Jalan-jalan ke Tidore, Yuk

Jadi beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengunjungi Pulau Tidore setelah sebelumnya keliling Pulau ternate, pasti pada tau dong Pulau Tidore. Sebagian besar mungkin mengenal pulau ini lewat pelajaran sejarah, pulau yang terkenal dengan rempah-rempahnya yang diperebutkan oleh negara Portugis dan Spanyol. Berseberangan letaknya dengan Pulau Ternate, dua pulau ini menjadi paling terkenal di Maluku Utara (versi Ainun).

_DSC0587
Pemandangan Pulau Tidore dari pelabuhan Bastiong, Ternate.

Untuk mencapai Pulau Tidore, saya dan teman saya, Lili harus mengunakan transportasi laut dari Ternate. Berangkat dari pelabuhan speedboat di Bastiong, Ternate menuju pelabuhan Rum, Tidore. Ada beberapa pilihan alat transportasi, mulai dari kapal feri, speedboat, dan kapal kayu. Pastinya kalau kapal feri bisa mengangkut penumpang, serta kendaraan bermotor roda dua dan roda empat, speedboat mampu menampung penumpang dan beberapa tas barang bawaan anda, dan satu lagi kapal kayu yang mampu menampung penumpang dan kendaraan roda dua.

_DSC0595
Kendaraan roda dua yang dinaikkan ke atas kapal kayu.

Kalau kapal kayu ini sedikit menarik. Saya dan Lili naik kapal kayu dengan ukuran kurang lebih panjang 8-10 meter. Jadi ini kapalnya sederhana tapi keren, karena dalam satu kapal mampu menampung sekitar 10 kendaraan motor. Dan motor-motor diparkirkan di atas perahu dan diikat, cukup mendebarkan melihat motor-motor ini nangkring diatas perahu yang akan menerjang ombak. Untungnya waktu itu ombak tidak terlalu besar, dan jarak tempuh Ternate – Tidore cukup dekat, hanya memakan waktu sekitar 15 menit, dan juga waktu keberangkatan nya lebih fleksibel. And, finally dengan modal Rp 25.000 kita sudah sampai di Tidore.

By the way sampai di pelabuhan Rum, Tidore kami langsung menurunkan motor, then tancap gas menuju daerah yang namanya Soa sio. Itu nama kota yang jadi pusat tempat tinggal dan kegiatan-kegiatan lain di Tidore. Pulau Tidore dilihat dari ukuran pulaunya lebih besar dari pada Pulau Ternate, tapi dari yang saya lihat penduduknya tidak lebih banyak, dan disana cukup sepi dan hening. Jalanan beraspal mulus, suasana jalanan lenggang, penduduknya saya rasa sebagian besar berkegiatan di dalam rumah waktu saya datang. Kami menuju Soa sio, tempat Kak Tom and the gang, teman dari “wild house” (nanti search aja yaa apa itu wild house di Tidore). Sebentar saja mengganggu ketenangan hidup mereka, karena kami minta diantarkan jalan-jalan. Waktu itu sudah cukup siang alias.. sore, jadi kami pergi sebentar menuju tempat yang letaknya di bukit tinggi, namanya Desa Gurabunga.

Desa yang menawarkan pemandangan yang indah banget sih kalau saya bilang, kota Tidore bisa terlihat dengan jelas dari atas sana. Ada tempat nongkrong untuk menikmati pemandangan kota Tidore langsung ke arah laut, hanya tumpukan bebatuan besar biasa saja, tapi saya yakin kalian pasti suka. Dari sudut-sudut tertentu kita akan merasa seperti berada di atas awan. Diluar dari itu kalian harus tahu sih perjalanan ke tempat ini menanjak tajam sekali. Waktu dibonceng naik motor saya yang pasti hanya bisa berdoa supaya selamat sampai tujuan, kadang pura-pura ajak teman untuk ngobrol dalam rangka mencairkan suasana.

_DSC0656
Pemandangan dari Desa Gurabunga.

Lanjut dari sana kita berencana mampir di “Kedaton”, saya tanya apa itu Kedaton? ternyata, Kedaton adalah Keraton dalam bagaimana masyarakat Tidore menyebutnya. Nah disini juga saya jadi wisata sejarah budaya, mengingat Kesultanan Tidore ini adalah kerajaan islam yang cukup besar yang bahkan wilayah kekuasaannya mencapai tanah papua, di masa kejayaannya. Pada ingattt gaa, hayooo..

