Kalau kapal kayu ini sedikit menarik. Saya dan Lili naik kapal kayu dengan ukuran kurang lebih panjang 8-10 meter. Jadi ini kapalnya sederhana tapi keren, karena dalam satu kapal mampu menampung sekitar 10 kendaraan motor. Dan motor-motor diparkirkan di atas perahu dan diikat, cukup mendebarkan melihat motor-motor ini nangkring diatas perahu yang akan menerjang ombak. Untungnya waktu itu ombak tidak terlalu besar, dan jarak tempuh Ternate – Tidore cukup dekat, hanya memakan waktu sekitar 15 menit, dan juga waktu keberangkatan nya lebih fleksibel. And, finally dengan modal Rp 25.000 kita sudah sampai di Tidore.

By the way sampai di pelabuhan Rum, Tidore kami langsung menurunkan motor, then tancap gas menuju daerah yang namanya Soa sio. Itu nama kota yang jadi pusat tempat tinggal dan kegiatan-kegiatan lain di Tidore. Pulau Tidore dilihat dari ukuran pulaunya lebih besar dari pada Pulau Ternate, tapi dari yang saya lihat penduduknya tidak lebih banyak, dan disana cukup sepi dan hening. Jalanan beraspal mulus, suasana jalanan lenggang, penduduknya saya rasa sebagian besar berkegiatan di dalam rumah waktu saya datang. Kami menuju Soa sio, tempat Kak Tom and the gang, teman dari “wild house” (nanti search aja yaa apa itu wild house di Tidore). Sebentar saja mengganggu ketenangan hidup mereka, karena kami minta diantarkan jalan-jalan. Waktu itu sudah cukup siang alias.. sore, jadi kami pergi sebentar menuju tempat yang letaknya di bukit tinggi, namanya Desa Gurabunga.

Desa yang menawarkan pemandangan yang indah banget sih kalau saya bilang, kota Tidore bisa terlihat dengan jelas dari atas sana. Ada tempat nongkrong untuk menikmati pemandangan kota Tidore langsung ke arah laut, hanya tumpukan bebatuan besar biasa saja, tapi saya yakin kalian pasti suka. Dari sudut-sudut tertentu kita akan merasa seperti berada di atas awan. Diluar dari itu kalian harus tahu sih perjalanan ke tempat ini menanjak tajam sekali. Waktu dibonceng naik motor saya yang pasti hanya bisa berdoa supaya selamat sampai tujuan, kadang pura-pura ajak teman untuk ngobrol dalam rangka mencairkan suasana.

_DSC0656
Pemandangan dari Desa Gurabunga.

Lanjut dari sana kita berencana mampir di “Kedaton”, saya tanya apa itu Kedaton? ternyata, Kedaton adalah Keraton dalam bagaimana masyarakat Tidore menyebutnya. Nah disini juga saya jadi wisata sejarah budaya, mengingat Kesultanan Tidore ini adalah kerajaan islam yang cukup besar yang bahkan wilayah kekuasaannya mencapai tanah papua, di masa kejayaannya. Pada ingattt gaa, hayooo..

Dan kemudian kami pergi mencari oleh-oleh seperti kain tenun, tapi yang jualan sudah tutup sore itu. Agak sedih sih. Meskipun tidak banyak yang saya dan Lili lakukan di Tidore hari itu, tapi banyak yang bisa kami lihat. Yaa.. setidaknya saya sekarang sudah berkenalan dengan Tidore, yang selama ini cuman saya ketahui dari buku sejarah. Alamnya masih asri banget, dan jalan raya di pinggir pantai yang berkelok-kelok itu menyebalkan. Karena saya harus menahan diri saat melihat air laut yang super jernih, bersih, dan ditambah pemandangan bocah-bocah kecil yang asyik mandi di pantai, segeerrr banget sepertinya. “Batobo” istilahnya, mandi-mandi di pinggir pantai.

_DSC0614
Pemandangan dari benteng Tahula.
_DSC0632
Masih dari benteng Tahula, kenalan sama teman saya, Lili namanya.

Ohiyaa kami juga sempat mampir ke salah satu benteng yang ada di Tidore, saya lupa nama bentengnya. Kalau tidak salah nih namanya, Benteng Tahula. Letaknya di pinggir jalan, dan harus menaiki anak tangga yang cukup curam dan banyak jumlahnya sebelum bisa sampai di bagian atas dan melihat bentengnya. Mereka biasa menyebutnya benteng “seribu tangga” kurasa.. atau tangga seribu yaa. Tapi sih sebenarnya tidak sampai seribu, beberapa puluh saja jumlah anak tangganya, kata teman saya bisa jadi seribu kalau dilewatin berulang kali naik turun. Okeee baik.

Dalam perjalanan pulang saya dan Lili seperti menyongsong matahari, mengejar perahu untuk menyeberang kembali ke Ternate, berpisah dengan Kak Tom and friend yang sudah berbaik hati mengantarkan dua perempuan lucu ini dan menunjukkan secuil dari keindahan dan kemakmuran tanah Tidore. I hope i could come to Tidore again and again. Say Aamiin please ahahaa.. you should go to Tidore guys, terimakasih para pemirsa yang berbahagia.

Kuliner Wajib di Maluku Utara



Haloo selamat berbahagia untuk kalian semua yang membaca blog ini, selamat berbahagia menurut waktu setempat.

Ini lagi iseng ajasih, saya ingin bahas aneka makan khas nan enaaak yang bisa saya temukan dan rasakan di Maluku Utara, atau lebih spesifiknya di Morotai. Ada banyak sebenarnya makanan enak disana, yang paling saya sukai adalah Gohu. Gohu sendiri sebenarnya adalah ikan segar (biasanya ikan cakalang atau tuna) yang dipotong-potong dadu, kemudian dibumbui perasan air jeruk lemon, ditambah cabe rawit utuh, ditaburi garam, dan disiram dengan minyak goreng panas.

Setelah itu semua bahan tadi diaduk sampai merata, dan sudah siap disantap. Yaapp, Gohu menggunakan ikan mentah sebagai bahan utamanya dan rasanyaa nikmat sekali. Paling nikmat nih kalau gohu disantap dengan ubi atau singkong yang dimasak dengan santan, kalau saya tidak salah mereka menyebutnya Kasbi Santan. Atau singkong dan pisang goreng sebagai temannya juga tidak kalah enaknya. Eiitss tapi mohon maaf yaa, saya tidak punya foto makanan enak satu ini jadi kalian belum bisa lihat penampakannya.

Buat yang mau berkunjung ke Maluku Utara atau Morotai dan mau wisata kuliner, bisa nih dicoba beberapa menu yang sederhana tapi nikmatnya bukan maeeenn!

Ikan Dabu-dabu Manta Khas Maluku Utara

P_20180225_131939
You semua harus pastikan pernah makan ikan bakar dengan ditemani dabu-dabu mantah (dabu-dabu = sambal), ikan apapun pasti enak, terutama ikan lolosi. Dabu-dabu mantahnya sendiri terdiri dari irisan tomat, bawang merah, cabe rawit utuh, perasan jeruk lemon, daun kemangi, taburan garam dan siraman minyak goreng/ minyak kelapa.

Sayur lilin, enak bangettt sayur ini. Saya benar-benar ketagihan, sayangnya susah-susah gampang nemuin sayur ini, dan tidak banyak warung yang menawarkan menu ini. Selain itu sebenarnya di Morotai paling banyak orang menyajikan sayur jantung pisang atau juga bunga pepaya, enakk loh.

P_20180225_132040
Sayur lilin tuh enak bangett, asli. Pertama kali makan, dibuatkan sama mamahnya Paleca.
P_20180225_132430
Paket lengkap = Nasi, Sayur Lilin, Ikan Bakar dan Dabu-dabu Mantah.

Waktu itu saya juga sempat mampir ke Galela dan makan di sana. Dengan menu yang sebenarnya tidak jauh berbeda, nasi, ikan bakar, sayur tumis kangkung, dan dabu-dabu manta. Tapi memang dasarnya makanan sederhana ini sedapppnya khan maenn! And you should know guys, ada pisang goreng mulut bebek yang nikmatnya bikin tidak habis pikir. Saya kekenyangan.

P_20180313_180908 (1)
Looks how menggiurkannya hehe bikin lapar..
p_20180313_180927.jpg
Sepertinya saya masih bisa membayangkan kenikmatan semua makanan ini.. hahahaa



Morotai – Ternate (lewat jalur laut)

By the way saya akan mulai untuk ceritain perjalanan saya ke Ternate dan Tidore. Dua pulau dengan awalan huruf “T” yang paling sering kita temui dalam pelajaran sejarah. Tapi mungkin disini cerita tentang Ternate dulu yaa. Bertolak dari Pulau Morotai menuju Pulau Ternate menggunakan jalur laut, KM. Geovani waktu itu yang saya tumpangi. Kapal berangkat jam 9 malam waktu setempat dan sampai di tujuan jam 8 pagi keesokan harinya, dengan harga tiket Rp 160.000. Penuh dan sesak sekali malam itu, mungkin karena minggu terakhir sebelum libur lebaran.

Satu hal yang disayangkan karena waktu itu saya beli tiket terlalu siang, alhasil tiket sudah dalam genggaman tangan tapi tanpa nomor ranjang. Dan jadilah saya ndelosor-ndelosor di kursi, atau di kasur-kasur tipis di lorong lambung kapal. Apesnya, kasurnya sedikit robek yang ternyata di lorong itu ada aliran air buangan AC, heyy nice. Dengan rentan waktu perjalanan yang cukup lama, dengan angin laut yang dingin mendayu-dayu. Tapi waktu itu dingin jadi tidak terasa, karena kursi-kursi yang saya dan orang-orang kebanyakan duduki berada persis diatas mesin AC. Kami jadi dapat efek-efek dipijat dari mesin penghangat, setidaknya angin laut di malam hari menjadi tidak sedingin kenyataannya.

Sebenarnya waktu mau beli tiket sempat dapat saran dari Mulis dan Nengkes supaya melintas saja (melintas mean : Morotai-Tobelo-Sofifi-Ternate via jalur darat), tapi apalah arti lautan ini kalau belum pernah saya sebrangi. Ahelahh apa coba, ndak ada apa-apa padahal. Berlandaskan asas keingin tahuan dan rasa penasaran naik kapal Morotai-Ternate, dan kekangenan untuk tertiup-tiup angin laut di atas kapal akhirnya saya putuskan naik kapal. And you know next? Ternyata saya ada teman, om Amat juga mau naik kapal malam itu, dan sebenarnya dari situlah bagaimana saya bisa tidur di atas kasur saat sedang dalam perjalanan. Karena saya nebeng kasur hehee. Dan ketemu beberapa teman lain juga yang mau mudik.