Dan kemudian kami pergi mencari oleh-oleh seperti kain tenun, tapi yang jualan sudah tutup sore itu. Agak sedih sih. Meskipun tidak banyak yang saya dan Lili lakukan di Tidore hari itu, tapi banyak yang bisa kami lihat. Yaa.. setidaknya saya sekarang sudah berkenalan dengan Tidore, yang selama ini cuman saya ketahui dari buku sejarah. Alamnya masih asri banget, dan jalan raya di pinggir pantai yang berkelok-kelok itu menyebalkan. Karena saya harus menahan diri saat melihat air laut yang super jernih, bersih, dan ditambah pemandangan bocah-bocah kecil yang asyik mandi di pantai, segeerrr banget sepertinya. “Batobo” istilahnya, mandi-mandi di pinggir pantai.

_DSC0614
Pemandangan dari benteng Tahula.
_DSC0632
Masih dari benteng Tahula, kenalan sama teman saya, Lili namanya.

Ohiyaa kami juga sempat mampir ke salah satu benteng yang ada di Tidore, saya lupa nama bentengnya. Kalau tidak salah nih namanya, Benteng Tahula. Letaknya di pinggir jalan, dan harus menaiki anak tangga yang cukup curam dan banyak jumlahnya sebelum bisa sampai di bagian atas dan melihat bentengnya. Mereka biasa menyebutnya benteng “seribu tangga” kurasa.. atau tangga seribu yaa. Tapi sih sebenarnya tidak sampai seribu, beberapa puluh saja jumlah anak tangganya, kata teman saya bisa jadi seribu kalau dilewatin berulang kali naik turun. Okeee baik.

Dalam perjalanan pulang saya dan Lili seperti menyongsong matahari, mengejar perahu untuk menyeberang kembali ke Ternate, berpisah dengan Kak Tom and friend yang sudah berbaik hati mengantarkan dua perempuan lucu ini dan menunjukkan secuil dari keindahan dan kemakmuran tanah Tidore. I hope i could come to Tidore again and again. Say Aamiin please ahahaa.. you should go to Tidore guys, terimakasih para pemirsa yang berbahagia.

Morotai – Ternate (lewat jalur laut)

By the way saya akan mulai untuk ceritain perjalanan saya ke Ternate dan Tidore. Dua pulau dengan awalan huruf “T” yang paling sering kita temui dalam pelajaran sejarah. Tapi mungkin disini cerita tentang Ternate dulu yaa. Bertolak dari Pulau Morotai menuju Pulau Ternate menggunakan jalur laut, KM. Geovani waktu itu yang saya tumpangi. Kapal berangkat jam 9 malam waktu setempat dan sampai di tujuan jam 8 pagi keesokan harinya, dengan harga tiket Rp 160.000. Penuh dan sesak sekali malam itu, mungkin karena minggu terakhir sebelum libur lebaran.

Satu hal yang disayangkan karena waktu itu saya beli tiket terlalu siang, alhasil tiket sudah dalam genggaman tangan tapi tanpa nomor ranjang. Dan jadilah saya ndelosor-ndelosor di kursi, atau di kasur-kasur tipis di lorong lambung kapal. Apesnya, kasurnya sedikit robek yang ternyata di lorong itu ada aliran air buangan AC, heyy nice. Dengan rentan waktu perjalanan yang cukup lama, dengan angin laut yang dingin mendayu-dayu. Tapi waktu itu dingin jadi tidak terasa, karena kursi-kursi yang saya dan orang-orang kebanyakan duduki berada persis diatas mesin AC. Kami jadi dapat efek-efek dipijat dari mesin penghangat, setidaknya angin laut di malam hari menjadi tidak sedingin kenyataannya.

Sebenarnya waktu mau beli tiket sempat dapat saran dari Mulis dan Nengkes supaya melintas saja (melintas mean : Morotai-Tobelo-Sofifi-Ternate via jalur darat), tapi apalah arti lautan ini kalau belum pernah saya sebrangi. Ahelahh apa coba, ndak ada apa-apa padahal. Berlandaskan asas keingin tahuan dan rasa penasaran naik kapal Morotai-Ternate, dan kekangenan untuk tertiup-tiup angin laut di atas kapal akhirnya saya putuskan naik kapal. And you know next? Ternyata saya ada teman, om Amat juga mau naik kapal malam itu, dan sebenarnya dari situlah bagaimana saya bisa tidur di atas kasur saat sedang dalam perjalanan. Karena saya nebeng kasur hehee. Dan ketemu beberapa teman lain juga yang mau mudik.

Next dan langsung menuju Ternate, saya di jemput sodaranya teman, yang karena teman saya sedang sakit. My poor friend. Eitss masih ada teman lain kok yang sehat. Lili namanya, saya tinggal di kamar kos dia dan diajak jalan-jalan. Kita sempat jalan ke benteng-benteng yang ada di Ternate, karena memang disana wisata sejarahnya cukup menarik dan total ada empat benteng mengitari pulau ini. Benteng yang paling dekat adalah Benteng Kalamata, cantik banget, dari sini kita bisa langsung melihat ke arah Pulau Tidore, dan Pulau Maitara. Cantik sekali.