Next dan langsung menuju Ternate, saya di jemput sodaranya teman, yang karena teman saya sedang sakit. My poor friend. Eitss masih ada teman lain kok yang sehat. Lili namanya, saya tinggal di kamar kos dia dan diajak jalan-jalan. Kita sempat jalan ke benteng-benteng yang ada di Ternate, karena memang disana wisata sejarahnya cukup menarik dan total ada empat benteng mengitari pulau ini. Benteng yang paling dekat adalah Benteng Kalamata, cantik banget, dari sini kita bisa langsung melihat ke arah Pulau Tidore, dan Pulau Maitara. Cantik sekali.

_DSC0578
Sejumput wajah dari Benteng Kalamata, dan ada simbahnya sebagai model. Itu di seberang nampak wajah Pulau Tidore.
_DSC0581
Kalau ada yang iseng-iseng pingin baca.

Selain itu ada Benteng Oranje di tengah-tengah kota, Benteng Tolukko yang letaknya seakan-akan di ujung tebing dan ternyata kecil banget tapi menawarkan pemandangan yang indah banget. Sayangnya waktu itu yang jaga benteng sedang pergi jadi saya tidak sempat masuk dan berfoto, padahal ini spot paling favorit orang-orang yang berkunjung. Satu lagi Benteng Kastela dan saya lupa persis letaknya ada di sebelah mana. Tapi saya rasa wisata benteng sudah cukup yaa.

Sore hari saya dan Lili kembali keluar dari kamar kos dan tancap gas menuju Danau Tolire, danau cantik di sisi lain Pulau Ternate. Terkenal sekali dengan kemampuan danau ini untuk menolak batu-batu yang dilemparkan pengunjung ke arah permukaan danau. Hahaha sebenarnya mungkin bukan menolak batu, tapi memang batu-batu yang dilemparkan sama orang-orang sudah jatuh lebih dulu di semak belukar sebelum menyentuh permukaan danau yang memang jaraknya cukup jauh. Mungkin kita harus mencoba melemparnya pakai ketapel?

Selain itu juga terkenal lohh karena ada buaya putih hidup di dalam sana, yaa posisi geografis danau yang beberapa ratus meter di bawah tempat pengunjung berdiri memang membuat kita takut-takut untuk mengintip ke dalamnya. Saya dan Lili salah satunya, penasaran ingin melihat si buaya putih dan kami menunggu beberapa saat. Memperhatikan gerak-gerik atau jejak-jejak getaran yang menggerakkan permukaan air. Waktu itu kami sempat mengamati ada pergerakan di permukaan air yang pergerakannya cukup besar (karena bisa dilihat dari tempat kami, jadi pastilah cukup besar), dan ada semacam bayangan memanjang mengikuti permukaan air yang bergerak itu. Kami sih berspekulasi itu mungkin adalah si buaya putih yang lagi asik kami perbincangkan.

Hehehe asiknyaa main tebak-tebakan. But, then kita melanjutkan perjalanan pulang dengan jalur yang berbeda. Mengitari pulau, kecil saja Pulau Ternate ini. Cukuplah untuk dikelilingi dalam waktu 1 sampai 1 setengah jam menggunakan kendaraan bermotor, kalau dengan berlari saya belum tahu tuh butuh waktu berapa lama. Tapi mungkin boleh dicoba, ada yang mau temani? Dan sore itu menjadi penutup hari, kami kembali dan mencari sepenggal jajanan untuk teman buka puasa.

Senang Banget Ikut Pecah Rekor Muri, Penyelaman Wanita Terbanyak.



Hidup di kota besar selama lebih dari dua bulan tanpa diving membuat saya bersyukur banget bisa diving di Manado tempo hari.. walaupun tidak sejernih perairan Morotai, dengan substrat dasar seperti halnya tanah berwarna coklat dan bukan dengan pemandangan hamparan terumbu karang dan biota-biota unik memanjakan mata. (sombong dikit boleh ya? maafkan :p)

Yapps kali ini saya dapat kesempatan diving di Manado dalam acara yang diadakan oleh WASI (Wanita Selam Indonesia) dalam kegiatannya untuk mencapai rekor muri dengan jumlah penyelam wanita terbanyak dan pembentangan bendera merah putih terpanjang di dalam air. Kali ini bukan cuman datang untuk fun dive, tapi sekaligus untuk kerjaan, karena saya bertugas mendampingi orang diving. Yaa kita anggap saja seperti guide selam.

img-20180811-wa0084.jpg
salah satu foto bersama setelah selesai penyelaman, dapat piagam dan sertifikat.

Menarik banget sih menurut saya pribadi. Pertama, karena ini kali pertama saya ikut dalam pencapaian rekor muri. Kedua, sepertinya asal muasal saya ingin menyelam itu karena waktu kecil saya diajak snorkling-snorkling di Bunaken. Dan sekarang? Waww saya datang ke Manado untuk menyelam, walaupun bukan di Bunaken sih menyelamnya, but make me still excitedddd.

Ketiga, saya dari Semarang terbang ke Manado untuk jagain orang menyelam.. menarik, mengingat, saya juga kemampuan menyelamnya sangat seadanya. Tapi asli saya merasa sumringah dan agak tertantang karena ada misi yang lebih menarik dari sekedar menyelam-menyelam biasanya (yang juga sebenarnya biasa saja karena hanya di kedalaman 8 meter hehe). Keempat, segala persiapan dan penyambutan dari panita WASI nya kece banget, jumlah peserta yang datar saja saya yakin ada 1000an (tapi karena beberapa hal mungkin pendaftaran mereka tidak sesuai proses untuk ikut, sehingga yang terdaftar hanya sekitar 920 orang). Penjemputan dan pendampingan lain tertata, sekaligus dari sini saya bisa belajar bagaimana mereka memanage kegiatan sebesar ini.

Kelima, sekalian bisa silaturahmi dengan teman-teman, juga silaturahmi dengan temannya orang tua saya, yang tinggal di Manado. Hanya saja karena memang datang untuk kerja, jadi susah banget mau ketemu teman, harus curi-curi waktu baru dapat tatap muka.

Tanggal 10 Agustus 2018 pagi para peserta sudah tiba di lokasi kegiatan yang bertempat di kawasan Megamas untuk penyerahan alat diving sesuai dengan kelompok yang sudah dibagikan. Banyak sekali penyelam yang datang secara berkelompok, beberapa dari mereka baru jadi penyelam khusus untuk ikut kegiatan ini. Soo, menurut kamu apakah kegiatan ini mendatangkan manfaat karena berhasil melahirkan ratusan penyelam wanita? Nah saya sendiri disini terdaftar dalam peserta umum, yang kelompoknya terletak paling ujung.. jauh banget deh dari panggung acara hehe. Saya dan teman saya (Kak Ceri) tugasnya diving sekaligus menemani Ibu Bupati Morotai (dan dua orang temannya) diving dalam kegiatan ini.

IMG_20180810_170818_183
Our scuba gear is ready, and we are ready yeyyy.
IMG_20180810_072958_746
Lucuu banget ga sih, scuba tanknya diberi mark warna pink di lehernya.

Pada hari H, tanggal 11 Agustus 2018, semua peserta dan seluruh jajaran yang bertugas sudah berkumpul di Megamas sejak pukul 5 pagi. Setiap kelompok akan dipimpin dan dikawal oleh safety divers yang berjumlah 5-6 orang, beberapa dari mereka bersertifikat rescue diver, dive master, ataupun instruktur. Sebelum mulai diving kami diberikan briefing singkat oleh dive leader di kelompok kami, Pak Ken namanya, asik banget pembawaannya, dan yang terpenting mampu menguatkan semangat para lady divers sembari menunggu waktu menyelam.

Saya dan buddy saya Bu Monika waktu itu berada di kelompok terakhir nomor 21, kelompok U. Setelah siap dengan peralatan selam, kami bersama buddy masing-masing menuruni tangga dan berenang menuju lokasi penyelaman yang disediakan. Nah disini dibagi tugas dalam pemecahan rekor muri. Ada dua kategori dalam pencapaian rekor muri ini, yang pertama penyelaman massal wanita penyelam terbanyak dan yang kedua adalah pengibaran bendera merah putih terpanjang di bawah laut Indonesia oleh penyelam wanita.

IMG-20180811-WA0083
Foto bersama dulu dengan team Morotai yakan. View belakangnya gagah banget guys, ada kapal fery dengan layar bertuliskan WASI.
img-20180812-wa0041.jpg
Permukaan laut mendadak ramai oleh para penyelam wanita yang dibakar semangat dan antusias.

Nantinya dari kurang lebih 920 penyelam wanita yang sudah terdaftar akan menyelam bersama-sama, sembari dilakukan pengibaran bendera merah putih sepanjang 500 meter di lokasi yang sama dengan lokasi penyelaman. Setiap penyelam diberi kaos dengan warna yang berbeda tiap kelompoknya, dan di dasar perairannya sudah diberikan mark sebagai sign untuk tempat yang harus di tempati oleh para penyelam. Tujuannya tentu supaya para penyelam dengan jumlah yang begitu banyaknya tidak tersebar sembarangan, selain itu bisa tetap dekat dengan buddy dan berada dalam kelompoknya.

Sedangkan untuk pengibaran benderanya, sekitar 80 penyelam wanita sudah ditentukan oleh panitia untuk membantu dalam pembentangnnya di dalam air. Dan yang pasti pengibaran bendera ini dipimpin oleh Bu Tri Tito selaku ketua umum dari Wanita Selam Indonesia. Kalian bisa lihat video pengibaran bendera ini di youtube dengan keyword pengibaran bendera merah putih oleh penyelam wanita.

IMG-20180810-WA0026
Dapat beberapa teman baru, para lady divers kece nan tangguh dan yaa pastinya kita berisik.

Sebagai salah satu peserta yang kebagian tempat di ujung barisan, saya dan Bu Monika cuman bisa bengong-bengong lihatin buddy, lihatin bendera merah putih yang sudah terbentang di depan kami, kadang gemashh lihat safety divers yang berkeliyaran renang dan mengambang-ngambang di atas saya, kadang tiba-tiba ada badai pasir karena teman penyelam yang di sekitar tiba-tiba kakinya gerak dan bikin substrat naik. Pada menit-menit pertama kita sampai di dasar perairan, penglihatannya buram sekali, mungkin hanya jarak lima meter saja jarak pandangnya.

Sekitar 15 menit kemudian saya dengar suara dentingan yang pasti berasal dari pointer yang dihantamkan ke badan tank scuba, karena jarak pandang yang sempit saya tolah-toleh cari sumber suara, tiba-tiba muncul penyelam di depan kita dengan jarak hanya 30 cm lah kurang lebih. Mengambang di kolom air dengan anggun sembari ujung tangan kanannya berada di pelipis dahi nya, sedang memberi hormat. Ternyata Ibu Tri Tito. Saya sempat bingung tapi langsung ikut membalas dengan kembali memberi hormat. Lupa saya kalau lagi pengibaran bendera. Btw setelah itu ibunya mau coba pakai sea scooter milik cameramen beliau, eh tapi nyeruduk-nyeruduk diri saya dari belakang dong.. kan kaget saya nya ini hehe. It’s okey, forget it.