_DSC0578
Sejumput wajah dari Benteng Kalamata, dan ada simbahnya sebagai model. Itu di seberang nampak wajah Pulau Tidore.
_DSC0581
Kalau ada yang iseng-iseng pingin baca.

Selain itu ada Benteng Oranje di tengah-tengah kota, Benteng Tolukko yang letaknya seakan-akan di ujung tebing dan ternyata kecil banget tapi menawarkan pemandangan yang indah banget. Sayangnya waktu itu yang jaga benteng sedang pergi jadi saya tidak sempat masuk dan berfoto, padahal ini spot paling favorit orang-orang yang berkunjung. Satu lagi Benteng Kastela dan saya lupa persis letaknya ada di sebelah mana. Tapi saya rasa wisata benteng sudah cukup yaa.

Sore hari saya dan Lili kembali keluar dari kamar kos dan tancap gas menuju Danau Tolire, danau cantik di sisi lain Pulau Ternate. Terkenal sekali dengan kemampuan danau ini untuk menolak batu-batu yang dilemparkan pengunjung ke arah permukaan danau. Hahaha sebenarnya mungkin bukan menolak batu, tapi memang batu-batu yang dilemparkan sama orang-orang sudah jatuh lebih dulu di semak belukar sebelum menyentuh permukaan danau yang memang jaraknya cukup jauh. Mungkin kita harus mencoba melemparnya pakai ketapel?

Selain itu juga terkenal lohh karena ada buaya putih hidup di dalam sana, yaa posisi geografis danau yang beberapa ratus meter di bawah tempat pengunjung berdiri memang membuat kita takut-takut untuk mengintip ke dalamnya. Saya dan Lili salah satunya, penasaran ingin melihat si buaya putih dan kami menunggu beberapa saat. Memperhatikan gerak-gerik atau jejak-jejak getaran yang menggerakkan permukaan air. Waktu itu kami sempat mengamati ada pergerakan di permukaan air yang pergerakannya cukup besar (karena bisa dilihat dari tempat kami, jadi pastilah cukup besar), dan ada semacam bayangan memanjang mengikuti permukaan air yang bergerak itu. Kami sih berspekulasi itu mungkin adalah si buaya putih yang lagi asik kami perbincangkan.

Hehehe asiknyaa main tebak-tebakan. But, then kita melanjutkan perjalanan pulang dengan jalur yang berbeda. Mengitari pulau, kecil saja Pulau Ternate ini. Cukuplah untuk dikelilingi dalam waktu 1 sampai 1 setengah jam menggunakan kendaraan bermotor, kalau dengan berlari saya belum tahu tuh butuh waktu berapa lama. Tapi mungkin boleh dicoba, ada yang mau temani? Dan sore itu menjadi penutup hari, kami kembali dan mencari sepenggal jajanan untuk teman buka puasa.

Take Your Time to Ternate

Hello, here i tried to make one english version about my story in Ternate.. yeaa, since i noticed that some of you guys looked interested enought whit my blog about Ternate. Soooo, here we go !

One of my documentation fo Kalamata Fortress.

I went to Ternate by ship from Morotai Island on early June, 2018. I stayed in my friend room, for just about 3 days and 2 night before i going back to Semarang, central java. But if you search for homestay or any hotels you can find it easily. Ternate is a little busy city than Morotai and Tidore.

What you can do while you stay in Ternate? you can do a lot of things guys. You can go for diving, culinery, you can go to Tolire lake, or do you interesting with the history of Ternate and Portugis? you can check some place like Kalamata fortress, Tolukko, and Oranje fortress/castle. From Kalamata fortress you can see Tidore and Maitara island, you would like it. Tolukko fortress also nice to be on your list destination, it’s in east of Ternate island, just a little fortress but the landscape, you would like it. All of this fortress are located in the beach and far from the city, but Oranje fortress is located in the middle of the city. It’s a big fortress, you can came and check.

Okee. If you like an adventure or searching for landscape destination you ca go to Tolire Lake. Yeah i know it’s just a lake, but you should come and see. They are contained big and a little Tolire Lake. Another thing i would like to suggest you are going for scuba diving or freediving, whitch one you like the most or both. You can go to Jikomalamo Beach, orrrr you can contact my friends in Laconna Diving Club. Lots of my friends diving there, they are good people. Oh yaa, also if you like to diving in Morotai Island, you should go with Shark Diving Indonesia. You must be like ittt.

Sooo, this is it. If you need any information, i would like and happy to help you. Love.