Kami yang lagi bengong menunggu instruksi untuk naik, akhirnya mendapat hiburan dengan kehadiran cameramen yang mondar-mandir di depan barisan kami. Lucunya punya buddy yang aktif adalah buddy saya melambai-lambaikan tangan ke cameramen, minta di foto hehe. Untung tidak langsung renang maju nyamperin cameramennya ya Bu. Saya sih bantu panggil saja, dan tentu ikut siap-siap berfoto sambil sedikit menahan ketawa geli.

IMG-20180811-WA0079
me and my buddy eksis depan kamera, rock it buddy.

Menyelam sekitar 20 menit di dasar perairan, akhirnya datang instruksi naik. Di permukaan air para lady divers sudah heboh dan suara ramai menggema memenuhi kolom udara, kurang jelas ada apanya. Sebagian heboh dengan temannya, beberapa bingung tidak tahu apa sebab, dan kebanyakan (termasuk saya) heboh sambil melambaikan tangan ke langit dan sambil sedikit memekik gembira, karena drone bolak-balik lalu lalang di atas kami, para lady divers yang baru saja berhasil menyelesaikan rekor muri-nya. “Rekor Muri Penyelaman Massal Penyelam Wanita, dan Pembentangan Bendera Merah Putih Terpanjang oleh Penyelam Wanita. Manado, 11 Agustus 2018”.

Selamat menyelam Buddy, remember safety first. No safety, no dive.



How to get to Morotai Island.

Hi, hi everyone

here i want to make some notes to anyone who may be need this information, couse sometimes anyone comes and asking to my blog.

location: Army Dock, Morotai

I have been live in Morotai Island for six month this year, and that was fantastic opportunity for me. An island in the northenmost of North Moluccas, East Indonesia. You can see Pacific ocean from this island, heuuu. Ok, let me tellin you something that really nice to share. You can easily found some transportation to go to Morotai Island, that take place from Ternate, and also from Ternate to Morotai.

There are three alternative transportation you can use, you can go by plane, ship, or by car.

First, if you choose to use plane. There will be just one schedule that come from Ternate -Morotai. Here you are :

Ternate – Morotai on 11:55 wit (departure) – 12:40 wit (arrived)

Morotai – Ternate on 13:00 wit (departure) – 13:45 wit (arrived)

And yess, just one fleet and flight per day. It takes 45 minutes by plane, but yeah it’s quite expensive for me, and also you need to know that it takes almost 12 hours to get there from java. But it will be fine, couse you will loveee this island.

Next, i made this for you guys who loves the ocean.. just like me, and also who’s want to save some money. I would like to suggest this transportation, shipboard. Take aside fact that i want save my money, i love to do it, sailing. There is two shipboard named Geovani and Ratu Maria, here we go for the schedule :

Geovani

from Ternate to Morotai

  • Wednesday : 08:30 pm until 07:00 am.
  • Friday : 08:30 pm until 07:00 am.

from Morotai to Ternate

  • Thursday : 08:30 pm until 07:00 am.
  • Saturday : 08:30 pm until 07:00 am.

Ratu Maria

From Ternate to Morotai on thursday, saturday and monday. From Morotai to Ternate on Tuesday, Friday and Sunday. And the departure on 04:00 pm.

Also, for the cost you need to spend Rp 165.000,-

Next to the last stop, we can use car from Ternate to Morotai, but still need speedboat to help. “Ternate – Sofifi – Tobelo – Morotai”. Ternate – Sofifi (speedboat), Sofifi – Tobelo (car, kinda like angkot), Tobelo – Morotai (speedboat). For informations, Sofifi and Tobelo are located in North Halmahera.

You will need to spend Rp 50.000 to pay the speedboat from Ternate – Sofifi. And Rp 100.000 – Rp 120.000 to pay the car carter from Sofifi – Tobelo, also you need Rp 100.000 to pay the speedboat. You may be love it couse you can see the part of North Halmahera, and it’s more flexible than plane and shipboard.

Thats it, i will tell you immediatly if there are any new things to share. Just come, come to Morotai.

*if this article help you, just let me know 😀 thankyou

<head>
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<script>
  (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({
    google_ad_client: "ca-pub-7150879423210211",
    enable_page_level_ads: true
  });
</script>
</head>

I Love Dive with Sharks



Bukan kali pertama saya menyelam bersama hiu, karena beberapa diving sebelumnya saya juga sudah bertemu dengan hiu. Tapi yang satu ini berbeda, this site named Blacktip Point. Yapp lokasi khusus di Pulau Matita, Morotai yang menjadi andalan Shark Diving Indonesia untuk menyelam dengan hiu yang ramah dan bersahabat. Bukan di dalam penangkaran hiu, tapi langsung di habitat aslinya.

Hiu yang pasti kita temukan berenang dekat dengan penyelam adalah blacktip reef shark, hiu karang dengan ukuran panjang sekitar 1 – 2 meter, dan memiliki corak hitam di ujung siripnya sebagai ciri khusus hiu jenis ini. Bertemu dengan 20 ekor lebih hiu yang berenang dengan jarak sangat dekat disekitar tubuh anda ternyata adalah hal yang biasa bagi teman-teman Saya di Morotai, padahal untuk saya ini adalah hal yang super-super baru dalam hidup saya selama 22 tahun ini. Mungkin jarak terjauh dari tubuh saya hanya beberapa puluh centimeter saja.

2
looks how handsome and cool this black tip reef shark! (photo taken by my friend)

Saat menyelam di blacktip point kita akan coba mencari perhatian dari hiu dengan cara memberikan umpan makanan, yapp feeding sharks. Ikan cakalang/tuna menjadi pilihan utama sebagai umpan untuk hiu, dengan jumlah yang secukupnya agar tidak mengganggu kebiasaan alami hiu untuk berburu. Pemberian umpan dilakukan oleh shark feeder yang sudah menggunakan pakaian khusus untuk feeding shark, it’s named Shark Armor. Baju besi bertekstur anyaman seperti seorang prajurit perang, yang pastinya memberi keamanan kepada si shark feeder. Bukan karena hiu itu jahat, tapi sebagai bentuk standar keamanan.

Umpan ikan yang sudah dipotong-potong besar siap diberikan kepada para hiu yang berenang disekitar penyelam, berada pada kedalaman 18-20 meter di bawah air dan dengan cahaya matahari secukupnya yang masih sanggup masuk ke badan air. Hiu-hiu ini dapat mencium bau darah dari umpan ikan yang kami bawa, tapi heyy ada yang berbeda dari potongan-potongan umpan yang kami bawa. Warna darah ikan ini sudah tidak merah lagi. Hiu yang asyik mencabik daging umpan ikan di kolom perairan membuat darah ikan itu menyebar, tapi bukannya berwarna merah. Warna hijau terlihat menyebar dari daging ikan itu dan larut bersama air laut.

Ternyata semakin dalam kita menyelam, semakin sedikit sinar matahari yang bisa masuk ke dalam badan air dan beberapa warna mulai tidak terlihat, sampai akhirnya hanya ada warna hijau dan biru atau akhirnya gelap total. Wuww.

Puas bercengkrama dengan hiu, dan sebagai akhir dari penyelaman kami di Blacktip Point, Saya dan teman-teman satu grup (ko Andi, Jacob dan Simca) berenang sedikit untuk menikmati pemandangan karang yang hidup di dasar perairan Pulau Matita. What a great experience !



Who Doesn’t Love Sunset?

Sebentar lagi senja.

Hai kalian, semoga berbahagia.

bimantara03woow-com_ios-1477-4831-9395-2318-9559.jpg
don’t you think it’s beautiful, when the sunset not actually seen, but still make me falling in love. (location : swering desa yayasan)

Jadi beberapa waktu belakangan ini saya hobi banget mantengin senja. Cahaya jingga keemasan, oranye, merah muda, terus perlahan berubah semakin gelap, menjadi semburat warna ungu, biru dan semakin gelap seiring terbenamnya matahari. Dulu sepertinya saya tidak terlalu tertarik menikmati senja atau disini kita sebut saja sunset. Karena ketika saya menyebutnya senja, kesannya saya puitis banget ahhaaha.

Ingat banget sempat rajin dengarin youtube yang mana Bang Abimana Aryasatya lagi bacain cerpen yang isinya tentang “Sepotong Senja Untuk Alina”. Ternyata cerpen ini berimbas saya jadi doyan mengamati sunset, ketika saya tinggal di Morotai selama enam bulan. Ternyata sih seperti tertanam di alam bawah sadar ahhaa. Tapi sebenarnya saya lebih suka sunrise, karena rasanya bikin lebih bersemangat setelah menyaksikannya. Hanya saja, saya sedikit kurang tergugah untuk berkeliling mencari sunrise di Morotai hahaha. Hmmm tapi sempat sih satu kali dapat sunrise di Museum Trikora, akibat lari pagi bareng Rama, Buyung, and Ko Bims.

p_20180227_071924.jpg
ini moment waktu saya nungguin sunrise, tapi tidak terlihat yaa? mendung sih.

Singkat cerita nih, saya mau bikin katalok beberapa foto sunset yang sempat tertangkap kamera. Soo… selamat menikmati.

IMG-20180502-WA0013
cantik banget yaa? lupa sih ini foto diambil dimana, tapi cantik banget.

Bagaimana sunset menurut definisi mu? Saya sempat cari artikel tentang arti senja atau dalam bahasa inggris sunset, dimana sunset diartikan sebagai bagian waktu dalam hari atau keadaan setengah gelap di bumi sesudah matahari terbenam.

_DSC0043
Pemandangan dari swering (swering itu dinding semen pembatas pantai). Waktu ambil foto ini, rasanya seperti di negeri dongeng yang ada berbie-berbie nya, tentunya berkat gumpalan awan yang dengan dasyat menggantung di langit laut Morotai.
_DSC0029
Menoleh ke kanan sedikit kita sudah bisa menikmati sunset dengan pemandangan pelabuhan Kota Daruba. Awannya sedikit tebal hari itu, tapi cuaca tetap aman terkendali.

Pingin dengarin cerita tentang cerpen yang dibacakan Abimana ga? Jadi si Abimana ini berperan sebagai Sukab yang punya pacar bernama Alina. Ceritanya bermula ketika Sukab yang sedang menikmati sunset di tepi pantai yang indah secara tiba-tiba teringat akan pacarnya yang sedang long distance, kemudian muncul ide si Sukab untuk mengambil sunset itu  dan dikirim untuk pacarnya, Alina.

Ketika Sukab mengambil sunset itu, orang-orang yang juga sedang menikmati sunset marah dibuatnya. Tentu saja, karena Sukab menciptakan sebuah lubang hitam berbentuk persegi panjang, tepat dimana matahari hanya tersisa setengah bulatan sebelum terbenam, bahkan beserta pantulan cahaya keemasan dipermukaan lautnya, yang dia potong secara rapi untuk Alina. Dan bagaimana orang-orang bisa menikmati suasana sunset yang penuh daya tarik?

Sunset dengan cahaya merah dan oranye keemasan kata Sukab, dia ingin sekali memberikannya untuk Alina.

img_20180515_182624_261.jpg
Bergeser sedikit ke rumah Om Adam, foto sunsetnya diambil dari depan rumah Om Adam yang mepet dengan pantai. Lumayan blurr fotonya, mengingat bermodal kamera hp biasa.

Tidak lama setelah itu Sukab menjadi buronan polisi karena mencuri sunset hari itu. Lucu yaa. Hebatnya, Sukab berhasil lolos dari kejaran polisi, dan menitipkan sunset yang diambilnya sebagai surat cinta untuk Alina. Yaa.. seperti layaknya sebuah surat, sunset itu dia masukkan ke dalam amplop, dan dikirimkan melalui kantor pos.

P_20180508_185031 (1)
Ini juga dari depan rumah Om Adam, tapi agak ke laut karena kita nongkrong di dermaga kayu di situ. Ada modelnya, tapi tidak pakai bayaran karena bukan model profesional 😉
Screenshot_20180623-170943
don’t you see the beauty of this photo? couse i do.
img_20180608_181122_342-11-e1532345409902.jpg
Bukan sepenuhnya sunset sih, mungkin masih sekitar 15 menit sebelum sunset. Lokasi di pelabuhan Kota Daruba, dan di sana bersandar kapal Geovani yang menjadi transportasi laut Morotai-Ternate.

Perjalanan yang cukup berat menemani Pak Pos pengantar surat dalam cerita ini. Dan surat dari Sukab menjadi surat terakhir yang harus diantarkan nya. 10 tahun yang harus ditempuh oleh Pak Pos, iyaa.. 10 tahun. Mengapa bisa begitu? Pak Pos ini, dia begitu penasaran dengan isi surat cinta Sukab. Sehingga begitu dia membukanya, dia malah terhisap kedalam potongan gambar sunset itu.

Entah seperti apa 10 tahun yang dilewati oleh Pak Pos di dalam potongan gambar sunset itu, menakjubkan katanya. Suatu ketika dia berhasil keluar dan terburu-buru mengantarkan surat milik Sukab. Maka surat cinta Sukab akhirnya sampai juga di tangan Alina. Tidak disangka, Alina malah membencinya setengah mati.

DCIM100MEDIADJI_0012.JPG
Spot menikmati sunset yang sama dengan foto pertama di blog ini, swering. Sepertinya foto ini saat airnya sedang surut, kamu bisa lihat dari adanya batang pohon besar yang cuman terlihat saat surut.

Begitu dibukanya amplop berisi surat cinta itu, surat cinta yang diterjemahkan Sukab dalam bentuk sunset, yang dicurinya 10 tahun lalu, yang membuatnya menjadi buronan polisi. Begitu Alina membuka surat itu, Alina kesal setengah mati, air laut keluar dan membanjiri seluruh tempat tinggal Alina, matahari yang hampir terbenam itu pun ikut keluar dari amplop. Alina membalas surat cinta yang dikirimkan oleh Sukab dengan kebencian dan kesal, begitu kejamnya. Bagaimana tidak? 10 tahun lamanya, dan ketika sampai, surat cinta itu bisa dibilang tidak masuk akal.

Cahaya merah dan oranye keemasan yang dicuri oleh Sukab, berakhir dengan pahitnya.

This photo is taken by AllWinner's v3-sdv
Army dock, salah satu tempat paling favorit dan fenomenal untuk menikmati sunset di Morotai. Kamu penasaran ingin lihat sunset dari sini?
IMG_20180724_185151_710
Nah ini foto di army dock, dan sepertinya ini sunset pertama saya di Morotai.

Banyak sekali spot asyik untuk menikmati sunset di Morotai. Ada juga spot cantik dari Pulau Dodola, waktu itu saya juga sempat menyaksikan sunset dari sana. Sayangnya tidak saya abadikan dengan kamera. Salah satu teman saya dari jawa malah sempat bilang sunset di Morotai itu paling cantik.

IMG_20180724_185148_466
The best and the perfect sunset ever from Morotai Island. (location : Pelabuhan feri)
img_20180606_183831_476.jpg
Salah satu foto sunset favorit saya deh ini sepertinya. Sebenarnya ini diambil dalam perjalanan pulang, dan warna langitnya benar-benar cantik hari itu. Meskipun agak blurr yaa..

Menurutmu bagaimana dengan cerita cinta Sukab? apakah menarik? atau menikmati sunset tetap lebih menarik?

bimantara03@woow.com_iOS-6386-3725-5656-7520-7069
Bagaimana kalau yang satu ini jadi penutup? indah yaa, walau tidak dengan langit yang dihiasi cahaya merah dan oranye keemasan milik Sukab. Kalau ini sih diambil dari pelabuhan Daruba, dengan pemandangan pulau kapa-kapa.

catatan : beberapa foto adalah koleksi orang lain, tidak semua saya yang jepret.

Thanks, enjoy your sunset.

Spot Diving Paling Wajib Dikunjungi di Morotai



Sejauh dan selama pengalaman Saya diving di morotai, ada beberapa spot yang menjadi favorit dan menurut Saya pribadi menjadi spot yang wajib dikunjungi. Bristol Beuford Wreck, Aru Point, Blacktip Point, dan Underwater Vulcano menjadi empat spot diving kesukaan Saya. Bukan hanya berdsarkan keindahan coral yang menjadi patokan Saya, tapi masing-masing punya keunikan yang mungkin tidak kamu temukan di tempat lain di Morotai dan sekitarnya.

Sesuai namanya Bristol Beuford Wreck, yang adalah spot diving dimana penyelam bisa melihat bangkai pesawat milik negara sekutu saat terjadinya perang dunia II, pada kedalaman 40 meter di bawah permukaan air. Pada kedalaman itu kita bisa melihat beberapa kendaraan seperti geep dan beberapa pesawat lain yang jaraknya berdekatan. Ternyata pesawat-pesawat ini memang sengaja di tenggelamkan oleh sekutu saat selesainya perang dunia II.

Ada sensasi yang berbeda muncul saat Saya melakukan deep dive, apalagi bonus bisa melihat salah satu peninggalan sejarah dunia yang monumental. Sayangnya kita tidak bisa berlama-lama untuk mengamati peninggalan sejarah ini, karena letaknya yang berada di kedalaman 40 meter membatasi waktu penyelaman dan mengharuskan kita untuk merangkak dan berenang-renang pada tempat yang lebih dangkal.

And also, thats why Saya belum punya foto sebagai bukti dan kenangan bahwa Saya sudah pernah menyelam di Bristol Beuford Wreck hhaaha. Tapi kalian-kalian wajib sih diving disini, masuk must list to do before you guys die.

Aru point, salah satu spot yang entry nya harus jalan atau berenang sekitar 200 atau 300 meter. Buat sebagian orang Saya rasa hal itu pasti melelahkan, tapi terlepas dari itu percayalah tempat ini menyimpan underwater view yang pasti Kamu bakal suka. Dengan kontur dasarnya yang berupa dinding alias wall, menyuguhkan hamparan hard coral, soft coral, and all living things yang sangat ciamik, menarik dengan bentuk dan warna-warnanya yang beragam.

Belum cukup sampai disitu, pada kisaran kedalaman 25 meter Kita juga bisa menemukan karang bolong yang membentuk lubang seperti huruf O. Atau kadang juga Kami menyebutnya dengan OK Point. Kalau belum percaya dengan cerita Saya, mungkin Kamu harus buktikan sendiri.

Dan yang paling terkenal dikalangan tamu-tamu atau diver yang datang ke Morotai, pastinya blacktip point. Yang satu ini adalah spot andalan paling wajib diselami. Para penyelam akan dibawa menyelam menggunakan boat dari pelabuhan Daruba menuju Pulau Mitita, blacktip point. Selanjutnya langsung menyelam pada kedalaman 18-20 meter di bawah permukaan laut.

Disini leader atau guidenya akan mencari perhatian dari balcktip reef shark yang memiliki kisaran panjang tubuh 1-1,9 meter, dengan cara melakukan feeding. Saat feeder memberikan umpan ikan untuk hiu, penyelam lain memposisikan diri berhadapan dengan feeder pada jarak 1-2 meter atau lebih. Saat menyelam dengan hiu Kita harus tenang dan tidak menimbulkan gerakan-grakan berlebihan dan tiba-tiba karena bisa mengagetkan bagi hiu tersebut, apalagi kalau sampai mau mengejar hiunya. Jangan yaa, ga bakalan terkejar juga hehe.

Sedikit informasi seputar feeding shark adalah Kita menggunakan ikan tongkol atau tuna yang sudah dipotong-potong menjadi beberapa bagian sebagai umpan hiu, kadang juga beberapa tambahan insang. Penggunakan ikan ini sesuai dengan jenis makanan yang dikonsumsi oleh hiu secara alami. Selain itu shark feeder juga menggunakan baju besi seperti pakaian perang jaman dahulu, shark armor namanya. Baju besi ini dipakai bukan karena si hiu suka menyerang manusia, tapi lebih kepada standar operasional sebagai bentuk antisipasi mengingat penglihatan hiu yang tidak terlalu baik dan lebih mengandalkan scaning gelombang elektromaknetik pada mangsanya.

Dan satu lagi tempat yang perlu banget dikunjungi adalah Underwater Vulcano. Yang satu ini unik banget menurut Saya. Sebenarnya lokasinya cukup jauh dari Pulau Morotai, memakan waktu cukup lama, dan pengalaman Saya saat menyelam disana sebenarnya kurang memuaskan. Tapi Saya akan tetap merekomendasikan spot ini untuk dikunjungi mengingat karakteristik kontur penyelamannya yang unik dan tidak biasa.

Kontur dasar peraiannya bukan flat, wall atau slope seperti yang sudah-sudah, tapi tentu saja berupa kawah-kawah dengan jarak yang dekat dan kedalaman yang berbeda-beda kisaran 18-25 meter dan beberapa kawah lebih dalam lagi. Ada sensasi yang lucu saat menyelam disana, saat Saya masuk kedalam bibir kawah yang berdiameter kurang lebih 5 meter. Suasana menjadi sedikit gelap dan agak buram. Ada gelembung-gelembung aneh yang keluar dari sebuah retakan di dasar kawah. Terkadang semua tiba-tiba menjadi buram oleh gelombang air panas yang keluar dari kawah, mendorong penyelam kearah permukaan secara tiba-tiba.

Dari kesemuanya itu Saya suka sekali, semoga kalian juga suka dan bisa mencicipinya J

sharkdiving indonesia dive map of morotai revisi januari-Recovered